Balige Belum Jatuh

 

PROLOG

Satu-satunya Kota yang tidak bisa diduduki oleh penjajah di Sumatera Utara adalah Kota Balige. Raja yang memimpin Kota Balige adalah Orang yang sangat ditakuti oleh Kompeni Belanda. Saat ini, Belanda sudah menguasai Tarutung, sebuah Kota yang berjarak 40 Km di sebelah Timur Balige.

 

Belanda Juga sudah menguasai Kota Siantar dan Parapat. Belanda sudah menguasai kota-kota dan mengelilingi Kota Balige yang masih bertahan.

 

*

Balige, Agustus 1930. Jumat Sore, awan putih berkejaran di atas Danau Toba, bayangannya bagaikan kapal raksasa yang terlukis pada air danau yang jernih. Kapal raksasa yang seolah sedang tidak tenang. Beriak Danau membuatnya gusar.

 

Kota Balige, Kota Kecil di Sumatera. Kota yang kini menjadi sepi bahkan disiang hari. Kota yang terasa panas walaupun angin dari pegunungan tidak putus-putusnya bertiup. Rumah-rumah kayu tertidur disiang hari, walaupun cahaya matahari berusaha menyapa. Namun, atap-atap rumah kembali memantulkan cahaya-nya ke langit, bersamaan dengan rasa takut. Rasa takut yang dibalut dengan doa. Semoga Tuhan Bersama kota ini.

 

Lamhot, remaja berusia 15 Tahun, sedang duduk di sebelah kiri jendela bergonden putih kusam yang berkibar-kibar ditiup angin. Ia seperti mengintip sesuatu di luar sana. Saat Gorden jendela tertiup angin, saat itulah ia melihat ke luar dan hanya pohon beringin besar yang bisa terlihat. Tidak ada orang yang berani ke luar rumah.

 

Lamhot mengalihkan pandangannya pada seorang perempuan tua, Ibunya, Mariana, yang sedang sibuk memilih-milih pakaian dari lemari kayu tua.

 

“Jangan Kau masukkan Pakaianku, Mak!” Kata Lamhot.

 

Ibunya, Mariana, menghentikan tangannya. Ia berdiri dan menatap Lamhot dengan padangan tidak percaya.

 

“Jangan sesekali, Kau berpikir untuk ikut mereka, Lamhot!

Kau harus ikut Mamak ke pengungsian.” Jawab Ibunya.

 

“Mak, Aku sudah 15 Tahun, Belanda sudah di Tarutung. Biarkanlah aku ikut berjuang. Apa kata orang-orang bila lelaki berbadan sehat sepertiku ikut Mamaknya ke Pengungsian, Mak?” Kata Lamhot, menunduk ketakutan karena Ia tahu, Ibunya tidak akan setuju.

 

“Lam…hottt..! Oh Tuhan!

Kau satu-satunya yang Mamak Punya, Lamhot.

Bapakmu sudah mati ditembak di Medan,

Abangmu pun sudah mati.

Kalau Kau ikut berperang dan Kau mati, maka Mamakmu ini juga pasti mati di pengungsian sana.

Kau harus ikut Mamak!” Kata Ibunya, tangannya gemetaran dilanda ketakutan dan kesedihan yang belum berujung.

 

“Maa...k!”

“Sudah. Diam. Kau Harus ikut Mamak. Titik.”

 

Jumat. Sekitar pukul pukul 7 Malam. Puluhan Truk berjejer di sepanjang Jalan Lintas Tengah Sumatera. Ribuan orang berbaris menunggu antrian untuk mendapatkan tempat di dalam Truk. Ratusan pejuang begitu sibuk menertibkan penduduk yang mulai gerah karena takut tidak kebagian tempat.

 

“Hanya wanita, Laki-laki tua dan yang sakit, dan anak-anak dibawah 13 Tahun yang bisa ikut!

Selainnya, harus tetap tinggal dan ikut bertahan!” Teriak seorang pemuda berpakaian abu-abu.

 

Mendengar itu, Penduduk semakin ketakutan, beberapa orang berusaha untuk mengelabui petugas dengan mengatakan umur anaknya masih 13 Tahun.

 

Lamhot dan Ibunya sudah sampai di depan Truk. Ibunya memegang tangan Lamhot dengan begitu erat.

