Karunia Terbesar

Kota kecil di lereng bukit itu terang oleh warna-warni lampu Natal. Namun George Pratt tidak tengah melihatnya. Ia sedang membungkuk di atas pagar besi sebuah jembatan, termenung menatap permukaan air yang gelap. Arusnya deras dan berpusar seperti kaca cair, dan terkadang potongan-potongan es dari tepi pantai tampak mengalir terbawa arus, sebelum tertelan ke dalam bayangan jembatan.

Airnya tampak luar biasa dingin. George ingin tahu berapa lama seseorang dapat bertahan hidup di dalamnya. Permukaan yang gelap dan berkilat itu memberi efek hipnotik yang aneh padanya. Ia membungkuk semakin maju di atas pagar ...

“Saya tidak akan melakukannya kalau jadi kamu,” kata suara pelan di sebelahnya.

George berpaling marah pada lelaki pendek yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia agak gemuk, hampir lewat pertengahan usia, dan pipinya yang bulat menyala pink seolah baru dicukur sebelum terekspos udara dingin.

“Tidak akan melakukan apa?” tanya George muram.

“Apa yang ada dalam pikiranmu.”

“Bagaimana kau tahu apa yang aku pikirkan?”

“Ah, memang pekerjaan kami untuk tahu banyak hal,” kata orang asing itu segera.

George ingin tahu apa pekerjaan lelaki itu. Ia lelaki kecil pendek yang biasa saja, jenis yang akan kau lewati di kerumunan yang ramai dan tidak akan sadari keberadaannya. Itu sebelum kau melihat matanya yang biru terang. Kau tidak akan pernah dapat melupakannya, karena matanya memiliki tatapan tajam paling penuh kasih yang pernah kau lihat. Tidak ada atribut lain pada lelaki itu yang menarik. Ia mengenakan topi bulu tua yang usang termakan ngengat dan mantel yang tertarik ketat pada perutnya yang buncit. Ia membawa sebuah tas kain hitam. Bukan tas dokter—terlalu besar dan bentuknya berbeda. Itu adalah tas sampel salesman, pikir George dengan ketidaksukaan yang kentara. Lelaki itu mungkin tukang jualan, tipe yang akan mengendus-ngenduskan hidungnya yang tajam pada urusan orang lain.

“Sepertinya akan turun salju, ya?” kata orang asing itu, menatap menilai pada langit yang mendung. “Akan baik bila kita mendapat Natal putih. Semakin langka saja akhir-akhir ini—tetapi begitu pula hal-hal lain.”

Ia berpaling, langsung menghadap George.

“Kamu sudah tidak apa?”

“Tentu saja aku tidak apa-apa. Kenapa kau berpikir sebaliknya? Aku—“

George diam di bawah tatapan hening lelaki asing itu. Lelaki itu menggelengkan kepalanya.

“Kamu tidak boleh memikirkan hal semacam ini—apalagi pada malam Natal! Kamu harus memikirkan Mary—dan ibumu juga.”

George membuka mulut untuk bertanya bagaimana orang asing ini bisa tahu nama istrinya, tetapi lelaki itu mendahuluinya. “Jangan tanya bagaimana saya tahu. Ini memang pekerjaan saya. Karena itulah saya datang kemari malam ini. Dan untung saya melakukannya.” Ia menatap permukaan air yang gelap dan menggigil.

“Nah, kalau kau tahu banyak soal aku,” kata George, “beri aku satu alasan bagus kenapa aku masih hidup.”

Lelaki pendek itu tergelak dengan suara yang aneh. “Nah, nah, hidupmu tidak mungkin seburuk itu. Kamu bekerja di bank. Punya Mary dan anak-anak. Kamu sehat, masih muda, dan—“

“Dan muak akan segalanya!” seru George. “Aku terjebak di tempat busuk ini seumur hidup, mengerjakan pekerjaan membosankan setiap hari. Orang-orang lain menjalani hidup yang seru, tetapi aku—yah, aku hanya karyawan bank kecil yang bahkan tidak dibutuhkan tentara. Aku tidak pernah melakukan apapun yang berguna atau menarik, dan tampaknya tidak akan pernah. Mungkin lebih baik aku mati. Kadang aku ingin itu yang terjadi. Malah, aku ingin agar aku tidak pernah lahir!”

