Hati-hati mengajak teman menonton bioskop

Kemarin aku tahu persis rasanya menjadi seorang homewrecker. Bagi yang tidak tahu apa arti kata tersebut, jangan terjemahkan pakai google. Yang muncul tetap homewrecker. Bahasa Indonesia masih belum mempunyai satu kata khusus untuk menerjemahkannya dengan sangkil. Homewrecker adalah seseorang yang merusak rumah tangga orang lain, tepatnya seseorang yang memicu perceraian. Kalau kalian berpikir, “Halah, itu kan orang ketiga!” Bukan, tolan! Homewrecker tidak selalu orang ketiga, pokoknya dia yang memicu perceraian. Seekor anjing pun bisa menjadi homewrecker bila ia menjadi subyek perdebatan hebat antara dua pasutri dan menjadi penyebab berpisahnya mereka. Menarik kan? Kemarin, persis satu hari yang lalu, aku menjadi seorang homewrecker...

Karena aku mengajak teman lamaku yang belum menikah untuk menonton Alien: Covenant. (Sekedar info, filmnya lumayan layak dinikmati di bioskop. Monggo, yang hobi nonton, silakan berangkat sama orang kesayangan.)

Teman yang kuajak itu, kawan lama dari SMU. Tujuh belas tahun kami tidak bertemu. Kalaupun ada tegur sapa, itu hanya di media sosial. Dulu juga seingatku dia bukan teman dekat, bahkan bukan teman satu geng. Kami kebetulan ikut kegiatan ekstrakurikuler yang sama: marching band. Setelah lulus SMU dia ke Surabaya, aku ke Malang. Dia kuliah Psikologi lalu drop out, aku kuliah Teknik Mesin tapi malah ikutan band. Detail-detail ini pun baru kami ketahui kemarin, saat ngobrol-ngobrol.

Sejauh ini normal-normal aja kan? Sekarang aku ceritakan yang tidak normal.

Segera setelah aku kirim pesan bahwa aku sudah sampai di mal tempat kami akan bertemu, temanku membalas begini, “Bro, i need your help.”

Aku enggak pernah bisa menolak atau menyetujui tanpa mengetahui detailnya dulu, jadi aku balas tanya, “What with?”

“Nanti pas ketemu kamu pura-pura jadi boyfriend-ku ya.”

Umur kami tiga puluhan. Seharusnya kami sudah enggak perlu pura-pura jadi pacar siapapun. Seharusnya kami sudah cukup dewasa untuk tidak meminta orang lain untuk berpura-pura menjadi pacar kami. Tapi justru karena itu aku bilang ya, aku mau bantu dia.

Bakal konyol ni, pikirku. Naif. Naif sekali.

“Tada!” kataku sok... entah, waktu ketemu dengannya. Dia keliatan masih dua puluhan, aku empat puluhan. Dari pakaiannya, kulitnya yang segar, caranya berdandan, semua bisa diringkas ke dalam satu kata: juita. Tapi lalu aku melihat senyumnya. Terakhir kali aku melihat senyum serupa, yang mengusungnya adalah seorang wanita yang amat kesepian. Senyum mereka beda dengan kita. Ada keputusasaan di sana, seolah mereka berharap orang yang mereka temui kali ini bisa membawa mereka kembali dari ujung jurang. Seolah duka dan asa bersatu sesaat. Itu senyum orang yang dalam masalah.

Atau aku yang berlebihan.

Aku kaget waktu ada pria besar muncul, mengucapkan hai, dan temanku mengenalkannya sebagai pacar. Kalau pacar aslinya di sini buat apa aku...

Oh, shit.

“Pacarku sudah beristri.”

Shit.

“Tadi salah satu saudara istrinya ngeliat kami, dan kayanya dia ngelapor gitu.”

Shit.

“Jadi sekarang istrinya ke sini, mau ngelabrak.”

Shit.

“Sori ya, bro,” pacarnya yang bicara sekarang, “Kami juga enggak nyangka. Sebenernya gue sama istri gue memang sudah...”

Dia memaparkan cerita yang sudah sering kudengar di Jakarta. Dari teman-teman kantor. Dari keluarganya teman kantor. Dari teman saudara. Dari teman kantornya, teman saudara. Semuanya mengandung gabungan frasa-frasa berikut: sudah dingin, masalah lama, sudah enggak cocok, enggak pernah cocok, enggak sejalan, sejalan sama orang lain, terlalu muda, terlalu tua, tidak merestui, kami dijodohkan, dan lain sebagainya. Bagiku semua bisa diringkas menjadi: dulu kami membuat sebuah komitmen, sekarang kami tidak mau melanjutkannya lagi.

“Sekali lagi sori ya, bro.”

“Enggak apa-apa lah,” jawabku tolol, “Kalian yang bayar tiketnya toh.”

Kami tertawa. Hatiku miris.

Langkah berikutnya adalah pacar temenku, Pandu, akan menunggu istrinya, sementara aku dan Irina mengantre tiket.

“Pesan dua aja dulu. Kayanya hanya kalian yang bakal nonton,” komentar Pandu saat kami pergi.

Mulailah tugas pertamaku menjadi pacar palsu. Irina menggandeng tanganku dan kami berjalan seolah sudah menjalin hubungan bertahun-tahun. Kami membahas masa-masa kuliah karena di saat itulah hubungan kami meregang. Irina sekali dua kali menyelipkan hubungannya dengan Pandu agar nanti tidak terlalu canggung.

