Senja di Atas Atap - Bagian Pertama

Kulihat jam di tanganku. Jarumnya tepat menunjuk ke angka 07.30 WIB. Sudah kurang lebih 36 jam aku terjaga tanpa sedetik pun memejamkan mata. Malam ini IGD benar-benar bencana. Tiga kecelakaan kendaraan bermotor, lima kasus yang membutuhkan operasi, serta beberapa kasus demam berdarah yang sedang marak akhir-akhir ini, membuatku mau tidak mau harus terus membuka mata. Dua gelas besar kopi hitam yang kuminum tidak juga mampu untuk menghalangi kantukku. Yang terjadi malah sebaliknya, perutku menjadi sakit akibat asam lambung yang meningkat. Sungguh malam yang berat.

Untuk saat ini, keinginanku hanyalah sederhana. Pulang ke kamar kostku untuk mandi air hangat, setelah itu menuju kekasur empuk dengan bantal untuk teman tidurku. Ah, membayangkannya saja membuatku ingin cepat-cepat pulang.

“Sudah mau pulang?”, tiba-tiba kurasakan sentuhan ringan di bahu kiriku. Kutengokkan kepalaku menuju sumber suara. Kudapati dr Anita berdiri di sampingku, wajahnya terlihat kacau karena, sama sepertiku, ia belum tidur sejak 36 jam yang lalu.
“Begitulah Mbak. Badanku rasanya mau rontok dan aku sudah mulai mendengar suara kasurku memanggil untuk ditiduri.”, balasku dengan sedikit bercanda. “Mbak Anita sendiri bagaimana? Langsung pulang atau ingin mencari sarapan terlebih dahulu?”

Ia diam sejenak. Tangan kanannya sibuk mengelus-elus dagunya yang halus. Memberikan kesan bahwa ia berpikir keras mempertimbangkan jawaban yang akan diberikan.

“Bagaimana kalau kita pergi mencari sarapan di sekitar Rumah Sakit? Biar aku yang traktir.”, ia balas pertanyaanku dengan pertanyaan lainnya.

Aku sedikit terkejut mendengar ajakan dari Mbak Anita. Sebenarnya aku lebih memilih untuk langsung pulang kekamar kost dan tidur di atas kasur kesayanganku. Namun, aku tahu kalau aku tidak akan bisa menolak ajakan perempuan keras kepala yang satu ini. Pernah sekali aku menolak ajakannya. Reaksinya diam saja. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, hanya tangannya sibuk menarik tanganku. Menuntun kearah yang ia tuju. Sepertinya kali ini aku harus menyerah lagi.

‘Hah’, aku menghela nafas dalam hati.

“Ide yang bagus. Kalau begitu aku mau mandi dulu dan mengambil barang-barangku di kamar jaga. 30 menit lagi kita bertemu di depan gerbang timur.”

“Oke, 30 menit lagi di gerbang timur.”

Sesudah mengatakan itu, ia langsung bergegas melangkahkan kaki menuju kamar jaga perempuan. Akupun melakukan hal yang sama, namun dengan tujuan yang berbeda.

***

Kulihat jalanan ramai oleh kendaraan bermotor, baik roda empat maupun roda dua. Mereka sibuk saling mendahului. Beradu cepat untuk mencapai tujuan masing-masing. Di trotoar jalan kulihat banyak orang lalu lalang. Ekspresi yang mereka tunjukkan beragam, ada yang senang, ada yang sedih, tapi kebanyakan yang kulihat adalah wajah kelelahan karena akan berangkat menuju tempat kerja. Aneh.

“Kau ingin makan apa?”, tanya Mbak Anita yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku. Harum parfum bercampur dengan aroma sampo yang digunakan Mbak Anita menggelitik hidungku. Rambut hitam panjangnya sengaja ia urai karena masih sedikit basah. Bibir merahnya merekah indah, membuat mulutku hampir bisu tak bisa berkata-kata.