Lelaki pendek itu berdiri menatapnya dalam keremangan yang semakin bertambah.

“Apa yang tadi kamu katakan?” tanyanya perlahan.

“Aku bilang aku ingin agar aku tidak pernah lahir,” ulang George jelas, “Dan aku sungguh-sungguh.”

Pipi pink orang asing itu menyala oleh kegembiraan. “Nah, itu bagus sekali! Kamu mempermudah segalanya. Kamu harap kamu tidak pernah lahir. Baiklah! Oke! Terkabul!”

“Apa maksudmu?” geram George.

“Kamu tidak pernah lahir. Begitulah. Kamu tidak pernah lahir. Tidak ada seorangpun di sini yang mengenalmu. Kamu tidak punya tanggung jawab—tidak ada pekerjaan—tidak ada istri—tidak ada anak. Bahkan, kamu tidak punya ibu. Yah, tentu saja tidak mungkin punya.  Seluruh masalahmu sudah selesai. Keinginanmu, dengan senang hati saya umumkan, telah terkabul—secara resmi.”

“Sinting!” dengus George, lalu berbalik.

Lelaki asing itu mengejarnya dan merenggut lengannya.

“Sebaiknya bawa ini,” katanya, mengulurkan tasnya. “Untuk membuka banyak pintu yang mungkin tidak akan menerimamu.”

“Pintu apa yang tidak menerima siapa?” sembur George. “Aku kenal semua orang di kota ini. Dan lagipula, aku ingin lihat seseorang membanting pintu di depan hidungku.”

“Ya, saya tahu,” kata si lelaki pendek itu dengan sabar. “Tetapi bawa saja. Tidak akan merepotkan dan mungkin akan membantu.” Ia membuka tas itu dan menunjuk pada barisan sikat-sikat.

“Kamu akan terkejut betapa bergunanya sikat-sikat ini sebagai alat perkenalan—terutama kalau gratis. Ini, maksud saya.” Ia mengeluarkan sebuah sikat rambut kecil sederhana. “Biar saya ajarkan bagaimana cara menggunakannya.” ia mendorong tas itu pada tangan George yang ragu  dan berkata: “Ketika sang wanita rumah membuka pintu, beri dia ini dan berbicaralah dengan cepat. Katakan: ‘Selamat sore, Bu. Saya dari Perusahaan Pembersih Dunia, dan saya ingin mempersembahkan pada anda sikat yang cantik dan berguna ini secara gratis—tanpa syarat.’ Setelah itu, pasti, sisanya gampang. Sekarang, cobalah.” Ia memaksakan sikat itu ke dalam tangan George.

George langsung menjatuhkan sikat itu ke atas tas dan segera berjuang menangkapnya, sebelum akhirnya berhasil menggenggamnya dengan marah. “Nih,” katanya, dan kemudian terhenti mendadak, karena di hadapannya tidak ada seorangpun.

Orang asing pendek itu pasti telah menyusup ke dalam sesemakan yang tumbuh di sepanjang tepi sungai, pikir George. Ia jelas tidak akan main sembunyi-sembunyian dengannya. Sudah hampir gelap dan semakin dingin saja. Ia menggigil dan menaikkan kerah mantelnya.

Lampu-lampu jalanan sudah dinyalakan, dan lilin-lilin Natal tampak menyala di balik jendela-jendela. Kota kecil itu tampak ceria. Benar, tempat di mana kamu tumbuh besar adalah satu-satunya tempat di bumi di mana kamu bisa merasa benar-benar ada di rumah. George mendadak merasakan perasaan sayang, bahkan pada si tua bangka Hank Biddle, yang rumahnya baru saja ia lewati. Ia teringat pada pertengkaran mereka, di mana mobil yang ia kendarai mengoyak lapisan kulit pohon mapel Hank yang besar. George mendongak menatap ranting-ranting tak berdaun yang menjulang di atas kepalanya dalam gelap. Pohon itu pasti sudah ada di sana sejak masa para Indian. Ia mendadak merasakan setitik rasa bersalah untuk kelalaiannya. Ia tidak pernah berhenti untuk memeriksa kerusakan pada pohon itu, karena ia takut Hank akan menangkapnya hanya karena ia menatap pohon itu. Sekarang ia melangkah nekat ke setapak di halaman untuk memeriksa batang pohon besar tersebut.

