Sepenggal Surat Terakhir

Kuhitung-hitung lebih dari seribu kata telah terangkai hanya untukmu. Sejak saat aku dan kau hanya sekedar dua orang yang saling mengenal karena seorang teman, sampai pada akhirnya kau kembali menjadi milik seorang teman kemudian. Lucu memang. Waktu menyeretku untuk terantai olehmu – secara sepihak tanpa pernah aku rencanakan, bahkan pernah kucemooh.

Kuingat- ingat dua-tiga bait puisi kubuat untukmu, mencurahkan rasa seorang teman yang pernah kau iris-iris. Dua-tiga bait puisi kurangkai untuk mengungkap hatimu yang telah pecah dibanting keras seorang perempuan yang kusebut sahabat. Lalu puluhan puisi untuk mengalirkan lara yang kau berikan pada hatiku yang kau susupi dengan licik.

Aku dan kau adalah dua manusia yang dihubungkan oleh sepi, menjadi teman dalam gelap duka yang pernah mengisi hari. Kita berkelekar dalam iring-iringan hujan yang mengguyur luka. Saling bertukar rayu dalam dusta, hingga pada akhirnya aku tersesat dalam delusi. Kita terikat pada satu hubungan yang tak punya nama. Mereka bilang kita kekasih, tapi diam diantara kita menegaskan bahwa kau masih senang bergelut dengan kenangan lama. Logikaku masih hidup. Ia bilang aku hanya terlena dalam fantasi. Aku tak punya harga lebih di matamu, semata-mata hanya teman untuk menghadapi lara yang masih mendendangkan sepi.

Buntut tahun telah berganti dua kali. Kita masih berdiri di garis yang sama, hanya saling bersinggungan. Ada batas antara kau dan aku yang kasat mata, kokoh dan kuat. Tapi kadang angin nyenyat membisikan raungan hatimu yang menggaung di antara ruang palungnya. Memanggil-manggilku untuk menyelamatkanmu dari temaram yang tak kunjung berakhir. Tapi pada akhirnya perempuan yang kau rindukan telah kembali dan memelukmu lagi.

Ah, teralihkan lah semua duka padaku.

*****

“oh, selamat!” kalimat itu terketik dengan emoji-emoji kemunafikan. Sesungguhnya dalam rongga dada, ada nyeri yang tak tersebutkan setiap kali ia berdetak. Oksigen yang kuhirup bahkan serasa monoksida yang menyesakanku. Ada hujan yang ingin membadai, tapi tak sanggup mengamuk. Kupikir afeksiku padamu tak sehebat itu. Nyatanya aku telah overdosis pada hadirmu yang sesungguhnya bukan fakta. Kusimpan sendu rapat-rapat. Setidaknya aku dan kau masih saling bertukar cerita, meski kisah yang kau tuturkan menjadikan memar semakin membiru.

Tahun masih belum berganti. Aku masih duduk dalam singgasana kesendirian dan kepedihan. Menikmatimu dan nyeri-nyeri yang telah kau buat. Menuliskan sajak sebagai analgesik logika yang hampir rusak. Tanpa memperdulikanku, kau masih terus bersamanya, tapi ada jarak yang mulai tertanam diantara kalian. Hingga akhirnya waktu menjawab bahwa dia bukan untukmu. Kau kembali padaku membawa luka-luka yang ia goreskan lagi, tersirat memintaku untuk membalutnya. Harusnya aku mengerti bahwa aku hanya sebuah kayu penyangga. Tapi ketika logikaku sekarat dan kama yang berkuasa, kegirangan mulai menyelimutiku. Temaram mulai menerang dalam ilusi. Aku kembali tenggelam dalam waham.

*****

Kita terpisah oleh kilometer jarak dan laut. Kita tak bertukar rayu selayaknya pertama kali kita lakukan. Hubungan tanpa rupa itu mulai agak samar. Tapi perasaan yang pernah kau tanamkan diam-diam masih sama, bahkan mungkin semakin bercabang memperkuat akarnya. Aku tenggelamkan diri pada perasaan yang tak tersebutkan, jatuh cinta dalam diam. Sajak-sajak dan rangkaian aksara masih saja kuolah hanya untuk mengalirkan perasaan yang tak mampu kukatakan, berharap kau paham dengan kode. Tapi tetap saja, sekali pun kau tak pernah mencoba menelisik ke dalam hatiku yang penuh dengan ukiran namamu.