 

“Nama Mamak siapa?” Kata petugas sebelum menuliskannya pada sebuah buku panjang di atas meja.

 

“Aku Mariana, 52 Tahun.

Ini Anak Mamak, Namanya Lamhot, 13 Tahun,” Kata Mariana dengan suara gemetar.

 

Petugas itu melihat Lamhot. Petugas itu tidak percaya. Ia tetap mengamati Lamhot, kemudian memandang wajah Mariana. Pandangan tidak percaya.

 

“Dengar, Nak. Ayahnya adalah Soaloon, Pejuang yang sudah mati di Medan.

Abangnya Francis yang mati di Tarutung.

Kakaknya Muti Yang Juga Mati di Medan.

Tuliskanlah umurnya 13 Tahun, biarlah Aku yang menanggung dosa.

Kau selamatkan aku, tapi membiarkan anak ini Mati, maka sia-sia yang Kau lakukan.

Karena Aku pasti mati juga.” Kata Mariana sambil menangis.

 

Petugas itu tidak bergerak. Nama-nama yang baru didengarnya adalah nama yang tidak asing. Nama-nama yang sering dijadikan contoh oleh Raja. Tetapi, Bagaimanapun juga, Pemuda itu harus lebih tegas, supaya yang lebih lemah tidak tertindas.

 

“Akupun mengerti, Mak, Kuatkanlah hatimu! Tetapi masih banyak orang yang lebih lemah yang membutuhkan tempat di Truk itu, Mak.”

 

“Diam! Tuliskan umurnya 13 Tahun! Mamak mohon!”

 

Petugas itu melihat wajah Lamhot. Sementara Lamhot hanya tertunduk. Orang-orang di belakang yang menunggu sudah tidak sabar dan mulai bersuara ribut.

 

“Umurmu Berapa?” Tanya petugas itu pada Lamhot.

 

Lamhot diam, Ia memandang wajah ibunya. Tangannya digenggam semakin erat oleh Ibunya. Ibunya menggeleng-gelengkan kepala, seperti memohon supaya Lamhot berkata 13. Tetapi, Lamhot malah berusaha menahan tangis. Ia berusaha melepas pegangan tangan Ibunya.

 

“15 Tahun,” Kata Lamhot, kemudian dengan cepat ia berlari ke belakang, menjauh dari Ibunya.

 

“Lammhottt…,” Teriak Mariana dan hendak berlari menyusul tetapi beberapa petugas berusaha menangkap dan memaksa Mariana Masuk ke dalam Truk.

 

Di sebuah gang kecil, di balik dinding rumah kayu, Lamhot berdiri. Lututnya bergetar, pun jantungnya berdenyut terlalu kencang. Samar-samar telinganya menangkap suara ibunya yang masih berteriak, memanggil-manggil namanya. Lamhot terduduk di tanah. Ia menyembunyikan wajahnya ke dinding rumah sambil menangis terseduh-seduh. Kemudian, Ia menangis begitu keras, seperti orang yang mengaduh kesakitan. Dipukulinya tanah tempat ia terduduk seperti orang gila, sambil terus membiarkan air matanya berjatuhan. Orang yang berlalu lalang seolah tidak mendengarnya, semua orang sedang sibuk, ada yang berlari, berjalan cepat, menangis, berteriak. Malam itu, Kota Balige menjadi Kota perpisahan.

 

“Lamhotttt…, Kau kah itu, Laeee…?” Sebuah suara mendekat dari arah Jalan besar.

 

Lamhot berhenti memukul tanah, Ia menggerakkan kepalanya ke arah suara dan melihat empat orang remaja berjalan tergesa-gesa, menghampirinya.

 

**

Sabtu, Pukul 5 Pagi, Rumah Pejuang, Soposurung.

Suasana Kota Balige sudah semakin sepi, sudah tidak ada aktifitas di Jalanan. Suasana mencekam dan menakutkan menemani bendera merah putih yang enggan berkibar di depan sebuah bangunan. Lamhot duduk di antara ratusan orang berpakaian abu-abu yang masih tertidur memenuhi ruangan itu.

 

Seorang remaja, Jaminiko, Teman Sekolah Lamhot dulu, juga sedang duduk di dekat jendela.

 

Parlin dan Pangaloan yang juga teman satu sekolah Lamhot, baru bangun dan ikut duduk.

 

Sementara, di dekat pintu, seorang anak bernama Jamal masih menangis. Awalnya Ia hanya terseduh-seduh, tetapi ia menjadi seperti orang gila, memukul-mukulkan kepalanya ke dinding.

 

Lamhot dan Ke-empat temannya melihat ke arah Jamal. Mereka Bangkit dan mendekati Jamal.

 

“Ayo duduk di depan saja!” Ajak Lamhot sambil menarik tangan Jamal.

 

Kelima Remaja itu bergerak ke depan gedung dan duduk di sebuah kursi panjang. Bertemankan udara dingin pagi yang seolah mampu menembus kulit. Kelima anak itu seolah sedang duduk dipangkuan Bukit Dolok Tolong, Bukit tinggi yang menjadi pengawal Kota itu, berdiri seolah menatap bebas ke arah kota Balige dan Danau Toba.

 

“Hari Kematian,” Kata Jaminiko, tiba-tiba, memecahkan keheningan.

 

“Hari kematian,” Kata Lamhot yang disusul oleh tiga teman yang lain.

 

“Hari kematian.”

 

“Mungkin diantara Kita akan ada yang bertahan hidup,” Kata Parlin

 

“Yah. Mungkin,” Jawab Pangaloan

 

“Dengar! Kalau diantara kita ada yang selamat,

Tolong sampaikan kepada Mamakku kalau aku sangat mengasihi Beliau. Sampaikan juga permohonan maafku padanya,” Kata Lamhot dengan serius sambil bergantian memandangi teman-temannya.

 

“Aku pun demikian, Tolong sampaikan kepada oppungku kalau aku sudah berjuang dengan sekuat tenagaku,” Kata Parlin.

 

“Aku punya ide. Tunggu sebentar!” Kata Jaminiko, Kemudian Ia berdiri dan masuk ke dalam bangunan. Ia Keluar dengan membawa sebuah buku dan beberapa pensil.

 

“Hah. Ide yang bagus, Lae,” Kata Parlin

 

“Ini, Kau Tulis surat kepada siapapun juga, Kepada Mamak Kau, Bapak Kau, Oppung Kau, Ito Kau, Semuannya. Surat itu akan kita kubur di dalam kaleng di bawah bendera Itu. Siapapun yang selamat, Ia berkewajiban mengambilnya dan membagikannya” Kata Jaminiko sambil merobek lembar-lembar kertas dan membagikannya pada teman-temannya.

 

“Ini untukmu Jamal!” Kata Jaminiko karena Jamal hanya diam.

 

“Kau tidak mau menulis surat sama keluarga Kau, Lae?” Tanya Parlin sambil menepuk pundak Jamal yang duduk di sebelahnya.

 

Jamal hanya menggeleng, kemudian Ia menunduk dan menangis lagi.

 

“Aku sudah kehilangan Mereka Semua, Seminggu yang lalu, keluargaku sudah mengungsi ke Rantau Parapat, Tetapi…,” Jamal berhenti dan mencoba menahan air matanya. Bagaimanapun, Ia tidak mau terlihat lemah. Bukankah tadi malam Ia baru memberikan kata-kata semangat kepada Lamhot yang kini terlihat lebih hidup.

 

“Kuatkan hatimu! Lae,” Kata Lamhot sambil merangkul pundaknya.

 

“Tetapi kenapa Jamal?” Tanya Pangaloan

 

“Tidak kah Kalian Tahu, Kalau Bus yang mereka tumpangi…,” Kata Jamal Kembali tetapi berhenti dan mencoba menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya dari teman-temannya.

 

Kelima remaja itu terdiam. Mereka tahu apa yang terjadi seminggu yang lalu di Kota Siantar. Bus yang ditumpangi keluarga Jamal pastinya sudah dikepung dan semua penumpangnya di tembak mati.

 

“Tunggu sebentar!” Kata Jaminiko.

 

Jaminiko masuk kembali ke dalam gedung dan membawa bingkisan seperti sebungkus Timbaho. Teman-temanya memandanginya dan tersenyum.

 

“Aku akan menggulung Timbaho ini untuk Kau, Lae.

Biar tenang hatimu, Laeku.

Rokok ini akan membantu hatimu.

Aku tahu, kau suka merokok, dulu di sekolah, masih SD saja, Kau sudah merokok di kamar mandi. Kami mengintipmu Waktu itu.”

 

“Ia. Kami melihat Alsikanmu sudah seperti Alsikan Oppungku,” Kata Pangaloan.

 

Mendengar itu Jamal Mulai tersenyum, Ia menerima rokok Timbaho  Yang digulungkan Jaminiko untuknya.

 

“Kau gulungkan juga lah untukku, Lae” Kata Lamhot

 

“Ah. Diam Kau! Gulungkan sendiri untukmu!” Jawab Jaminiko sambil memberikan bungkusan rokok kepada Lamhot.

 

Mereka berlima adalah sahabat kecil yang sebenarnya sudah cukup lama tidak bertemu. Sejak dua tahun yang lalu, sekolah sudah dihentikan dan mereka kembali ke dusun mereka masing-masing di sekitaran pinggiran kota Balige. Mereka bahkan tidak menyangka kalau mereka berlima akan bertemu di Bangunan ini.

 

Sabtu. Mereka menyebut ini sebagai hari kematian. Hari pertemuan yang akan berubah menjadi hari kematian. Pengumuman terakhir, Belanda sudah di siborong-borong yang hanya berjarak 10 Km dari Balige.

 

Kelima remaja itu kini sudah cukup dewasa. Mereka sudah tidak peduli lagi dengan larangan rokok untuk kaum remaja. Mereka menghisabnya seolah itu adalah hari terakhir mereka melakukan perayaan rokok dan kali ini, mereka melakukannya tanpa bersembunyi ke semak-semak di belakang sekolah.

 

“Aku punya ide,” Kata Jaminiko sambil menyembulkan asap rokok dari mulutnya.

 

“Ide Apalagi?” Tanya Lamhot

 

“Lae, Jamal. Aku tahu sekarang.

Kau tidak bisa menulis surat untuk keluargamu, bukan?

Nah. Kau surati si Fitri saja! Bagaimana?” Canda Jaminiko, mengingatkan mereka kepada Fitri. Putri seorang kepala Dusun yang paling cantik di sekolah mereka dulu.

 

‘Hah, Ia benar. Aku tahu ada sesuatu diantara kalian,” Goda Parlin sambil menyembulkan asap rokok dan merangkul temannya.

 

Pagi ini, Kelima sahabat itu tertawa sampai membangunkan pejuang lain yang masih tertidur. Tangisan, ketakutan dan kepiluan kemarin, untuk sesaat telah hilang. Sebelum mereka mengikuti arahan Raja menuju pertempuran.

 

 

***

Sabtu, Pukul 5 Sore. Semak-semak di Jalan Siborong-borong, di Bawah kaki Bukit Dolok Tolong, Soposurung, Dua Kilometer dari Pusat Kota Balige. Sama seperti Bukit Dolok Tolong yang terdiam seolah mengawasi Danau Toba yang terhampar Luas. Ribuan Pejuang Batak sedang bersembunyi di semak-semak, tiarap di sepanjang jalan. Tidak ada suara selain keheningan dan bisik-bisik yang terbawa suara angin menyapa daun-daunan.

 

Ada sebuah tebing di atas jalan yang dipenuhi tumbuhan Arsam kering. Lima orang remaja laki-laki sedang tiarap di sana.

Salah satunya adalah Lamhot. Kemudian, hanya berjarak 5 meter, ratusan atau ribuan orang juga tiarap di sepanjang tebing di atas Kaki Bukit Tolong yang memanjang ke arah Kota Balige. Ada Batu-batu besar yang sudah di tarik ke Tebing dan siap untuk dijatuhkan saat Belanda berjalan melewati tempat tersebut. Bersambung…

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rirant
rirant at Balige Belum Jatuh (2 weeks 6 days ago)
80

Cool, jadi teringat beberapa karya novelist besar Indonesia yang mengusung tema ini. Lanjutkan bang

Writer pecundang jalanan
pecundang jalanan at Balige Belum Jatuh (1 week 2 days ago)

Thanks sudah mampir...
dan thanks poinnya bro..
blm tahu kapan mau dilanjutkan ni,,,

Writer bayonet
bayonet at Balige Belum Jatuh (8 weeks 2 days ago)
90

ah mantap kali ni cerita. lanjutkan lah lae..

Writer pecundang jalanan
pecundang jalanan at Balige Belum Jatuh (1 week 2 days ago)

terimakasi lae... :)