“Sudah terlanjur canggung kok,” jawabku. Ia tertawa seolah aku bercanda.

Kami antre tiket, lalu duduk di ruang tunggu bioskop. Sambil mengobrol Irina kadang melihat telepon genggamnya. Alamak! Dia lupa mengganti wallpapernya. Kami buru-buru selfie supaya dia punya wallpaper baru. Saat dia mengunggahnya aku sadar justru terlihat maksa. Keliatan sekali kalau foto itu baru diambil: baju sama, background ruang tunggu bioskop.

“Enggak apa-apa, aku bilang aja baru kuganti.”

Aku usul dia ganti dengan yang lebih ‘masuk akal’. Di tasnya ada gantungan kunci Stitch. Aku minta dia menggantinya dengan alien lucu itu. Untung dia setuju.

“Beli minum yuk,” katanya kemudian. Waktu dia membayar cola yang kami pesan aku melihat di dompetnya ada foto dirinya dengan Pandu.

“Woi! Itu juga dibalik dulu kali!”

“Ngapain dia ngubek-ngubek dompetku?”

“Better safe than sorry,” kataku. Dia tidak menurut. Terserahlah. Yang jelas enggak lama setelah itu, Pandu muncul dengan istrinya.

Nama istrinya Winny. Entah mengapa aku menulisnya dengan ‘nny’, bisa jadi namanya sekedar Wini. Atau bahkan namanya Uini. Tapi yang jelas emosinya sedang meluap-luap. Gilanya (aku salut sama kalian para wanita) selama tatap mukanya dengan kami dia selalu tersenyum.

Ada senyum yang dipakai orang yang marah. Aku sering melihat senyum ini karena kebanyakan mantanku tipe wanita yang dominan. Mereka punya senyum itu. Biasanya mereka akan memakai senyum itu dan mengatakan hal-hal seperti, “Jadi kamu merasa <masukkan alasan yang tidak penting di sini> itu enggak penting? Yaudah, gausah kamu kerjain. Liat aja nanti.”

Yep, di belakangnya selalu ada ancaman.

“Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Tadi mbak Irina jalan sambil menggandeng tangan suamiku. Tau enggak? Aku sendiri sudah jarang digandeng sama suamiku!”

Shit.

“Dari situ aja aku sudah tahu hati suamiku di mana.”

Shit.

“Tunggu dulu, mbak. Aku memang selalu bilang ke Nana,” iya, aku sok punya pet-name buat Irina. Matanya melebar sedikit waktu aku memanggilnya begitu.

“Aku bilang, Na kalo kamu jalan sama cowok dan aku enggak ada di sana, ada baiknya kamu gandeng tangan cowok itu. Aku enggak bakal marah, kok. Justru dengan begitu kamu bisa lebih aman. Enggak ada yang godain, enggak ada yang suit-suitin...”

Menurut kalian benar enggak yang aku bilang itu? Kemarin sih rasanya itu masuk akal sekali.

“Iya, iya. Okay, aku ngerti kok. Terserah kalo memang begitu, yang jelas aku sudah buat keputusan, dan,” dia menghadap ke Pandu, “Kamu enggak usah pulang lagi ke rumah malam ini.”

Shit.

Wini bernafas beberapa kali lalu pergi begitu saja, masih tersenyum. Aku menatap Pandu dengan iba. Tapi setelah itu studio bioskop kami terbuka pintunya.

Kelihatan sekali kalau Irina berat meninggalkan Pandu, aku juga enggak enak, tapi dia bilang dia akan menunggu kami di JCO. Aku bilang maaf atau semacamnya lalu masuk duluan ke studio bioskop. Pandu senyum kecut dan melambai. Setelah itu selama kurang lebih dua jam aku dan Irina berada di dunia lain.

 

Pandu dan Uinny mempunyai dua anak. Satu cowok berumur empat, satu lagi cewek berumur tujuh. Mereka sudah bersama selama kurang lebih delapan tahun. Dan malam itu sepertinya semua berakhir. Kata Pandu sih keluarganya suportif, bahwa sudah lama mereka meminta dia meninggalkan istrinya. Yang menahannya selama ini adalah kedua anaknya yang masih kecil. Edan. Kita sering mengaku sudah dewasa, tapi keputusan-keputusan yang kita buat menjadikan anak-anak kita sebagai korban. Aku rasa enggak ada orang yang benar-benar dewasa, kita semua pura-pura.

Kalau kalian bertanya mengapa aku menyebut diriku homewrecker, jawabannya sederhana. Kemarin itu waktu aku mengajak Irina untuk ketemuan, dia bilang malas. Mau bersih-bersih kamar kostnya. Nah aku tahu persis kalau dia fans Alien (termasuk Stitch), aku pun mengingatkan dia bahwa Alien: Covenant sudah tayang. Dia pun setuju.

“Aku ajak temenku cowok, ya.”

“Asal kalian bayar sendiri tiket kalian.”

“Tenang aja, kamu udah ngingetin aku jadi aku yang bayarin tiketmu nanti.”

Andai aku tidak memberitahu kalau film itu sudah tayang, Irina akan membersihkan kamar kost-nya, Pandu entah melakukan apa, dan aku... ya begitulah.

Shit.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

selingan kata shit membuatku ngakak kekeke. cool story anyways

90

santai banget penyajiannya, kaya baca true story yang di cerpenkan. Shit, i like it

Makasi sudah baca. Only the craziest part of the story is true. :p