Hank pasti telah memperbaiki cacat itu atau mencatnya ulang, karena tidak ada bekas apapun. George menyalakan sebuah korek dan membungkuk untuk memeriksa lebih dekat. Ia menegakkan badan dengan perasaan janggal yang tidak nyaman dalam perutnya. Tidak ada bekas apapun. Permukaan pohon itu mulus dan tidak rusak.

Ia teringat pada apa yang si lelaki pendek di jembatan katakan. Omong kosong, tentu saja, namun ketiadaan bekas goresan itu menguatirkannya.

Ketika mencapai bank, ia melihat sesuatu yang janggal. Bangunan itu gelap, dan ia ingat ia sudah menyalakan lampu ruang brankas. Juga, ia menyadari seseorang telah membiarkan tirai jendela tetap terbuka. Ia berlari ke depan bangunan. Ada papan kusam terpaku pada pintu. George membacanya dengan susah payah:

DISEWAKAN ATAU DIJUAL

Hubungi JAMES SILVA

Real Estate

Mungkin kerjaan anak nakal, batinnya panik. Kemudian ia melihat setumpuk dedaunan kering dan kertas koran lusuh di pintu masuk bank yang biasanya bersih tanpa noda. Dan jendela-jendelanya tampak seolah belum pernah dibersihkan selama beberapa tahun lamanya. Masih ada lampu menyala di seberang jalan, di kantor Jim Silva. George berlari dan menjeblak pintunya terbuka.

Jim mendongak dari jurnalnya, terkejut. “Ada yang dapat saya bantu?” tanyanya dengan nada sopan yang ia simpan untuk pelanggan potensial.

“Banknya,” kata George, terengah-engah. “Apa yang terjadi?”

“Bangunan bekas bank itu?” Jim Silva berbalik dan menatap keluar jendela. “Saya tidak melihat ada yang salah. Berniat untuk menyewa atau membelinya?”

“Maksudmu—sudah bangkrut?”

“Sudah sepuluh tahun lamanya. Jatuh habis. Kamu bukan dari daerah sini, ya?”

George menempelkan diri pada dinding. “Aku belum lama pernah di sini,” katanya lemah. “Saat itu banknya masih buka. Aku bahkan kenal beberapa orang yang bekerja di sana.”

“Kamu kenal orang bernama Marty Jenkins, kalau begitu?”

“Marty Jenkins! Wah, dia—“ George hendak mengatakan bahwa Marty tidak bekerja di bank itu—tidak mungkin malah, karena dulu, begitu lulus, mereka berdua bersama melamar di bank tersebut dan George-lah yang diterima. Tetapi, tentu saja sekarang segalanya sudah berubah. Ia harus lebih berhati-hati. “Tidak, aku tidak kenal dia,” katanya perlahan. “Bukannya tidak tahu. Aku pernah mendengar tentangnya.”

“Kalau begitu mungkin kamu tahu bagaimana dia melarikan uang sebesar lima puluh ribu dolar. Karena itulah banknya bangkrut. Dan kemudian menghancurkan hidup semua orang di tempat ini.” Silva menatapnya tajam. “Saya tadi berharap kamu mungkin tahu dia di mana. Saya sendiri kehilangan banyak akibat kejadian itu. Kami ingin segera menemukan dan menangkap Marty Jenkins.”

“Bukannya dia punya kakak? Kalau tidak salah dia punya kakak laki-laki bernama Arthur.”

“Art? Oh, benar. Tetapi dia tidak terlibat. Dia tidak tahu ke mana adiknya pergi. Dia sendiri ikut jadi korban. Lalu mulai minum-minum. Benar-benar sayang—dan kasihan istrinya. Perempuan yang baik, padahal.”

