Kutukan chap pertama

Pendiam yang menghanyutkan
Suatu waktu di tengah malam.
Aku tengah berjalan di sebuah gang sempit. Bebauan yang berada di gang sempit membuat serasa ingin muntah. Namun, syukurlah aku sudah terbiasa dengan ini. Sekitar 2 atau mungkin 3 tahun yang lalu, aku tinggal di sini. Rumahku tidak terlalu jauh, dan aku teringat sejak pertama kali pindah ke sini.
Suasana kotor dan bebauan bangkai mewabah tempat ini. Pakaianku memiliki aroma yang sama di tempat ini, padahal aku memakai wewangian tebal. Mungkin orang biasa akan mandi 3 kali, jika aku hanya mandi 5 kali. Memang pertama kali memiliki kesan buruk.
Saat itu pikiranku benar-benar kacau, apalagi aku tidak mempunyai beberapa uang untuk membeli sebuah rumah layak, seperti yang terdapat di iklan televisi. Pekerjaanku sebagai buruh lepas, yaitu apapun yang bisa dikerjakan. Sepertinya tempat ini layak bagiku, yang ingin serba murah atau gratisan.
Namun, aku tidak tega bila hidup serba gratis. Bagiku dunia ini tidak ada yang gratis, selama aku masih mempunyai nafas untuk bertahan. Aku terus memotivasi apapun yang aku kerjakan sekarang, demi masa depanku sendiri.
Tetanggaku sangat ramah, walaupun sangat sedikit yang tinggal di sini. Terkadang aku diberi kue oleh tetangga, dan kuenya terasa bercampur dengan wewangian daerah ini, tetapi aku masih bisa memakannya.
Dulu Aku memiliki mimpi untuk hidup di kota, dengan pekerjaan yang meledakkan kantong. Berpikir yang lain, seperti mempunyai keluarga yang bahagia atau hewan peliharaan yang lucu. Aku hanya membutuhkan biaya yang cukup sebelum pergi, dan tidak ingin menjadi petugas daur ulang.
Begitulah saat aku pertama kali tinggal, yang terpikir ingin berlalu dari tempat ini. Namun, sesuatu membuatku tersadar. Membuktikan bahwa aku sudah tinggal 2 tahun lebih di tempat ini.
Sekarang malam terlalu larut, dan pekerjaanku baru saja selesai.
Inilah hidupku sekarang, membersihkan apa yang manusia ciptakan. Tidak ada keluhan ataupun ratapan, melakukan tugas agar tercipta lingkungan sehat adalah dambaan semua orang. Rasa malas terkadang tiba, namun demi sesuap nasi apapun kulakukan.
Sepertinya aku mulai menyukai pekerjaanku sekarang.
Noda lumpur di sepatu terkadang meresahkan, dan cahaya semakin meredup di tempat ini. Namun, aku masih tidak kesulitan berjalan, sebab adanya dinding di sampingku sebagai navigator penunjuk jalan atau kompas. Gang sempit terkadang membawa mimpi buruk serta keanehan, tetapi panik bukanlah pilihan tidak melewatinya, aku masih bisa bertahan melewatinya.
"Syukurlah tidak ada yang terbunuh malam ini." ujarku.
Kyaa...
Ssstt, diam!
Aku mendengar suara, dan bulu kuduk serasa berdiri. Sesuatu yang ingin kuucapkan setelah mendengar suara itu, aku berpura-pura tidak mengetahuinya. Lagi pula suara itu mungkin berasal dari imajinasi saja.
Jangan mmasss...jangaaaannnn!

Oh tidak! Suara itu semakin mengeras dan menggema di sepanjang gang ini. Sepertinya kepalaku terisi kalimat itu, ataukah imajinasiku semakin diperparah dengan kondisi gang sempit yang gelap ini.
Ahh...ahh... Mas aku mohon. Jangaaann!
Suatu yang tidak nyaman telah terasa ketika aku melihatmya. Aku mulai berkeringat sangat dingin, aku ingin menghentikannya tetapi pasti ada yang terbunuh malam ini.
Yaitu aku, sang pemergok kasus pemerkosaan.

