Smiling Pasta

Tawa Alisha langsung terhenti ketika aku selesai melontarkan ucapanku. Dia tersedak beberapa kali, meraih gelas lemon tea-nya, meneguk, sekaligus menarik nafas dan membuangnya tergesa, membuat wajahnya tampak lebih merah dari saus pasta yang ada di dalam kotak bekalku.

Come on, Kyle!” Dia menjerit. Seakan aku baru saja menuang sambal yang paling dibencinya ke dalam mangkuk supnya. “You’ve gotta be joking!”

Aku mengangkat bahu tak peduli. Menatap malas pada sekotak pasta di hadapanku sambil menahan jengkel yang rasanya sudah nyaris meledak di dadaku. Ada dua helai daun mint yang disusun hingga tampak seperti sepasang mata, lengkap dengan saus pasta yang dituang sampai membentuk senyum terpampang di depanku. Seperti smile, kau tahu? Dan itu membuatku muak.

“Meg melakukan itu semua karena dia cinta padamu!” Alisha melanjutkan. Ekspresinya menunjukkan bahwa dia sangat histeris.

So?” responku menyebalkan. “What do you expect me to do, then? Membelikan dia sebuket bunga raksasa? Mencium dia dengan mesra sambil membisikkan I love you di telinganya?” Aku tertawa dan merinding. Alisha tahu kalau kalimat I love you adalah hal paling tabu yang tak akan pernah aku ucapkan pada siapapun. Terlebih lagi pada Meg. “Atau kalau perlu, membuatkan dia sepiring pasta konyol seperti yang selalu disusunnya dengan bentuk seperti ini, dan makan dengan lilin-lilin menyala di antara kami?” cibirku sinis, menunjukkan isi bekalku dengan tak sabar padanya. “Berapa dia pikir usiaku sekarang? Tujuh belas? Dua puluh lima? Oh, come on!!! Usia kami sudah lebih dari tiga dasawarsa! Dan dia masih belum berhenti bertingkah tak masuk akal?!”

“Aku tak melihat ada sesuatu yang salah dari cara Megan mengekspresikan rasa cintanya padamu.” Tampang Alisha berubah serius sekarang. “Kau tahu, banyak rumah tangga yang berakhir dengan perceraian karena kedua belah pihak berpikir kalau mereka tak lagi cocok dan tidak lagi mengenal satu sama lain. Bukankah itu konyol?” Sebelah bibir Alisha terangkat naik. “Mereka sudah hidup sekian tahun, sekian belas bahkan puluhan tahun bersama, dan akhirnya memutuskan berpisah dengan alasan sinting macam tak lagi merasa mengenal satu sama lain?”

“Aku juga tak melihat ada sesuatu yang lucu dari ucapanmu barusan, Al,” kataku ketika melihat rekan kerja terbaikku itu memaksakan tawanya.

“Ayolah, Kyle. Kau pasti mengerti apa yang kumaksud. Apa yang ada di kepalamu saat bertahun-tahun lalu kau melamar Megan untuk jadi milikmu selamanya? Kau pasti mencintainya kan?” tanyanya padaku. Pertanyaan yang sederhana. Namun tak kujawab. Tak mau kujawab, tepatnya. “Dan apa pula yang ada di kepalamu ketika barusan kau mengatakan ingin menceraikan Megan cuma karena –what– dia selalu menyiapkan bekal untukmu?”

“Bekal konyol,” tekanku. “Kau lihat kan? Dia selalu menyusun bekal untukku seakan-akan dia sedang memperlakukan anak kecil. Apa fungsinya dia menaruh dua helai daun mint dalam pasta ini?” Kuambil helaian daun berwarna hijau yang membuatku mual itu dan membuangnya kasar. “Pernahkah kau dengar ada pasta dengan topping  dua helai daun mint sinting dan saus pasta yang dibentuk seperti senyum idiot ini? Apa yang ada di dalam kepala Meg yang bodoh itu, hah?”

Alisha memincingkan matanya. Tampak sudah tak berminat sama sekali pada supnya yang baru tersentuh sedikit.

I know you, Kyle. Aku tahu ada alasan lain yang membuatmu sampai memikirkan perceraian. Apa kau mulai menyukai gadis lain di luar rumah tanggamu? Siapa gadis itu, Kyle? Apakah Jess, sekertaris barumu itu? She looks like a monkey to me. Sorry, no offense.” Alisha mengangkat kedua telapak tangannya. “Tapi aku benar-benar tak habis pikir kalau kau bisa sampai menyukai gadis macam Jess. Kau tahu bedak yang digunakannya lebih tebal dari karpet di ruang kerjamu. Dan dia menggunakannya setiap hari. Kau tidak akan berminat padanya kan?” Pernyataan-pernyataan Alisha membuat gigiku terasa ngilu. Sampai kapan dia baru mau belajar untuk menghentikan kebiasaan analisisnya yang seringkali menyimpang itu. “Why don’t you answer me?! Don’t tell me that I’m right, Kyle.

Kedua tangan Alisha kini sudah terlipat di depan dadanya. Separuh bibirnya masih terangkat naik dan membuat wajahnya tampak mengerikan. Aku tahu, aku harus segera menanggapi analisa sintingnya itu sebelum dia membuat kesimpulan yang bisa membuatku jadi benar-benar gila.

No, I’m not,” kataku tegas. “Tidak ada gadis lain. Dan bukan itu masalah yang membuatku ingin bercerai dengan Meg. Apa kau puas dengan jawabanku?”

Alisha mencondongkan wajahnya ke wajahku. Berusaha melucuti kebohonganku dan tak berhasil, sebab dia melanjutkan ucapannya.

“Dan kau tidak akan mungkin menyampaikan alasan bodoh di pengadilan nanti – aku benar-benar berharap ini tidak akan terjadi – ketika kau mengajukan perceraian kan? Apa yang akan kau katakan pada hakim? Kau akan mengatakan, ‘Oh, yeah, benar, saya ingin bercerai dengan istri saya karena saya merasa muak sebab dia selalu menyiapkan smiling pasta sebagai bekal saya ke kantor’?” Alisha memelototiku dengan tak senang. “Apa kau-benar-akan mengatakan hal seperti itu, hah?”

Yeah. I’m gonna say that,” sahutku. Membuat Alisha bungkam dengan dua bola mata yang siap keluar dari rongganya. “Dengan tambahan: bukan karena aku tak lagi mencintai Meg maka aku ingin bercerai.”

Tatapan Alisha menelanjangi wajahku sambil menantikan kelanjutan pembelaan diriku.

“Melainkan karena dari awal, aku seharusnya tidak berpura-pura mencintainya. Dan sekarang, aku hanya tak tahan lagi untuk terus berpura-pura.”

Jelas kusaksikan kedua mata Alisha terbelalak lebih lebar dari sebelumnya. Sebelum akhirnya rona merah kembali mewarnai wajahnya. Dia hanya diam selama beberapa menit. Mengamatiku tanpa suara, sampai akhirnya dia mengucapkan kalimat penutup percakapan makan siang kami hari itu dan membuatku termenung lama.

Look, Kyle. Aku tak tahu dan tak mau tahu apa yang kau maksud dengan berpura-pura mencintai Meg dan hanya tak tahan lagi untuk terus berpura-pura untuk itu. Tapi ada satu hal yang perlu kau ketahui sebelum kau memutuskan untuk merealisasikan ide sintingmu itu, Kyle.” Aku tak mau mengatakan bahwa aku mendengar suara Alisha bergetar ketika mengatakannya. Tapi aku yakin suaranya memang gemetar. Dan itu menunjukkan kesungguhan ucapannya. “Menikahi Megan, adalah hal paling istimewa yang seharusnya kau syukuri. Bukan sebaliknya.”

***

Aku yakin Alisha menggunakan sihir dalam ucapannya. Karena gara-gara kalimat yang ditujukannya padaku siang tadi, aku jadi tak bisa tidur semalam-malaman. Dan di sinilah aku sekarang. Duduk di sebuah kursi di balkon kamar tidurku sambil mengamati langit yang bersih tanpa taburan bintang di pukul dua dini hari.

Gila. Belum pernah aku seperti ini hanya karena mendengar apa pendapat orang lain tentangku. Biasanya aku tak pernah peduli apa pandangan orang lain. Apa mereka suka padaku? Atau apakah yang kulakukan dapat membuat mereka tertarik untuk berkawan denganku? Atau yang lebih sarkatis, lebih tepat kalau kukatakan bahwa belum tentu ketika kita bertindak setelah memikirkan perasaan orang lain, maka mereka akan balas berlaku sesuai yang kita harapkan.

Bagiku, hidup di dunia ini, kita tak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Sebaik apapun kita telah berusaha. Itu adalah suatu fakta yang tak terbantahkan.

Aku tahu ada alasan lain yang membuatmu sampai memikirkan perceraian. Apa kau mulai menyukai gadis lain di luar rumah tanggamu? Siapa gadis itu, Kyle? Tanya Alisha siang tadi.

Aku tak berbohong ketika mengatakan bahwa bukan Jess gadis lain yang ada dalam kepalaku. Dalam hatiku. Dalam seluruh rongga di dadaku. Memang bukan Jess. Dan maksudku – ahh – aku tak mengerti bagaimana cara menjelaskannya agar kau mengerti. Tapi keinginanku untuk bercerai dengan Meg, murni bukan karena aku berniat berselingkuh. Mencari gadis lain yang lebih muda, lebih cantik, atau apalah yang mungkin sedang menari di benakmu.

Kuhela nafas panjang, melirik sekilas ke dalam kamar yang hanya terpisahkan oleh pintu kaca tempatku duduk kini  dan mendapati wajah Meg yang berkilau tertimpa cahaya bulan itu tengah tertidur pulas di ranjang. Ya, wajah itu. Wajah yang kunikahi lebih dari delapan tahun yang lalu.

Kusandarkan kepalaku pada sandaran kursi sambil membiarkan malam dengan bebasnya mengais luka masa lalu yang tak kunjung sembuh di dadaku.

Aku ingin berpisah dari Meg, karena aku tidak mencintainya. Bukan tidak lagi mencintainya. Karena sejak awal, aku memang tak pernah mencintai Meg. Satu-satunya wanita yang kucintai hanya Ann. Cuma Ann. Dan itu belum berubah sampai saat ini. Sekalipun Ann memutuskan hubungan kami begitu saja dan menikah dengan Juan, laki-laki yang jauh lebih mapan jika dibanding denganku saat itu.

Sekian lama kujejali perasaanku sendiri dengan perasaan seorang pecundang, yang dilibat rasa kalah, sakit hati, dan terbuang. Kucari uang sebanyak kubisa. Kukerahkan semua kemampuanku untuk berkarir. Tujuanku hanya satu. Akan kubuktikan pada Ann, bahwa memutuskan untuk meninggalkanku adalah keputusan yang akan disesalinya suatu hari nanti.

Belum cukup puas dengan semua yang kudapatkan, kuputuskan untuk melamar Meg satu bulan setelah aku mendekatinya, meskipun aku sama sekali tak menaruh cinta padanya. Dan pernah suatu waktu, kulumat bibir Meg dengan mesra di hadapan Ann, berharap kalau-kalau Ann akan menangisi perbuatanku dalam hatinya.

Bertahun-tahun kubohongi diriku sendiri untuk mengarungi bahtera rumah tangga yang ternyata tak sesederhana yang kubayangkan itu bersama Meg dan Nathalie, putri hasil perkawinan palsuku dengan Meg. Nyaris ratusan bulan kutipu perasaanku di hadapan orang lain bahwa aku adalah orang yang paling bahagia. Memiliki keluarga kecil yang sempurna dan bergelimang harta. Ribuan hari aku berharap sampai nyaris gila, bahwa suatu hari nanti Ann akan datang ke hadapanku dan mengatakan padaku bahwa dia menyesal – teramat sangat menyesal telah membuangku saat itu.

Tapi sesungguh apapun aku berdoa supaya Tuhan mengabulkan permohonanku itu, harapanku tak pernah jadi kenyataan. Sudah bertahun-tahun berselang dan tak pernah sekali pun kulihat Ann menyesali pernikahannya dengan Juan. Mereka bahkan dikaruniai tiga orang anak yang cantik dan tampan. Lengkap dengan tumpukan harta yang mampu Juan berikan. Tak perlu dikatakannya padaku, aku jelas tahu kalau Ann bahagia dengan pilihannya. Sangat bahagia.

Sementara Ann sibuk memilin cintanya dengan Juan yang kian hari kian kuat, aku sibuk mengulur benang antara aku dan Meg agar hubungan kami kian merenggang. Tak pernah lagi aku mengacuhkannya. Aku bahkan tak pernah lagi sekali pun menyentuh Meg setelah Nath lahir. Bukan karena aku tak lagi normal. Bukan. Hanya saja, aku tak bisa lagi menahan diri untuk tak merasa jijik pada hubunganku dengan Meg yang penuh dengan kepura-puraan yang kugali sendiri.

Padahal tidak ada yang salah dengan Meg. Dia gadis yang cantik, berpendidikan, dan berhati lebih putih dari butiran salju. Ya, aku tahu mungkin kiasan ini terdengar berlebihan bagimu. Tapi sungguh, semulia itulah aku bisa melukiskan Meg. Satu hal yang tak pernah kutemukan dalam diri Ann dan ada pada Meg, adalah kesabarannya yang luar biasa. Tahun-tahun hidup bersama dengan Meg, tak sekalipun kudengar dia mengeluh. Meg tak pernah merengek manja dan mengecam perlakuanku padanya. Dia tak pernah memprotes kenapa aku tak pernah lagi menginginkan hubungan suami istri di antara kami, atau tak pernah menganggapnya ada untuk sekedar bicara dan bertukar pikiran.

Dia tetap menjalankan peranannya sebagai seorang istri. Menyiapkan sarapan, bekal, dan makan malam untukku. Meskipun terkadang aku sengaja pulang terlambat hanya karena aku menghindari duduk dan makan bersama Meg di meja yang sama. Tapi Meg tak pernah tak menungguku pulang. Dia selalu duduk di sofa yang sama, menonton acara televisi yang aku yakin membuatnya bosan setengah mati, tersenyum padaku dengan senyum yang tak pernah berubah, beranjak melepaskan jas kerjaku, menyiapkan air hangat supaya aku bisa berendam dengan nyaman, memanaskan makan malamnya yang tak kusentuh karena aku langsung bergelung dalam selimut sehabis mandi, dan yah – dia sama sekali tak pernah mengajakku berdebat karena perlakuanku yang seharusnya membuatnya merasa tak adil itu.

Dan itu membuatku nelangsa. Aku merasa itu adalah bentuk intimidasi Meg padaku secara tak langsung. Agar aku merasa bersalah dan berubah baik padanya. Tapi aku tak bisa melakukannya. Sebab aku tak sanggup menyingkirkan bayangan Ann dari hidupku. Dia adalah hantu yang akan menghantuiku sampai mati. Dalam mimpiku. Dalam nafasku. Dalam setiap sel di tubuhku.

Ada satu hal yang perlu kau ketahui sebelum kau memutuskan untuk merealisasikan ide sintingmu itu, Kyle, suara Alisha terngiang kembali seperti gema di telingaku. Membuat pelipisku berdenyut sakit.

Aku tak tahu kepada siapa aku harus marah saat ini. Aku tak mengerti perasaan macam apa yang selalu menderaku ketika aku menyaksikan betapa bahagianya Ann tanpa diriku. Aku tak paham seperti apa perasaan Meg padaku sebenarnya. Aku cuma tahu, aku tak bisa lagi seperti ini untuk waktu yang lebih lama.

Bukan Meg yang kucintai. Besok pagi, akan kukatakan pada Meg bahwa hubungan kami harus segera berakhir.

Menikahi Megan, adalah hal paling istimewa yang seharusnya kau syukuri.

Tapi mengapa mendengar Alisha mengatakan hal itu padaku membuatku merasa perih? Seperti ada sesuatu yang tengah menekan dadaku dengan kuat dan membuatnya terasa sesak.

Bukan sebaliknya.

***

Sendok yang dipegang Meg jatuh begitu saja, menimbulkan suara berisik yang membuat Nath tak jadi mengunyah roti yang sedang digigitnya. Kulihat wajah Meg berubah pucat hanya dalam hitungan detik, membungkukkan tubuhnya untuk mengambil sendok yang dijatuhkannya, meletakkan setangkup roti yang dipegangnya dengan gemetar hebat, kemudian duduk tanpa suara.

“Aku ingin bercerai, Meg,” ulangku. Tanpa perasaan. “Kau boleh membawa Nath bersamamu – aku tak peduli. Aku hanya ingin kita bercerai.”

Meg masih tak bersuara. Matanya memandang lurus ke arah roti di depannya. Sepertinya dia sedang mengumpulkan seluruh kekuatannya yang tergerus itu sebelum akhirnya dia memandang lekat-lekat ke dalam mataku.

Why?”  Hanya itu pertanyaan yang diajukan Meg padaku. Tidak ada tuduhan bahwa aku pasti memiliki simpanan di luar sana, seperti yang Alisha simpulkan. Tidak ada tudingan atau amukan yang herannya jika Meg melakukannya, aku yakin perasaanku tak akan seburuk ini.

Tapi Meg hanya terdiam. Menungguku memberikannya sebuah jawaban. Menghunjamku dengan rasa sakit yang terpancar begitu jelas dari matanya dan membuatku merasa lebih parah dari seorang penjahat.

Because I never love you, Meg,” kataku akhirnya. Dengan dua telapak tangan terkepal erat di kedua sisi tubuhku. “You know that....”

Lalu sepasang mata Meg yang tergenang air itu menumpahkan deraiannya. Kedua bahu mungilnya terguncang begitu dahsyatnya sampai-sampai aku rasanya sanggup merasakan betapa dalam luka yang sedang kutorehkan di hatinya.

Dan dengan sadisnya, aku hanya beranjak bangkit dari dudukku, tak mengacuhkan putri kecilku yang baru berusia tujuh tahun itu memanggil-manggilku dengan nada nyaris mengiba, dan keluar rumah tanpa menoleh lagi.

***

I’m busy now. Please don’t disturb.”

Alisha mengatakannya tanpa sudi melihat wajahku. Seperti malas. Atau kombinasi antara rasa sebal dan muak yang bercampur menjadi satu. Tak bisa kupastikan.

Are you kidding me?” ucapku kesal. “Sepuluh tahun kita menjadi rekan kerja, Al. Aku tahu seberapa sibuk atau tidak sibuknya kau. Dan aku tahu betul kau sedang tidak sibuk.” Kututup map biru yang sedang dibuka Alisha dan membuat dia berdecak tak suka. “Kau hanya sedang tak mau bicara denganku.”

“Memangnya kau rasa ada hal penting apa yang perlu dibicarakan, Kyle?” Alisha melepas kacamatanya dan menatap sinis ke arahku.

“Aku tahu kau marah padaku karena aku memutuskan untuk bercerai dengan Meg.”

Alisha tertawa. Kencang dan membuatku terperangah.

“Apa hakku marah padamu karena kau memutuskan bercerai?”

“Lalu mengapa kau selalu menganggapku tak ada ketika aku bicara padamu beberapa hari belakangan ini, Al?”

“Bukankah kau juga melakukan hal yang sama ketika Meg mengajakmu bicara selama ini?” Al mengerutkan keningnya. Membuatku tak tahu harus menjawab apa. “Baru beberapa hari saja aku memperlakukanmu seperti itu, kau sudah tak tahan? Padahal kita hanya rekan kerja, Kyle. Lalu bagaimana dengan Meg? Bertahun-tahun kau tak melihatnya, sementara dia berdiri begitu dekat di hadapanmu. Apa kau pernah mencoba memahami perasaannya? Apa kau tak tahu kalau dia sedih karena perlakuanmu hanya karena dia tak pernah mengeluhkannya di depanmu?” Kudengar nafas Al tersengal menahan marah. “Aku hanya merasa tak adil bagi wanita sebaik Meg diperlakukan seperti sampah bagimu, Kyle, sahabatku sendiri. Kalau pun suatu hari nanti kalian memang harus bercerai, pihak yang seharusnya mengajukan perceraian itu adalah Meg. Not you! That’s the point.”

***

Berbeda dengan reaksi Alisha yang marah besar dan memutuskan berhenti bicara padaku hingga detik ini ketika aku menceritakan padanya bahwa aku telah mengajukan perceraian, Meg malah bersikap seolah-olah tak ada yang berubah antara kami.

Dia tetap menungguku pulang seperti malam-malam sebelumnya, tersenyum padaku dengan ketulusan yang serupa, dan menyiapkan bekal-bekal konyol yang tak pernah lagi sudi kubawa ke kantor, serta masih bersedia tidur di ranjang yang sama di sebelahku. Yang kutemukan berbeda hanya satu, bantal yang ditidurinya setiap malam, selalu tampak basah di pagi hari.

“Kenapa kau tak marah padaku?” tanyaku di ambang pintu ketika aku hendak berangkat kerja pagi itu. Penasaran dengan apa yang ada dalam benak Meg ketika kemarin kusuruh pengacaraku datang ke rumah dan menyerahkan surat cerai padanya.

“Tidak ada hal yang perlu membuatku marah,” jawabnya sederhana. Terlalu sederhana sampai-sampai membuatku tak bisa menahan diri untuk tidak menoleh menghadapnya dan menemukan kedua mata Meg terlihat sembab dan bengkak. Namun senyum tak pernah lekang dari wajahnya yang sekilas kusadari tampak lebih tirus.

“Mengapa kau tidak memakiku karena aku ingin bercerai denganmu?” tanyaku lagi. “Mengapa kau tidak bertanya alasan apa yang sebenarnya membuatku ingin berpisah? Mengapa kau malah dengan tololnya bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi? Kau menyiapkan air hangat, memasak untukku, menungguku pulang, tersenyum padaku. Apa maksudmu melakukan semua itu?”

Lama Meg terdiam sebelum akhirnya kulihat bibirnya yang bergetar itu berucap pelan, sekaligus terdengar memekakkan telingaku.

“Aku hanya ingin melakukan yang terbaik selama aku masih menjadi istrimu, Kyle....”

Mendengar Meg berujar seperti itu, bukannya merasa terharu, aku malah merasakan darah di sekujur tubuhku bergelegak dipenuhi rasa emosi. Kubalikkan tubuhku seperti kesetanan, kuguncang tubuh Meg dengan kasar, dan kuteriakkan kata-kata yang menyakitinya.

“Kau sengaja melakukan ini! Kau pasti sengaja!” makiku. “Kau sengaja membuatku merasa menyesal. Padahal kau tahu kalau aku tak pernah mencintaimu! Kau tahu itu kan? Hah?!”

Air mata yang mengalir dari kedua mata Meg tak menghentikan perbuatan gilaku. Kulayangkan sebuah tamparan ke wajahnya yang pasi.

“Kenapa kau sengaja bersikap baik padaku, sementara jelas-jelas aku selalu memperlakukanmu tak adil? Balas aku, Meg! Tampar aku seperti aku menamparmu!” Kudengar Nath memekik ngeri ketika melihatku memperlakukan Meg saat ini. Tapi aku sudah tak tahan lagi. Aku tak bisa lagi membiarkan Meg terus menerus memperlakukanku sebaik ini. Aku tahu dia juga sedang berpura-pura. Dia pasti berpura-pura.

“Kau tahu aku mencintai Ann!” murkaku. “Kenapa saat itu kau tidak menolak lamaranku? Kenapa kau membiarkanku melumat bibirmu di depan Ann padahal kau pasti tahu kalau aku melakukannya hanya untuk menyakiti hati Ann. Kau tahu, Meg! Kau tahu aku selalu mencintai Ann, adik kandungmu sendiri! Kenapa kau masih bersikap baik padaku?!”

I only know, I love you, Kyle....”

Lalu kontrol dalam diriku lepas. Aku mejerit-jerit seperti orang gila. Berteriak-teriak menuduh Meg berkata bohong. Dia pasti menipuku. Lalu kurasakan tubuh Meg menggeliat paksa. Berusaha melepaskan diri dari cengkramanku yang menggila.

Begitu saja, tanpa sempat kukendalikan, ketika Meg berhasil melepaskan diri dariku, dia melangkah mundur dengan penuh ketakutan, tersengkat salah satu kaki sofa, kehilangan keseimbangan, tersungkur, dan tak sadarkan diri lagi segera setelah kepalanya terantuk sudut meja kaca di ruang tamu, dan darah mengalir ke mana-mana, yang disusul dengan jeritan Nath yang terdengar nyalang,

 “MOMMM....”

***

 “Dad, is that ok?” Suara Nath memecah lamunanku. Sebelah tangan mungilnya sibuk mengaduk mangkuk pasta yang mengotori pipi dan cuping hidungnya. Sementara sebelah tangannya yang bebas menunjuk-nunjuk panci yang mengepulkan asap dan menimbulkan bau hangus yang tak sedap.

Bagai tersengat listrik, kugerakkan tubuhku untuk mematikan kompor dan meringis melihat spagetthi rebusanku terlihat mengenaskan.

Nath yang berdiri di belakangku berdeham mengejek, menertawakan hasil kerjaku yang gagal, dan membuatku merasa gemas. Aku membalikkan tubuh, lalu meraih tubuh mungil itu dalam pelukan sesaatku.

Dad, I love you,” ujar Nath pelan. Didaratkannya kecupan singkat di keningku sebelum dia kembali meneruskan adukan saus pastanya yang sempat terhenti.

Aku tersenyum hangat. Merasakan ada kedamaian yang merangkulku erat-erat. Kugerakkan tanganku sambil meniriskan spagetthi yang masih layak dimakan ke dalam sebuah mangkuk besar dan meletakkannya di atas meja makan.

Like Mom always love you.” Dia melanjutkan. Dengan senyum tulus yang diwarisinya dari Meg. “Apa kau tahu mengapa Mom selalu membuatkan pasta yang dibentuk seperti ini, Dad?” Diraihnya dua helai daun mint di atas meja dan memosisikannya seperti sepasang mata di mangkuk spagetthi yang baru saja kuletakkan, kemudian dengan sigap pula menuangkan saus pasta yang diaduknya sampai membentuk seuntai senyuman.

Aku tak ingin Nath meneruskan ucapannya. Aku tak mau mendengar kelanjutan dari pertanyaannya yang sebenarnya tak membutuhkan jawaban itu. Karena saat ini mataku lebih dari sekedar terasa panas.

“Karena Mom selalu berkata, ketika suatu hari nanti kau benar-benar mencintai seseorang, kau hanya ingin selalu membuatnya tersenyum. Dengan cara apapun itu. Sekali pun kau tahu, mungkin bukan kau yang ada dalam hatinya.”

Kemudian tirai air mata yang memburamkan pandanganku itu akhirnya runtuh menjadi hujan. Sekali lagi, kuraih Nath dalam pelukanku. Lalu pandanganku beralih. Kupandang sosok itu dan menyampaikan ucapan syukur terdalamku yang kuharap dapat dirasakannya tanpa kata.

It’s a miracle.” Dokter Johnson menatapku serius kala itu. “Nyaris tak pernah ada yang bertahan hidup setelah mengalami pendarahan di kepala dan retak tulang belakang seperti itu. Istrimu menunjukkan tanda-tanda membaik. Mungkin dia akan mengalami kelumpuhan total. Tapi bukan tidak mungkin ada keajaiban selanjutnya.”

Dan pernyataan dari dokter berjubah putih itu sanggup membuatku merasa bahagia dan lega dalam waktu yang bersamaan.

Dari kejadian berharga ini aku baru sadar, kalau ternyata ketika seseorang hampir merasakan apa itu kehilangan, dia baru akan menyadari betapa besar dan tak ternilai harga dari sesuatu yang selama ini dikiranya tak berarti. Dan aku bersyukur, setidaknya sedetik sebelum aku benar-benar tersuruk dalam lumpur dosa, Tuhan masih berkenan memberikan satu kesempatan terakhir buatku.

Kuraih tangan Nath dan membawanya mendekat pada Meg yang terduduk diam di salah satu sisi meja makan. Pandangan matanya kosong. Tapi tak ada yang berubah dari wajahnya. Wajah yang kukenal. Yang mencintaiku dengan sepenuh jiwa dan pernah hanya kucintai dengan separuh hati.

Dulu, aku selalu merasa bahwa tempat Ann dalam hatiku tidak akan pernah tergantikan. Namun nyatanya aku keliru.

Kutumpukan telapak tangan Nath ke atas tangan Meg, kemudian dengan sekali tangkup, kuremas kedua tangan malaikat yang diutus Tuhan bagiku itu dengan penuh rasa sayang.

Ternyata, Meg telah berhasil mencuri tempat paling berharga yang ada di relung hatiku yang paling dalam. Yang selama ini tak pernah kusadari telah bertumbuh dan berakar kuat di ujung sana. Alisha benar. Menikahi Meg adalah hadiah paling indah yang Tuhan berikan padaku. Bukan sebaliknya.

Aku bangkit berdiri, menyiapkan sepiring smiling pasta dan meletakkannya di hadapan Meg. Sama seperti yang dulu selalu dilakukannya padaku. Hanya bedanya, Meg tak menyuapiku seperti yang saat ini tengah kulakukan terhadapnya.

Meg mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat berarti buatku. Dia mengajarkan sekalipun hidup seakan selalu membuatnya berada dalam lingkaran masalah yang tak pernah usai, dia tak pernah memutuskan untuk menyerah. Karena hidup tak pernah bisa membuat kita gagal, jika bukan kita sendiri yang memutuskan untuk berhenti berjuang.

 “I love you, Meg,” bisikku sungguh-sungguh ketika menyuapkan pasta buatanku itu ke bibir Meg. “I swear to God, I love you....”

Lalu jelas kulihat ada dua tetes air jatuh ke atas pangkuan Meg.

Because life it’s not about how long you live, but how....

Air mata Meg.

***

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Writer suasti_was
suasti_was at Smiling Pasta (3 days 4 hours ago)
100

selalu tersentuh dengan cerita-cerita kakak

Writer vava44
vava44 at Smiling Pasta (8 weeks 2 days ago)
100

Bagus bro novelmu gak ngebosenin

______________________________________________
Jika anda mencari mikroskop laboratorium jenis monokuler dan binokuler silahkan kunjungi Alatkesehatan.id

Writer samalona
samalona at Smiling Pasta (9 weeks 8 hours ago)
90

Tadinya saya berharap karakter Kyle tetap sebagai 'a loser' sampai di akhir cerita, tapi tampaknya Sun sudah tahu akhir seperti apa yang dia mau.
Pemikiran lain yang timbul saat membaca mendekati bagian akhir adalah bahwa saya mengharapkan trauma yang lebih berat dialami oleh Kyle. Misalnya dia bertemu Ann yang kemudian mengatakan dengan gamblang, "Wake up, Kyle. I lnever loved you,' atau yang semacamnya.
Bagaimanapun, menurut saya "it has been a good read. The story was well paced, and the characters are quite believable."

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Smiling Pasta (8 weeks 4 days ago)

Hai, Sam! Thanks a lot for reading! Hehe.. Kangen jg balik kekom lagi..

Tapi rasanya kekom jadi agak sepi ya sekarang..

Writer samalona
samalona at Smiling Pasta (8 weeks 3 days ago)

Iya. Sepi biarlah sepi. Kalau perlu, nanti saya bawa kepribadian gandaku buat bikin ramai di sini, hehe.