Kompi Saing Mako: Lantip, Sejarawan

Lantip sedang mengasah mata tombak ketika rekan-rekan sesama pasukan keamanan bayaran menyergapnya. Pandangan terakhir yang diingat pemuda itu adalah kedua tangannya bekerja, lalu bagian dalam semacam karung, lalu kegelapan. Ia terbangun merasa kepalanya telah dihantam raksasa batu.

 

“Siapa itu?” Lantip mendengar sebuah suara. Kapten Gada, pemimpin Kompi Saing Mako. Orang yang baru dua minggu yang lalu mengangkatnya menjadi sejarawan kompi.

 

“Ini si Lantip, Kapten!” Sersan Hantam. Pria besar, tangan kanan Letnan Beruni, rival Lantip.

 

“Kami menemukan bukti kalau dia menulis di Jurnal Kompi bahwa Kapten adalah seorang pengecut,” dan itu si Beruni. Bila kedua rekannya bisa melihat wajah Lantip di balik karung, mereka akan melihat bola matanya berputar malas. Lantip menyesali gestur itu karena kepalanya malah tambah sakit.

 

“Gak ada satu pun kalimat dalam jurnal kita yang mengatakan bahwa Kapten Gada itu seorang pengecut,” suara Lantip terhalang karung. Ia hampir bersin, Hantam dan Beruni tidak memilih karung yang bersih untuknya.

 

“Buka karung itu dari kepalanya. Dan demi semua yang suci lepaskan juga ikatan tangannya. Itu perintah!” gonggong Kapten Gada.

 

Karung diangkat, tali dilepas. Lantip dapat melihat kalau ia berada dalam tenda Sang Kapten yang saat itu keluar sebentar untuk membentak orang-orang yang tidak kasatmata bagi Lantip. Ia hanya mendengar dengung obrolan mereka yang tidak jelas.

 

“Kalian gak ada kerjaan semua? Beresin peralatan dan siap-siap untuk berjalan! Besok pagi buta kita bongkar tenda dan mulai berjalan ke timur!”

 

Suara berpasang-pasang kaki melangkah enggan dapat terdengar. Dengung obrolan perlahan berubah menjadi sunyi. Kapten Gada menyibak tutup tenda lalu membuka-buka buku besar di tangannya. Ia membaca entri terakhir dengan seksama.

 

“Ia tidak memanggilku pengecut,” katanya mantap.

 

Lantip menatap Hantam dan Beruni dengan malas. Amarah mereka terpancar dari urat nadi di atas mata keduanya yang tiba-tiba muncul.

 

“Tapi di situ dia menulis kalau Kapten sengaja mengulur-ulur pertempuran dengan pasukan Fungsionaris Semani!” Hantam protes.

 

“Dan... dan dia tulis kalau Kapten sengaja mengirim kavaleri ringan kita untuk menyerang kafilah persediaan Fungsionaris Semani untuk memastikan pasukannya kelaparan dan tidak dapat mempertahankan kondisi peralatan tempur mereka dengan baik,” Letnan Beruni menambahkan. “Padahal itu tidak benar! Kapten bukan mengulur-ulur, tapi Kapten belum mendengar perintah Sang Pelindung untuk menyerang!”

 

Sekarang Hantam dan Beruni dapat melihat Lantip memutarkan bola matanya. Hantam menghadiahinya sebuah bogem mentah.

 

“Hentikan, Hantam! Kalian berdua jangan sentuh Lantip lagi!” gonggong Kapten.

 

Ia mengintip keluar sejenak untuk memastikan tidak ada orang yang menguping. Setelah puas ia kembali masuk, memijit matanya dengan telunjuk dan jempol tangan kanan.

 

“Hantam, Beruni, kalian itu... Aku bersyukur kalian bisa membaca. Biasanya sih, paling banter, anggota pasukan keamanan cuma bisa ngitung duit, sama nyanyi lagu-lagu kotor. Lebih jarang lagi anggota pasukan keamanan yang bisa menulis dengan rapi, tanpa merusak pena yang digunakan. Coba ceritakan, bagaimana kalian bisa menulis?” Kapten Gada memaksa tersenyum. Lantip malah bingung. Hantam senyum lebar.

 

“Papa aku dulu menitipkan aku ke seorang pedagang supaya aku bisa jadi pedagang suatu hari. Si pedagang, Lenandi namanya, mengajarkan aku membaca,” mata Hantam berbinar-binar.

 

“Kalau kau, Beruni?”

 

“Ayah aku seorang Pendeta Sang Penguasa. aku tidak boleh tidur kalau belum membaca dua atau tiga baris dari Perintah Sang Penguasa,” Lantip justru melihat kalau Beruni tidak nyaman membicarakan hal tersebut. Padahal seperti yang dikatakan Kapten, seharusnya ia bangga.

 

“Lalu mengapa kalian menjadi pasukan keamanan?”

 

Mendengar pertanyaan itu Hantam dan Beruni seolah bertukar ekspresi.

 

“Ayah aku ringan tangan. Suatu hari ia memukul mama dan adik karena makanannya sudah dingin ketika ia kembali dari kuil. Malam itu aku pastikan ia tidak dapat melihat mentari terbit keesokan harinya. Aku ditangkap dua hari berikutnya, dikirim ke tambang batu di Beting Pasahan dan membanting tulang di sana sampai Kapten Gada merekrut aku tahun lalu,” Lantip dapat melihat kilat di mata Beruni. Kapten Gada hanya mengangguk-angguk dan menoleh ke Hantam.

 

“Suatu hari Lenandi didatangi penagih hutang. Kasar sekali orangnya. Aku waktu itu baru kembali ke karavan setelah... buang air kecil di hutan. Aku kira Lenandi diserang perampok. Mereka bertiga, dua aku habisi, satu lagi lari. Lenandi memberi tahu aku kalau mereka adalah penagih hutang seorang Fungsionaris. Lenandi menyuruh aku tidak melawan ketika pasukan keamanan situs terdekat mengepung kami. Ia dipenggal di tempat sementara aku dibuang ke Beting Pasahan seperti Beruni. Di sana pula Kapten merekrut aku.”

 

“Dan kalian berdua adalah infanteri berat terbaik yang aku punya. Bagaimana kalau kalian fokus ke pekerjaan kalian saja. Jangan kuatirkan tulisan Lantip,” tanggap Kapten. Kedua penculik Lantip tampak tidak puas.

 

“Lantip, ceritakan kepada kami bagaimana kau bisa menjadi salah satu Saing Mako!” Kapten sekarang menoleh padanya. Lantip seperti tersengat lebah saat menguap. Ia sama sekali tidak menyangka harus mendongeng kepada kedua penculiknya ini.

 

“Aku seorang pedagang, seperti... Lenandi namanya ya? Pedagang harus bisa baca tulis. Kami membaca peta, dan juga buku-buku harga. Kami menulis bukti penjualan. Aku tidak puas dengan keadaanku saat itu. Aku menggoda puteri seorang Fungsionaris dengan harapan bisa naik status. Nimince, namanya.”

 

Tawa Kapten Gada, Letnan Beruni, dan Sersan Hantam meledak di dalam tenda. Lantip sama sekali tidak menyangka tanggapan mereka akan seperti itu. Ia ikut tertawa juga.

 

“Tunangan si puteri, seorang Fungsionaris banyak gaya bernama Marhel, tidak terima. aku dibangkrutkan dan diusir dari area tempat aku berdagang. Izin dagangku dibakar.”

 

“Astaga! Kau menggoda puteri seorang Manajer? Gila kau Lantip,” Beruni kembali tertawa.

 

“Aku berumur... entahlah 16 tahun mungkin ketika diusir. Ya sudah, aku terima nasibku. Aku ke area lain, ke sini tepatnya, dan mencoba menjadi pedagang lagi. Para pedagang di sini tidak ada yang mengangkatku lebih dari penjaga karavan, walaupun aku sudah membuktikan aku bisa baca tulis. Entahlah, mungkin orang sini tidak percaya dengan orang asing. Aku kumpulin uang selama lima tahun dan kembali ke area ku, dengan harapan bisa ‘membeli’ izin dagang yang baru.”

 

Lantip dapat merasakan kebingungan yang dulu menerkamnya saat ia pulang ke rumah. Tanah-tanah pertanian keluarganya seperti tidak pernah disentuh selama bertahun-tahun kembali terhampar dalam benaknya. Di tempat yang dulu berdiri rumahnya hanya ada tumpukan arang.

 

“Mereka membakar rumah Papa dan Mamaku. Aku tanya keluarga Tandang yang tinggal di lembah seberang bukit. Mereka menerima aku diam-diam dan menceritakan semuanya. Nimince ternyata membatalkan pertunangannya dengan Marhel atas perlakuannya terhadapku. Marhel tambah tidak terima. Karena aku dalam pengasingan Ia malah menyakiti keluargaku. Papa dijual ke kapal Arrebanidas, dan Mama... Mama,” suaranya bergetar, air mata Lantip otomatis mengalir. Ia menghapusnya dengan gusar.

 

“Aku kembali ke sini. Kudengar Fungsionaris di sini akan berperang dengan Fungsionaris area tempat kelahiranku. Akupun memutuskan untuk mendaftar menjadi anggota salah satu pasukan keamanan bayaran yang disewa keluarga Fungsionaris area ini,” ia menoleh kepada Beruni dan Hantam.

 

“Aku tahu mengapa kalian tidak menyukaiku. Kalian pasti mendengar kalau aku membayar untuk diterima di Saing Mako. Itu salah! Aku duel dengan rekruter kita, Sersan Jelita, dan menang. Uang yang kukumpulkan selama lima tahun itu aku berikan kepada kompi kita, dengan harapan kalau kompi kita bertemu dengan seorang fungsionaris dari keluarga Marhel, aku boleh mencabut nyawanya, apapun pangkatku!”

 

“Sejauh ini sih kita belum mendapatkan kesempatan itu,” kata Kapten Gada. Ia menempatkan tangannya di pundak Lantip.

 

“Aku mengangkat pemuda yang berisi api ini menjadi seorang sejarawan karena ia jeli dan cerdas. Dia tidak salah kok. Aku memang mengulur-ulur pertempuran kita dengan Fungsionaris Semani. Aku memang memastikan pasukan mereka semangatnya menurun dulu sebelum kita berhadapan dengan mereka. Itu bukan berarti kita pengecut, kawan. Itu berarti kita lebih cerdik.

 

Sang Pelindung tidak menyalahkan pengikutnya yang bertarung dengan cerdik, jangan kalian lupa itu! Dan kita menang, bukan? Itu berarti Sang Pelindung lebih menyayangi kita. Lantip hanya menulis di jurnal kita apa adanya, supaya siapapun yang membacanya di masa depan bisa belajar dari keberhasilan dan kegagalan kita.”

 

“Tapi,” Beruni masih tidak puas, “Sebelumnya tidak pernah ada yang menulis seperti itu.”

 

“Bukan berarti itu salah kan? Coba kalian baca entri-entri lama di jurnal kita itu. ‘Kapten siapanamanya menemui pasukan siapayangpunya pada tanggal entahberapa dan bertempur dengan gagah berani. Sebelum mentari terbenam pertempuran sudah berakhir namun Kapten kita kalah.’ Pelajaran apa yang bisa kita dapat dari tulisan seperti itu? Tidak, kawan! Lantip menulis dengan benar. Dengan begini, siapapun penggantiku nanti dapat mewarisi sebagian kecerdikanku dan menghindari keteledoranku. Supaya Saing Mako tetap berbaris sampai akhir zaman! Itu yang kita mau bukan?”

 

Ragu tetap melekat di wajah Beruni dan Hantam seperti noda yang tidak mau hilang. Tapi pandangan mereka terhadap Lantip sudah berubah. Di hadapan mereka bukanlah seseorang yang ingin mencuri kejayaan Saing Mako, tapi sesama anggota dengan masa lalu yang pahit. Mereka menawarkan maaf kepadanya. Lantip menerima dengan rendah hati. Mereka toh terlalu sederhana untuk mengerti maksudnya.

 

Tapi Lantip tambah kagum dengan Kapten Gada. Ia sama sekali belum pernah menjelaskan kepada Kapten mengapa ia tidak menulis di jurnal mereka seperti para sejarawan terdahulu. Walau begitu Sang Kapten tahu persis apa maksudnya menulis demikian, untuk mewarisi kebijaksanaan kepada penurus mereka nanti. Lantip bertanya bagaimana Kapten Gada bisa tahu apa yang dipikirnya setelah Beruni dan Hantam pergi.

 

“Lah jelas kok. Aku sendiri suka sumpek baca entri-entri lama kita. Bahkan entri yang mengatakan kompi kita menang. Formasi yang dipilih kapten saat itu apa? Kondisi pasukan dan pasokan mereka bagaimana? Semua tidak jelas. Yang ditulis cuma tanggal sekian, kita melawan ini dan menang, atau kalah. Apa gunanya coba?” tanggap Kapten Gada sambil menuang minum.

 

“Tapi apa yang dibilang Beruni dan Hantam jangan kita abaikan juga. Kalau ada orang selain mereka yang bisa baca lalu dia mengintip jurnal kita, kamu bakal diprotes lagi.”

 

“Jadi gimana dong?” Lantip menunggu usulan.

 

“Aku akan beli satu buku lagi. Di buku kedua, kita beri judul ‘Laporan Tempur Saing Mako’. Tulis di sana pertempuran-pertempuran kita dengan detail. Di Jurnal Kompi, tulislah seperti yang lama-lama. Gunakan kata sifat yang lebih flamboyan kalau bisa,” Kapten Gada terkekeh. Lantip mengangguk setuju.

 

“Aku boleh kembali mengasah tombakku?”

 

“Silakan. Tapi satu hal, Lantip. Untuk mengawasi pertempuran-pertempuran kita, kau harus berada agak jauh dari garis depan. Kau akan kupasangkan dengan salah satu regu pemanah kita. Gimana?”

 

“Asalkan perjanjianku dengan kompi ini tetap berlaku, aku tidak keberatan.”

 

Kapten Gada mengangguk dan menyodorkan tangannya, “Kalau ada keluarga Marhel di medan pertempuran, kau boleh membunuhnya.”

 

Lantip menjabat tangan Kaptennya dengan mantap dan berlalu.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer duduk
duduk at Kompi Saing Mako: Lantip, Sejarawan (8 weeks 2 days ago)
80

menarik ceritanya.
Salam Kenal

Writer sabbath
sabbath at Kompi Saing Mako: Lantip, Sejarawan (14 weeks 2 days ago)
80

Alur ceritanya bagus, tapi gaya bahasa dialognya mm unik. Entah ya.. Kesannya santai banget dan mungkin memang nggak dibuat terlalu serius, tapi di beberapa bagian kayak ada yang janggal.

Setelah dibaca ulang, dialognya memang kurang konsisten. Ada yang nyantai ada yang enggak. Baiklah. Terima kasih sudah mampir ya.

40

nice

Kalo nice jangan dikasi nilai empat kali.

Writer embun88
embun88 at Kompi Saing Mako: Lantip, Sejarawan (17 weeks 6 days ago)
90

Cerita yang sangat mengagumkan, aku kasih nilai 9 tuh

__________________________________________________
Hubungi Rajaprinter.id sebagai pusat rental fotocopy dan printer yang termurah di Indonesia

Makasi uda mampir ya.