***
"hmmfhh!"
Hari yang cerah, dan masih pukul sembilan tiga puluh pagi. Ruangan ini sangat luas dan penuh dengan buku. Beberapa lemari memanjang di dinding ruangan, meja juga terletak berdempetan dengan lemari itu. Cahaya matahari begitu terang di balik jendela itu,karena kain korden yang dibuka agar cahaya dapat masuk. Beberapa meja dan kursi tertata begitu rapi, namun di lemari tidak demikian. Beberapa buku terlihat berantakan dan berserakan, tetapi syukurlah lantai tidak terlalu berantakan seperti buku itu. Ruangan ini adalah perpustakaan, bisa dibilang tempat yang membosankan bagi kalangan murid. Kecuali, seorang murid yang memang berniat belajar dan senang membaca.
"Ini terlalu sulit!"
Sudah beberapa kali Heri menggosok kertas itu dengan penghapusnya, terutama tangannya mulai terlihat frustasi dengan apa yang ditulis. Bukan berarti semua kesalahan harus diterima secarik kertas, walaupun Heri tidak begitu memerdulikan sesuatu itu. Perbuatan sia-sia jika kemarahan dilakukan pada kertas walaupun seberapa besar frustasinya dirimu...
"Sebaiknya aku deskripsikan suasana yang lebih, mungkin hutan. Seramnya dapet." Ujarnya sembari bersiap menulis lagi.
"Bukankah pemerkosaan di sampah daur ulang lebih meyakinkan!?" Ujar Heri sembari menggarukkan kepala.
Heri berdebat dengan dirinya sendiri bukan orang lain, sekarang Heri hanya berdengus kesal dan tidak memerhatikan tulisannya lagi. Sekarang perhatian dia tujukan ke arah jam dinding, yang berada tidak jauh dari posisinya. Jam dinding yang berdetak ‘tik-tik’ setiap detiknya, terlalu mengganggu indra pendengaran jika terfokus dengan suara detiknya. Melihat Heri dengan keadaan seperti itu, pasti membuat orang di sekitarnya berpikir dia aneh. Jika diperhatikan ruangan ini bagaikan tidak ada penghuninya, yaitu kosong tanpa ada seseorang. Namun, dua orang berada di sini, yaitu Heri dan seorang bapak di sana.
"Sebaiknya aku beli sesuatu."
Heri beranjak dari tempat duduknya, sepertinya hendak menuju pintu keluar. Memang membosankan bila terus berada di perpustakaan, mungkin jika Heri berpendapat demikian. Di tempat ini hanya ada satu pintu keluar, terletak di sebelah utara. Bapak itu sedang duduk di meja dekat pintu keluar, menikmati koran dan kopi yang sudah tersaji di atas meja. Heri melangkahkan kakinya perlahan untuk mencapai pintu itu. Mungkin Heri terlalu berjalan pelan, ataukah dia mengalami pusing karena terlalu lama duduk.
"Sudah selesai, Heri?"
"Ya pak burhan," ujar Heri sembari tersenyum.
Pak burhan, yang perawakannya seperti polisi. Kayaknya memang dia pantas jadi polisi ketimbang berada di perpustakaan. Kerjaan hanya duduk sembari membaca koran, tentu terlihat membosankan bagi sebagian orang melakukan itu. Pak burhan adalah guru BK yang di sekolah ini. Heri yang merasa tentram dan damai bersama guru BK memang tidak wajar. Namun, Heri belum bermasalah terhadap siapapun. Jika teman-temannya mungkin ada yang berpendapat berbeda mengenai Heri.
"Kenapa kau suka ke perpustakaan itu?" Atau "Apa kau tidak takut dengan guru BK itu?"
Beberapa pertanyaan mengenai dirinya selalu dijawab dengan tenang. "Cuman pengen ke sana."
Sederhana dan terlihat biasa saja dalam menjawab pertanyaan temannya. Sekarang Heri hanyalah seorang siswa kelas dua pada sekolah jurusan di mataram, dia masuk kelas unggulan 2-A. Heri anak pendiam dan memilih ke perpustakaan bersama guru BK di dalamnya. Keseharian dihabiskan menulis sebuah karangan, siapa sangka bahwa perpustakaan merupakan tempat yang ideal mendapat ide.Sekarang adalah minggu kedua bagi Heri, setelah melewati ujian akhir kelas satu atau libur kenaikan. Heri baru saja menjabat menjadi siswa kelas 2-A tidak begitu lama.
Setelah melangkah keluar, tujuannya ialah bangunan di depan itu. Kantin tidak jauh dari perpustakaan, mungkin diperkirakan sepuluh langkah kaki bisa mencapai pintu masuknya. Hal wajar bila luas sekolahnya saja tidak seperti lapangan bola, terlalu sempit. Namun, bukan masalah di mana kau tinggal, karena belajar tidak memersalahkan hal sepele dan menuntut ilmu merupakan kesuksesan untuk masa depan. Setidaknya itu yang dipikirkan Heri.
Heri bergumam,"Ramai sekali?"
Diibaratkan seperti kapal pecah yang menampung banyak muatan. Dihadapan Heri terlalu banyak siswa yang mengantri, bukan hal yang aneh bila luas sekolah sempit. Seperti yang pernah disebutkan sebelumnya. Bisa saja Heri menerobos masuk, hanya saja para gadis itu tidak begitu senang kelihatannya. