Halte

ADALAH kebetulan yang mempertemukan saya dan dia. Sebut saja namanya A. Bukan karena saya mau merahasiakan nama aslinya, tapi memang saya belum sempat berkenalan. Saya sedang menunggu bus jurusan Clementi, dan dia tengah menanti-nanti kedatangan angkutan yang sama. Dia di ujung halte yang sana, sedangkan saya di sudut halte yang sini. Kami memandang ke arah yang sama: mulut tikungan jalan. Berharap bus tingkat yang sering telat itu segera muncul.

 

Keadaan halte selalu ramai di kala sore. Bisa dikatakan penuh sesak, namun tetap terkendali. Banyak kaum pekerja yang berduyun-duyun ingin cepat pulang, walau tak ada yang menanti mereka di rumah. Mungkin cuma piring-piring kotor yang belum sempat dicuci semalam, atau jemuran yang lupa diangkat tadi pagi. Maklum, kebanyakan dari mereka adalah kaum perantau, jauh dari keluarga dan entah aib apa yang mereka tinggal di kampung halaman sana. Tak terkecuali saya. Berbekal kenekatan yang hanya bisa dikalahkan oleh kekeras-kepalaan sendiri, saya memutuskan untuk meninggalkan dunia yang terlalu jamak demi janji akan penghidupan yang lebih layak di negeri orang. Saya rasa alasan ini dimiliki oleh hampir semua perantau yang berjubel di halte ini.

 

Lihat wajah-wajah itu. Sebagian masih penuh harapan dan semangat. Sebagian lainnya mulai menyadari bahwa hidup di negeri orang tak selamanya enak. Ada kerinduan yang tak bisa disembunyikan dibalik raut lelah muka-muka layu mereka. Dan saya tenggelam di antaranya. Walau belum jelas saya ada di pihak sebelah mana. Enam bulan jauh dari keluarga memang bukan waktu yang sebentar, tetapi bukan waktu yang terlalu lama untuk membuat saya merindukan rumah. Mungkin saya sedang berada di antaranya. Sedang menyeberang dari satu sisi ke yang lainnya. Transisi yang pelan tapi pasti.

 

Lalu, di sore mendung itu, mata saya menemukan matanya, dan matanya menangkap basah mata saya.

 

Ada kalanya tak sengaja bersitatap dengan orang asing menjadi hal biasa yang tak perlu dibesar-besarkan. Namun hal ini menjadi besar ketika saya kesulitan melepaskan pandangan. Seperti ada yang mengikat saya di sana, kuat namun bersahabat. Seperti saya telah mengenalnya sejak lama, walau hal tersebut hampir mustahil. Sebab saya belum pernah menginjakkan kaki di negeri asing ini sebelumnya, dan saya cukup yakin tak pernah bertemu atau melihatnya sepanjang hidup. Akan tetapi di sinilah kami, saling memandang seolah telah akrab sejak dahulu. Sepasang karib yang dipisahkan nasib. Mungkin jodoh kata orang dulu, atau soulmate kata anak masa kini. Tak tahulah apa namanya. Yang jelas saya yang terbius keindahan setiap lekuk wajahnya tak mampu berpaling. Sampai akhirnya selengkung senyum menawan melepaskan kebekuan saya, sekaligus memerangkap dalam kerikuhan. Layar handphone yang baterainya telah wafat sejak satu jam yang lalu kembali saya pelototi demi menjaga nama baik. Ah, nama baik … memangnya dia tahu nama saya? Sungguh lucu.

 

Jelas sekali dia adalah pekerja kantoran. Cara berpakaiannya berkata begitu, walau ada kemungkinan dia baru saja melamar kerja di salah satu perusahaan di daerah ini. Yah, bisa saya simpulkan dia bukan golongan buruh pabrik seperti kebanyakan orang yang berkerumun di sekitarnya.

 

Saya bisa merasakan pandangannya terkadang masih mengarah ke sini, membikin saya makin menekuni skrin ponsel yang dari tadi gelap. Untung saja bus yang kami tunggu-tunggu akhirnya muncul menyelamatkan saya dari kecanggungan. Saya biarkan dia naik lebih dulu supaya saya bisa menyelidiki sosoknya lebih detail. Dari belakang tentunya. Tubuh yang cukup tinggi dan rambut yang hitam lebat. Lantas saya perhatikan jari manisnya, dan perasaan lega yang asing mulai merambati ketika tak ada cincin yang melingkar di sana. Ia segera naik dan langsung mencari tempat duduk di belakang, sedangkan saya yang tidak kebagian kursi terpaksa berdiri di dekat sopir. Bus mulai menderu. Perlahan, lalu semakin cepat, seiring cincin di jari manis saya yang terasa mencengkeram lebih erat.

 

***

 

Keesokannya dan di hari-hari setelahnya, saya masih menjumpai dia di pojok halte yang sama. Seolah ada janji tak tertulis antara dia dan sudut tempatnya berdiri. Langit kelabu masih menggerutu, dan cabang-cabang telanjang Angsana tua masih menaungi kami para penumpang bus yang kerap ingkar waktu itu.

 

Mata kami masih sesekali bertemu, dan masih saling melempar senyum malu-malu yang tak jelas apa maknanya. Saya sering bertanya-tanya mengapa dia tak pernah mengambil inisiatif untuk menyapa saya. Sebuah pertanyaan yang mungkin ada di benaknya juga. Sampai-sampai saya menarik kesimpulan sendiri bahwasanya dia orang yang pemalu. Saya sendiri takut bikin malu dengan lebih dulu menyapanya. Siapa saya? Kenal pun tidak. Namun tetap saja perang batin sering berkecamuk kala sore tiba, ketika setengah tubuh ini ingin menerobos kerumunan dan memperkenalkan diri padanya. Sering saya rapalkan kalimat itu dalam hati, "Nama saya anu." Tentu dalam bahasa Inggris yang logatnya sengaja saya barat-baratkan. Biar penekanan di huruf D dan J lebih halus dan mulus, tanpa mengungkap tanah Jawa yang menjadi kampung halaman saya. Namun separuh dari tubuh saya yang lain masih bimbang, menimang-nimang hukuman akhirat macam apa yang akan saya terima saat ajal tiba.

 

Akhirnya niat itu saya urungkan. Siklus melelahkan ini berulang setiap hari, setiap sore di halte yang sama. Berujung malam yang menghantarkan sepi dan penyesalan, mengeraskan hati saya untuk menyapanya esok hari. Tebak sendiri apa yang terjadi di sore berikutnya.

 

Dan sekarang saya tak melihatnya lagi di halte langganan kami. Ini adalah sore ketiga setelah dia menghilang. Dua bus telah datang dan pergi tanpa saya, yang tak mau melewatkan hari tanpa bermain mata dengan dia yang namanya pun saya belum tahu. Kadang hidup ini seenaknya saja mempermainkan kita. Orang yang tidak saya rindukan dengan setianya masih menunggu kepulangan saya di kampung halaman, walau ribuan kilometer jauhnya. Sedangkan orang yang saya nanti-nanti, yang beberapa hari lalu cuma berjarak empat-lima meter, malah sekarang hilang tanpa jejak. Sungguh ironis.

 

Saya pun menyerah dan memutuskan untuk pulang saat bus ketiga datang. Saya lekas duduk di kursi pertama yang kosong, sambil menengok ke kanan-kiri dari jendela, mengira-ngira dari mana dia biasa datang, atau kalau-kalau dia muncul dengan setengah berlari mengejar bus yang hendak berangkat. Namun itu semua hanya harapan kosong. Bus segera melaju dan saya merebahkan punggung ke sandaran kursi sambil menghela napas panjang.

 

Mungkin beginilah kenyataannya. Kadang tak hanya perbuatan baik yang sulit untuk dilakukan. Kadang rasanya ada tangan-tangan transparan yang menjauhkan saya dari dosa. Mungkin hasil doa-doa seseorang yang merindukan saya tadi. Yah, mungkin bukan hanya doa orang tua saja yang manjur, tapi juga doa seorang suami.



 

*****



 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at Halte (9 weeks 1 day ago)
60

.

Writer izaddina
izaddina at Halte (12 weeks 6 days ago)
80

singkat, ringkas, diksinya cukup nikmat.
udah lama tidak nyemplung di kekom, maaf bila kurang berkenan :)

Writer rirant
rirant at Halte (13 weeks 6 days ago)
100

Keren. Bumbu twist ringannya sangat cocok dengan menu hidangan utama, slice of life story. Suka juga dengan pilihan diksinya. Awesome lah pokoknya~

Writer kukuhniam
kukuhniam at Halte (14 weeks 6 days ago)
100

mengangkat keseharian, diakhiri kejutan...
seperti khasmu....

Writer ryandachna
ryandachna at Halte (15 weeks 6 days ago)
80

Asyik. Singkat, jelas, menghibur. Makasi ya.

Writer citapraaa
citapraaa at Halte (17 weeks 5 days ago)
90

Bagus~ singkat, padat, jelas. Tapi ttp menyimpan kejutannya.
Kirain si akunya bpk2, atau mungkin memang iya.