George kembali merasakan gejolak pada perutnya. “Siapa yang dia nikahi?” tanyanya parau. Ia dan Art pernah sama-sama mengejar Mary.

“Perempuan bernama Mary Thatcher,” kata Silva riang. “Ia tinggal di atas bukit tepat di sebelah gereja— Hei! Mau ke mana?”

Namun George telah berlari keluar kantor tersebut. Ia melewati bangunan bank yang kosong dan berbelok untuk menanjak bukit. Sesaat, ia berniat untuk langsung mendatangi Mary. Rumah di sebelah gereja itu adalah pemberian ayah Mary sebagai hadiah pernikahan mereka, dan sudah pasti Art Jenkins akan mendapatkannya bila ialah yang menikahi Mary. George ingin tahu apa mereka punya anak. Lalu ia sadar kalau ia tidak dapat menemui Mary—setidaknya belum. Ia memilih untuk menemui orang tuanya dulu dan mencari tahu tentang Mary.

Ada lilin menyala di balik jendela rumah yang tampak berumur oleh cuaca tersebut, dan jalinan ranting Natal tergantung pada panel kaca pintu depan. George menaikkan palang pintu gerbang dengan suara klik kencang. Sesosok gelap di atas beranda terlonjak berdiri dan mulai menggeram. Kemudian makhluk itu melompat menuruni tangga, menyalak galak.

“Brownie!” seru George. “Brownie, anjing tua bodoh, hentikan! Kau lupa siapa aku?” Namun anjing itu melangkah maju mengancam dan George kembali ke belakang gerbang. Lampu beranda menyala, dan ayah George melangkah keluar untuk memanggil anjing itu. Salakannya mereda menjadi geraman marah.

Ayahnya memegang tali leher anjing itu sementara George melewatinya dengan berhati-hati. Ia dapat melihat ayahnya tidak mengenalinya.

“Apa istri anda ada di rumah?” tanyanya.

Ayahnya melambai pada pintu. “Masuklah,” katanya ramah. “Saya rantai dulu anjing ini. Dia galak pada orang asing.”

Ibunya, yang sudah menunggu di lorong, jelas-jelas tidak mengenalinya. George membuka tas sampelnya dan mengambil sikat pertama yang tersentuh tangannya. “Selamat malam, Bu,” katanya sopan. “Saya dari Perusahaan Pembersih Dunia. Kami membagikan sikat sampel gratis. Saya pikir anda mungkin ingin punya satu. Tidak perlu membayar. Tidak perlu membayar sama sekali ...” Suaranya melemah.

Ibunya tersenyum menanggap kecanggungannya. “Kurasa kamu sebenarnya memang ingin menjual sesuatu. Saya tidak yakin saya perlu sikat.”

“Tidak, Bu. Saya tidak menjual apa-apa,” ia meyakinkannya. “Salesman yang biasa akan tiba di sini beberapa hari lagi. Ini hanya—ah, hanya hadiah Natal dari perusahaan.”

“Baiknya,” katanya. “Kalian tidak pernah membagikan sikat sebagus ini sebelumnya.”

“Ini tawaran spesial,” katanya. Ayahnya masuk ke dalam lorong dan menutup pintu.

“Apa anda mau masuk dan duduk sebentar?” kata ibunya. “Anda pasti capek berjalan lama.”

“Terima kasih banyak, Bu. Kalau begitu izinkan saya.” Ia masuk ke dalam ruang tamu kecil itu dan menaruh tasnya ke atas lantai. Tempat itu tampak agak berbeda, walau ia tidak tahu sebabnya.

“Dulu saya kenal baik kota ini,” katanya, memulai percakapan. “Kenal beberapa penduduk kota ini. Saya ingat seorang gadis bernama Mary Thatcher. Saya dengar ia menikah dengan Art Jenkins. Anda pasti kenal dengan mereka.”

“Tentu saja,” kata ibunya. “Kami kenal Mary dengan baik.”

“Mereka punya anak?” tanyanya santai.