Kupikir aku memang harus menyerah. Sudah berkali-kali logikaku berteriak anarkis bahwa aku tak punya harga lebih di matamu. Bahwa aku tak punya tempat bahkan di sudut hatimu. Bahwa aku hanya sekedar pelipur lara sesaat. Tapi keras kepala adalah nama belakang kalbuku. Ia bersikeras bahwa mungkin barang secuil aku pernah terbersit di pikiranmu. Bahwa mungkin barang secuil aku sempat menyusup masuk dalam kalbumu. Bahwa mungkin barang secuil aku istimewa dalam waktumu. Aku masih kukuh berdiri di belakang batas yang kau bentangkan, masih berusaha menyusup masuk dengan untaian kalimat implisit yang kususun sedemikian rupa.

Tapi pada akhirnya kau memang tumpul. Entah karena kau cukup bodoh memahami sastra atau mungkin kau memilih berpura-pura saja, sebenarnya tahu tapi kau mencoba memalingkan muka, menutup mata. Kembali seorang perempuan merebut tempat yang seharusnya kupikir milikku; di sampingmu. Sekali lagi aku harus bergelut dengan raungan nyenyat yang mengungkap perih. Sekali lagi aku terbuang dalam penjara sepi. Sekali lagi kususun kata untuk mengobati sedih.

*****

Kali ini aku harus meninggalkan waktu-waktu yang tak luarsa itu, kupikir. Tapi kegilaan dalam benakku sulit untuk dimatikan. Komunikasi yang kadang kita tukar menjadikan arang yang hampir mati kembali terbakar. Ada kegirangan yang merantai kewarasanku untuk keluar dari jeruji khayal. Aku masih mencoba menikmati dunia derealisasi, masih menaburkan harap pada waktu-waktu yang kita lalui.

Bersamaan dengan puisi yang semakin bertumpuk dan cinta yang tak bisa terhapus, perempuan itu telah pergi, kembali mengosongkan tempat di sisimu. Maaf, tapi euphoria telah mengalir dalam darahku. Sekali ini kuharap kau mau menelisik pada hatiku yang mulai gila menyebut-nyebut namamu tanpa henti tiap detik jantung berdetak. Sekali lagi kurelakan diriku sebagai kayu penyangga.

Kembali buntut tahun berganti dua kali. Tempat di sisimu masih terisi kosong dan aku masih menikmati cinta yang tak sanggup diteriakan. Kau dan aku masih duduk di tempat yang sama, membiarkan batas tak pernah berubah. Kita nyaman di sini, merasa saling memiliki tanpa benar-benar memiliki. Merasa saling peduli, meski hanya sepihak serius memperdulikan. Merasa saling mencinta, meski hanya secara sepihak cinta berupa realita. Kita serupa proyeksi pada air tenang. Ada tapi samar. Membuyar ketika sepetik daun gugur serupa ragu dan sepercik rintik hujan bernama lara sepi hadir menyapa. Kau dan aku terlalu rapuh sebagai “kita”.

Kupikir aku tak sanggup berlama-lama menikmati perih kesendirian. Aku tak mampu untuk terus hidup dalam fantasi belaka. Kupikir pada akhirnya harus ada titik di ujung cerita yang tak pernah bisa tamat ini. Harus ada yang bisa menghentikan rinai gerimis yang kadang datang menyenandungkan balada keresahan. Kali ini logika yang bertahan hidup, ia tak sanggup membiarkan hati semakin sekarat karena intoksikasimu. Segenap ratusan puisi itu menjadi tiga kata yang cukup tersurat akhirnya mampu tertuju padamu.

“aku sayang kamu.” Perlu beribu-ribu detik, berpuluh-puluh menit, bahkan berhari-hari tiga kata itu tertulis dan akhirnya terkirim padamu. Aku harus melawan hati yang masih ingin berjuang dengan kenyamanan tanpa rupa. Tapi logikaku terlalu menghargai hati hingga ia tak mampu berlawas-lawas membiarkan hati sekarat terbungkus kegilaan.

Segala tindakan ada konsekuensi. Apa yang paling kutakutkan ketika cinta itu terungkap adalah kau dan aku tak akan menjadi bayangan pada air tenang. Kita akan lenyap, tak berbekas. Bahkan garis batas di antara kita akan menjadi bentangan luas. waktu antara kau dan aku akan terlesap. Kau dan aku hanya menjadi dua orang yang pernah saling mengenal tanpa pernah bertukar sapa kembali. Yang kutakutkan… dan pada akhirnya terjadi.

*****

Kita pada akhirnya terurai oleh hujan yang tak kunjung berhenti. Rintik-rintiknya menghancurkan pantulan kita pada genangan air, membuatnya keruh dan kita tak lagi menjadi pantulan yang tercermin. Kita telah lenyap. Telah tersemat titik di ujung cerita yang belum sempat berawal. Aku dan kau bahkan hanya menjadi sekedar orang yang tahu nama.