“Hmm…bubur ayam terlalu standar, nasi uduk terlalu berat untuk makan pagi. Hmm…Bagaimana dengan ketan bakar? Kemarin Mas Nanang membawakan untuk kita semua, namun aku tidak kebagian karena sibuk mengurus pasien yang sedang kejang.” saranku kepada Mbak Anita.

“Boleh juga, kebetulan aku juga tidak kebagian. Tapi apa kau tahu tempatnya?”

“Mas Nanang bilang tempatnya di perempatan lampu merah sebelah pom bensin. Kurang lebih sepuluh menit berjalan kaki dari sini atau mungkin Mbak Anita ingin naik motor. Kalau begitu aku akan ambil motorku terlebih dahulu.”

Belum sempat aku melangkah ke arah parkiran motor, langkahku dicegah olehnya.

“Tidak perlu. Kita berjalan kaki saja. Aku sedang ingin menggerakan tubuhku. Hitung-hitung olahraga pagi.”, katanya sambil tersenyum. Oh, senyum itu lagi. Cepat-cepat kualihkan pandanganku. Takut terjerat oleh senyuman indahnya.

Diperjalanan, kami bercerita tentang pasien semalam yang jumlahnya sangat banyak. Kami saling memberikan masukan dalam menangani pasien serta bagaimana mendiagnosis penyakit yang mereka derita. Sebagai senior tentu Mbak Anita lebih banyak memberikan masukan untukku yang baru beberapa bulan saja lulus menjadi dokter.

“Sepertinya itu tempat jualan ketan bakarnya.”, kata Mbak Anita sambil tangannya menunjuk ke arah tenda sederhana yang bertuliskan ‘Ketan Bakar Pak Ujo’.

Belum sampai ditempat tenda, bau harum ketan yang sedang dibakar dengan arang tercium oleh hidung kami. Seketika itu juga perutku keroncongan, meminta untuk diisi. Mbak Anita hanya senyum-senyum saja mendengar suara perutku yang berdemo menagih untuk segera diisi.

“Selamat datang”, wajah ramah seorang laki-laki tua menyambut kedatangan kami. Ia persilahkan kami duduk dan bertanya apa pesanan yang kami minta.

“Untuk saya, dua ketan bakar campur serundeng dan sambal oncom. Minumnya teh tawar hangat.”

“Saya samakan dengan dia, Pak.”

Setelah menerima pesanan dari kami berdua, bapak itu segera bergegas kearah panggulannya. Dengan cekatan, tangannya menyiapkan pesanan yang kami minta. Dalam waktu kurang dari lima menit saja, dua piring ketan bakar dengan serundeng dan sambal oncom sudah tersaji di depan mata. Aroma yang dihasilkan dari ketan bakar panas bercampur dengan serundeng dan sambal oncom menggelitik hidungku. Kulihat mata Mbak Anita berbinar melihat makanan yang tersaji di depannya. Tanpa pikir panjang, kami lahap pesanan yang kami minta.

“Kau sudah menonton film District 9?”, tanya Mbak Anita kepadaku.

Aku tidak langsung menjawab. Tanganku tetap sibuk dengan ketan bakar yang ada di depanku. Sedangkan otakku berusaha untuk mencari jawaban apa yang tepat untuk diberikan.

Sebenarnya aku sudah tahu kalau Mbak Anita menaruh perasaan untukku. Pertanyaannya tentang film ini merupakan sebuah awalan untuknya mengajakku keluar.
Tidak ada yang salah dengan perasaan Mbak Anita kepadaku. Dari segi penampilan pun Mbak Anita sangat cantik. Banyak staf rumah sakit ada yang berusaha untuk mendekatinya. Contohnya dr Anwar spesialis jantung yang sudah beristri dua, ia sudah berkali-kali menyatakan cintanya untuk Mbak Anita, namun tentu saja ia tolak. Dan lagi, diumurnya yang muda, yaitu 29 tahun, ia sudah mendapatkan gelar spesialis kedokteran emergensi dan dipercaya untuk menjadi kepala IGD, yang tentu saja dengan tanggung jawab dan tekanan yang besar.