“Dua—lelaki dan perempuan.”

George mendesah perlahan.

“Aduh, pasti anda benar-benar capek,” kata ibunya. “Mungkin saya bawakan teh saja untuk anda.”

“Tidak, tidak perlu Bu, sebentar lagi saya makan malam.” Ia menatap sekitar ruang tamu itu, mencoba mencari tahu kenapa tempat itu tampak berbeda. Pada rak di atas perapian tergantung sebuah foto berbingkai yang diambil pada ulang tahun keenam belas adiknya. Ia ingat dulu mereka pergi ke studio Potter untuk mengambil foto keluarga. Ada sesuatu yang janggal pada gambar itu. Pada gambar itu hanya tampak satu orang—Harry.

“Itu anak anda?” tanyanya.

Wajah ibunya menjadi muram. Ia mengangguk tetapi tidak mengatakan apapun.

“Saya rasa saya pernah bertemu dengannya juga,” kata George, ragu. “Namanya Harry, bukan?”

Ibunya berpaling, terdengar suara tersedak yang aneh di lehernya. Suaminya menaruh tangannya dengan canggung pada bahunya. Suaranya, yang selalu tenang dan sabar, mendadak menjadi kasar. “Kau tidak mungkin bertemu dengannya,” katanya. “Dia sudah lama tidak ada. Tenggelam pada hari foto itu diambil.”

Ingatan George kembali pada Agustus jauh lalu, pada tengah hari di mana ia dan Harry mengunjungi Studio Potter. Dalam perjalanan pulang ke rumah, mereka pergi berenang. Harry terserang kram, ia ingat. Ia menariknya keluar dari air dan tidak pernah repot mengingatnya lagi. Tetapi bila ia tidak ada di sana!

“Maafkan saya,” katanya tersiksa. “Saya rasa sebaiknya saya pergi sekarang. Semoga anda suka sikat itu. Dan saya ucapkan selamat hari Natal untuk anda berdua.” Nah, salah lagi, malah memberi ucapan selamat sementara orang tuanya teringat anak mereka yang meninggal.

Brownie memberontak pada rantainya sementara George menuruni tangga dan mengiringi kepergiannya dengan geraman ganas.

Sekarang ia benar-benar ingin menemui Mary. Ia tidak yakin sanggup menghadapi Mary yang tidak mengenalinya, tapi ia harus menemuinya.

Lampu di gereja menyala, dan kelompok paduan suara tengah melakukan persiapan akhir untuk doa malam Natal. Pemain organ sudah melatih “Malam Kudus” malam demi malam sampai George muak mendengarnya. Namun sekarang suara musik itu nyaris membelah dadanya.

Ia tersandung-sandung sepanjang jalan ke rumahnya sendiri. Halamannya kotor, dan semak bunga yang selalu ia potong rapi tampak tak terawat dan tumbuh liar. Art Jenkins tak dapat diharapkan untuk peduli pada hal semacam itu.

Ketika ia mengetuk pintu, keheningan panjang mengikuti, diakhiri seruan anak kecil. Kemudian Mary datang membuka pintu.

Ketika melihatnya, suara George hampir mengkhianatinya. “Selamat Natal, Bu,” akhirnya berhasil ia suarakan. Tangannya gemetaran saat ia mencoba membuka penutup tasnya.

Walau George masuk ke dalam ruangan tamu dalam keadaan gundah, ia tidak dapat menahan seringai terselubung ketika melihat sofa biru kemahalan yang sering menjadi sumber pertengkaran mereka berada di sana. Jelas Mary telah melakukan hal yang sama pada Art Jenkins dan ia juga telah memenangkan argumen tersebut.

George membuka tasnya. Salah satu sikat di dalamnya bergagang biru cerah dan berambut warna-warni. Itu jelas adalah sikat yang seharusnya tidak dibagikan gratis, tetapi George tidak peduli. Ia memberikannya pada Mary. “Ini cocok dengan sofa anda,” katanya.

“Wah, sikat yang benar-benar cantik,” serunya. “Anda memberikannya gratis?”