Kupikir mengakhiri dan memberikan nama pada apa yang menghubungkan kita menjadi titik dalam cerita kau dan aku. Tapi hujan yang turun masih menjadi kome sebelum kata tamat. Ia menurunkan kesedihan, mengguyur luka yang terus terenyuh nyeri, menenggelamkan hati pada kubangan lara yang tak teradu. Orang bilang cinta pertama tak akan bisa membuatmu lupa. Tapi kau bahkan bukan cinta pertamaku. Kau bahkan lebih dari itu. Entah bagaimana kau menyelip, kau menanamkan bibit yang kau telantarkan mengakar begitu dalam, menancapkan cabang-cabang di setiap sisi rongga, menaburkan rindu sebagai pupuknya. Kupikir aku terlalu lama terlena dalam ilusi yang kau ciptakan.

Setengah dekade kutambatkan hati pada cinta yang tak bernyawa, setahun di antaranya kubenamkan diri pada genangan duka. Kini kubangan sudah surut. Hujan mulai tenang meski mendung kadang-kadang menyapa. Kau mulai buyar dalam kenangan yang ingin kusimpan rapat. Aku sudah mulai mampu berjalan meski tertatih. Kau hanya menjadi serpihan masa lalu yang merangkulku. Kupikir begitu.

Aku hampa. Hujan berhenti membuat ranahku gersang. Terlalu sepi. Aku terlalu lama bergelut dengan duka. Menyedihkan, bukan? Sepi tanpa kehadiran kasih lebih nelangsa dibandingkan sepi apa pun juga. Aku mengikih-ngikih kembali apa yang tersimpan rapat, antara kau dan aku, rasa perih yang pernah kau hadiahkan kepadaku. Setidaknya sakit lebih nyaman dinikmati dibandingkan sunyi yang tak bergema. Aku bukannya tak bisa lepas dari bayang-bayangmu. Hanya saja masih belum menemukan yang dapat membuatku lebih cinta dibandingkan kau. Hingga pada akhirnya rindu tak bertuan ini hanya kutujukan pada kenangan antara kau dan aku, bukan kepadamu.

Aku sudah mampu menikmati waktu tanpa harus ada kau di sela-sela batinku. Aku sudah mampu menerima bias matahari di antara mendung yang masih sulit terenyahkan. Aku sudah mampu tanpa bayanganmu di antara kisah hidupku. Aku bisa tanpamu. Hatiku telah sembuh meski masih diiringi rasa sepi yang tak tahu arah pulang, meski masih ada rindu yang tak tahu pemiliknya. Puluhan puisi kini hanya menjadi dua-tiga bait untuk menemani hampa. Aku telah bebas darimu.

*****

Lalu kemudian angin membawakan kabar bahwa tempat di sisimu telah kembali ada yang memiliki sementara aku masih sendiri bergelut dengan sepi. Aku rela karena aku telah mengikhlaskanmu hanya sebagai memori yang terkubur dalam kenangan. Meki kupikir aku telah bebas darimu, nyatanya tidak. Mungkin memang sensasi itu tak sedahsyat waktu-waktu yang telah lalu. Tapi luka yang telah mengering pun masih berbekas, menjadikannya parastesi. kau dan dia menjadikan rangsangan yang mampu menggelitik mengalirkan nyeri di ujung-ujung hati yang masih menyimpan namamu.

Aku tidak secinta itu padamu. Tapi apa yang telah kita lalui terlalu mengikatku pada masa lalu. Aku ikhlas, tapi secuil rasa yang masih tertimbun di sudut dan berdebu masih sanggup membuat rintik-rintik hujan membasahi luka dengan air garam. Tapi kurasa aku baik-baik saja. Parastesi tak akan bertahan lama. Cerita antara kau dan aku telah berakhir di ujung titik yang lalu. Tapi biarkan aku bercengkrama dengan segenggam puisi yang masih kutujukan padamu. Ijinkan aku menikmati nyenyat melalui aksara. Sampai aku tak sanggup menulis untukmu dan merangkai bait untuk sesosok yang baru.

*****

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer milisi
milisi at Sepenggal Surat Terakhir (3 weeks 2 days ago)
80

maaf menurut saya bagus, tapi terlalu bertele tele, mungkin bisa di padatkan

Writer Shinichi
Shinichi at Sepenggal Surat Terakhir (4 weeks 2 days ago)
50

Btw, ini jelek menurut saya.
Membosankan jadinya.