“Lintang, hei, hei…”
Kudengar Mbak Anita memanggil-manggil namaku.

‘Gawat, aku terlalu banyak melamun.’

“Ah...aku belum pernah menonton film itu. Kalau tidak salah, bukannya District 9 itu film tentang alien?”, kujawab sejujurnya.

“Aku juga kurang begitu tahu karena belum menonton. Tapi kata beberapa temanku yang sudah menontonnya, fim itu sangat seru. Kalau kau ada waktu, mau tidak malam minggu ini kita pergi kebioskop untuk melihat film itu bersama-sama?”

Pikiranku berputar mencari alasan untuk menolak, tapi yang kutemukan hanyalah kebuntuan. Aku hanya bisa terdiam karena kehabisan alasan. Ketan bakar di depanku masih sisa setengah dan teh tawar hangat yang kupesan sudah mulai menjadi dingin.

‘Hah, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang ke kamar kostku untuk tidur.’

Aku hanya bisa berdoa dalam hati saja.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

ini pertama kali saya baca karya kamu jadi maaf ya jika ada kesalahan komentar, hehe. Berhubung ilmu saya masih cetek jadi bisanya komen yang dasar-dasar. Ke dan di diikuti'tempat' harusnya dipisah dan saya lihat ada beberapa yang masih digabung untuk cerita sederhana, ringan namun terasa sehingga enak dibaca dan tiba-tiba saja ceritanya sudah habis dan harus menunggu part selanjutnya. Hanya saja karena saya tidak tahu prosedur di rumah sakit, apakah memang ada waktu jaga hingga 36 jam non-stop? apakah memang diperbolehkan? (ini saya karena memang tidak tahu)

Writer liandydy
liandydy at Senja di Atas Atap - Bagian Pertama (28 weeks 15 hours ago)
80

Ceritanya bagus :)
sedikit masukan EYD-nya sedikit harus diperhatikan kembali. Seperti penggunaan tanda koma setelah kata karena (kurang tepat), penggunaan huruf kapital pada kata "rumah sakit" yang tidak diikuti nama rumah sakitnya, penggunaan kata depan "ke" pada paragraf 6 "ke kamar" lebih teliti lagi. Namun, secara keseluruhan ceritanya bagus, alurnya mengalir, dan bahasanya ringan untuk dipahami. Terus semangat menulis ya :)

Writer duduk
duduk at Senja di Atas Atap - Bagian Pertama (22 weeks 3 days ago)

Salam kenal.
terima kasih atas masukannya. jangan ragu kalau saya ada salah untuk dikoreksi.

80

Waww ini cerita yang nggak berat, cocok di saat saya sudah suntuk karena persiapan un (doakan saia warganet sekalian #promosi)

Nggak banyak kata-kata sulitnya, mengalir begitu saja, dan waktu saya baca sampai endingnya baru sadar kalau ini cerbung lah padahal lagi enjoy banget bacanya. Tapi gapapa semakin penasaran nanti kalo lanjutannya keluar pasti berasa makin seru hehe.

Anyway (halah sok-sokan pake bahasa inggris abis ngerjain lat un ingg =p) kalau saya nggak salah penggunaan kata depan itu dipisah kan? Ehmm.. Tolong betulkan kalau saya salah tp setahu saya yang ini:

'Setelah menerima pesanan dari kami berdua, bapak itu segera bergegas kearah panggulannya.'

dan ini:

'Dan lagi, diumurnya yang muda,'

Untuk 'kearah' harusnya 'ke arah' dan 'diumurnya' seharusnya 'di umurnya'?

Yah itu secara teknis doang sih yang penting ceritanya bagus ya kan ya? Ehe

Writer duduk
duduk at Senja di Atas Atap - Bagian Pertama (22 weeks 3 days ago)

Salam kenal.
terima kasih atas masukannya...
Saya masih belajar sedikit-sedikit. hehehe.

60

duh, Mbak Anita peka dikit dongg huhuu :")