Ia menggangguk tulus. “Tawaran perkenalan spesial. Satu cara perusahaan kami untuk menampung kelebihan laba—membagikannya pada teman.”

Mary menyapu sofa dengan sikat itu perlahan, menghaluskan lapisan beludrunya. “Benar-benar sikat yang bagus. Terima kasih. Saya—“ terdengar suara teriakan mendadak dari dapur, dan dua anak kecil berlari masuk. Seorang anak perempuan berpenampilan sederhana melemparkan diri ke pelukan ibunya, menangis kencang sementara seorang anak lelaki sekitar tujuh tahun mengejarnya, menembak-nembakkan pistol mainan pada kepalanya. “Mama, dia nggak mau mati,” serunya. “Aku udah nembak dia seratus kali, tapi dia nggak mati-mati.”

Dia benar-benar mirip Art Jenkins, batin George. Bahkan sifatnya sama.

Anak itu mendadak memalingkan perhatiannya padanya. “Siapa kau?” tanyanya kasar. Ia menodongkan pistolnya pada George dan menarik pelatuknya. “Mati kau!” teriaknya. “Kau ‘kan sudah mati. Kenapa nggak jatuh dan mati?”

Terdengar suara langkah berat dari beranda. Anak lelaki itu tampak ketakutan dan melangkah mundur. George melihat Mary melirik gelisah pada pintu.

Art Jenkins masuk. Ia berdiri sesaat di pintu masuk, berpegangan pada gagang pintu untuk menumpu tubuhnya. Matanya berkilat, dan wajahnya sangat merah. “Siapa ini?” tanyanya curiga.

“Salesman sikat pembersih,” Mary menjelaskan. “Dia memberiku sikat ini.”

“Salesman sikat!” cemooh Art. “Nah, suruh dia keluar dari sini. Kita nggak butuh sikat apa-apa.” Art berceguk kencang dan menyebrangi ruangan dengan cepat menuju sofa, di mana ia duduk mendadak. “Dan kita juga nggak butuh salesman sikat.”

George menatap putus asa pada Mary. Mata Mary memohonnya untuk segera pergi. Art telah mengangkat kakinya dan berselonjor sepanjang sofa, menggumamkan hal-hal buruk tentang salesman sikat. George pergi ke pintu, diikuti putera Art, yang terus menembakkan pistolnya padanya dan mengatakan: “Mati kau—mati—mati!”

Mungkin anak itu benar, pikir George begitu ia sampai pada beranda. Mungkin dia sudah mati, atau mungkin ini semua adalah mimpi buruk di mana nantinya ia akan terbangun. Ia ingin menemukan si lelaki pendek di atas jembatan dan mencoba membujuknya untuk mengembalikan segalanya.

Ia cepat menuruni bukit dan langsung berlari begitu ia sudah dekat sungai. George lega melihat orang asing pendek itu ada di atas jembatan. “Sudah cukup,” katanya, terengah-engah. “Keluarkan aku dari sini—semuanya gara-gara kau.”

Orang asing itu menaikkan alisnya. “Gara-gara saya! Saya suka itu! Keinginanmu terkabul. Kamu sudah mendapat segala yang kamu inginkan. Sekarang kamu laki-laki paling bebas di muka bumi ini. Kamu tidak punya ikatan. Kamu bisa ke manapun—melakukan apapun. Apalagi yang kamu inginkan sekarang?”

“Kembalikan aku,” George memohon. “Tolong, kembalikan aku. Bukan hanya demi aku tapi juga yang lainnya. Kau tidak tahu bagaimana kacaunya kota ini sekarang. Kau tidak mengerti. Aku harus kembali. Mereka membutuhkanku di sini.”

“Saya sudah tahu dari awal,” kata orang asing itu perlahan. “Saya hanya ingin memastikan kamu mengerti. Kamu telah mendapatkan anugerah terbesar yang dapat dikaruniakan padamu—anugerah kehidupan, menjadi bagian dari dunia ini dan memerankan peranmu. Namun kamu menolak anugerah tersebut.”

Sementara orang asing itu berbicara, lonceng gereja yang berada tinggi di atas bukit berbunyi, memanggil penduduk kota untuk misa malam Natal. Kemudian lonceng gereja di tengah kota turut berbunyi.

“Aku harus kembali,” kata George putus asa. “Jangan membuangku seperti ini. Ini—ini namanya pembunuhan!”

“Bukannya lebih tepat, bunuh diri?” gumam lelaki asing tersebut. “Kamu sendiri yang menyebabkannya. Tapi, karena ini malam Natal—yah, sekarang, tutup matamu dan terus dengarkan suara lonceng itu.” Suaranya memelan. “Terus dengarkan lonceng itu ...”

George menuruti kata-katanya. Ia merasakan tetesan salju yang dingin dan basah pada pipinya—kemudian tetesan lain dan yang lain lagi. Ketika ia membuka mata, salju turun deras, begitu derasnya hingga menghalanginya melihat sekitar. Lelaki asing kecil itu tidak lagi kelihatan, namun juga begitu pula yang lainnya. Salju turun begitu lebat hingga George harus berpegangan pada pagar jembatan.

Sementara ia berjalan menuju kota, ia mengira mendengar suara seseorang berkata, “Selamat Natal,” namun suara lonceng menenggelamkan suara-suara lainnya, sehingga ia tidak dapat benar-benar yakin.

Ketika mencapai rumah Hank Biddle, ia berhenti dan menyelusuri jalan setapak di halaman, memeriksa dengan gugup pada bagian dasar pohon mapel besar itu. Bekas lecetnya ada, untunglah! Ia menyentuh pohon itu penuh rasa sayang. Ia harus melakukan sesuatu pada bekas itu—mencari dokter pohon atau semacamnya. Bagaimanapun, ia benar-benar sudah kembali. Pada dirinya yang lama. Mungkin semua itu hanya mimpi, atau mungkin ia terhipnotis arus gelap yang mengalir perlahan. Ia pernah mendengar kejadian serupa terjadi.

Pada persimpangan Jalan Utama dan Jembatan ia hampir bertabrakan dengan seseorang yang berjalan terburu-buru. Ia adalah Jim Silva, si agen real estate. “Halo, George,” sapa Silva dengan riang. “Pulang malam, ya? Kukira malam Natal begini kamu ingin cepat ada di rumah.”

George menarik nafas panjang. “Hanya ingin melihat apa banknya baik-baik saja. Harus memastikan lampu ruang brankasnya menyala.”

“Memang menyala. Aku melihatnya sendiri saat melewatinya.”

“Kalau begitu ayo kita lihat sama-sama,” kata George, menggenggam pergelangan baju Silva. Ia butuh saksi lain. Ia menyeret si agen real estate yang terkejut itu ke depan bank, di mana lampu yang menyala berpendar menembus salju yang turun. “Kan sudah kubilang menyala,” kata Silva agak jengkel.

“Aku harus memastikan,” gumam George. “Terima kasih—dan selamat Natal!” kemudian ia pergi, berlari mendaki ke atas bukit.

Ia ingin cepat sampai ke rumahnya, tetapi tidak sebegitu terburu-burunya hingga tidak menyempatkan diri ke rumah orang tuanya sebentar, di mana ia bermain bersama Brownie sampai bulldog tua yang akrab itu mengibaskan ekornya dengan gembira. Ia menggenggam tangan adiknya dan mengguncangnya kuat-kuat, menyelamatinya salam Natal dengan nyaris histeris. Kemudian ia berlari melintasi ruang tamu untuk memeriksa satu foto. Ia mengecup ibunya, bercanda dengan ayahnya, dan keluar dari rumah beberapa detik kemudian, terpeleset dan tersandung-sandung oleh salju yang baru menumpuk sementara ia berlari menaiki bukit.

Gereja menyala terang, dan suara paduan suara dan organ saling berpadu bersama. George membuka pintu rumah dan memanggil dengan kencang: “Mary! Kamu di mana? Mary! Anak-anak!”

Istrinya datang padanya, sudah berdandan untuk ke gereja, dan menggerakkan tangan menyuruhnya diam. “Aku baru menidurkan anak-anak,” katanya. “Sekarang mereka akan—“ Tetapi tidak satupun kata lain yang keluar dari mulutnya karena George telah menghujaninya dengan ciuman, dan kemudian menyeretnya ke kamar anak-anak, di mana ia melanggar semua ajaran dasar bagaimana bersikap sebagai orang tua dengan memeluk kuat kedua anak laki-laki dan perempuannya, dan membuat mereka terbangun dengan terkejut.

Baru saat Mary membawanya turun ia mulai dapat mengontrol dirinya lagi. “Kukira aku kehilangan kamu! Oh, Mary, kukira aku kehilangan kamu!”

“Apa yang terjadi, sayang?” tanyanya kebingungan.

Ia menariknya ke sofa dan menciumnya lagi. Barulah pada saat itu, saat di mana ia akan menceritakan mimpinya yang aneh, tangannya menyentuh sesuatu yang ada di atas sofa. Suaranya membeku.

Ia tidak perlu mengangkatnya, karena ia sudah tahu itu benda apa. Dan ia tahu benda itu akan memiliki pegangan berwarna biru dan rambut sikat yang berwarna-warni.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Grande_Samael
Grande_Samael at Karunia Terbesar (28 weeks 1 day ago)
100

#LNID
.
Wah bagus ya, aku suka banget ini

Writer nagabenang
nagabenang at Karunia Terbesar (14 weeks 4 days ago)

Terima kasih banyak. :3

Writer duvernoy
duvernoy at Karunia Terbesar (28 weeks 6 days ago)
70

Ini tipikal bacaan novel yang nyaman buat sy baca sambil minum kopi di pagi hari (?) #alay
Sukaaaa wkwk walau awalnya hanya saya scanning (ini bukan masalah translator atau penulisnya, saia sering susah konsentrasi untuk memahami cerita pada bagian awal karena biasanya perkenalan adalah bagian yang membosankan bagi saya, jadi saya baca serius dari tengah, sampai akhir, kamudian penasaran sama awalnya dan balik ke atas lagi; ada yang kayak saya? Hahah)

Cuman agak bingung saja, kata anda itu harusnya ditulis dengan huruf kapital bukan ya? Soalnya kata sapaan? Pada kalimat:

“Apa anda mau masuk dan duduk sebentar?” kata ibunya.

dan ini

“Saya rasa sebaiknya saya pergi sekarang. Semoga anda suka sikat itu. Dan saya ucapkan selamat hari Natal untuk anda berdua.”

Maaf kalo salah, sy masi belajar wkwk salken btw

Writer nagabenang
nagabenang at Karunia Terbesar (14 weeks 4 days ago)

*cek kamus eyd*
.
Oh iya, benar juga, kamu benar. Terima kasih sudah menunjuk kesalahan EYD-nya, dan terutama, terima kasih sudah membacanya. :3

Writer duvernoy
duvernoy at Karunia Terbesar (28 weeks 6 days ago)

Eh btw sy sukaaaaa sama gambar profilnya kk #salfok #abaikan XD XD XD

Writer sandas
sandas at Karunia Terbesar (30 weeks 4 days ago)

aku baru ini bisa memahami ceritanya dan semua itu karena cerita ini sudah ditranslate ke bahasa indonesia

______________________________________
Butuh penawaran harga khusus untuk produk Tali Lanyard murah berkualitas? Kunjungi http://kartuidcard.com/tali-id-card-lanyard/

Writer citapraaa
citapraaa at Karunia Terbesar (32 weeks 3 days ago)
100

Wah~ jadi mau ngerasain juga jadi dianya :)
Makasih sudah menerjemahkan.
Belum baca yg Inggrisnya sih. Tapi terjemahan ini lancar aja dibacanya.

Suka sama suasananya :) dingin (karena musim) sekaligus hangat, suci, dan dekat.

Writer nagabenang
nagabenang at Karunia Terbesar (14 weeks 4 days ago)

Ah, sama-sama. Terima kasih juga sudah membacanya, dan menyempatkan diri menaruh komentar. :3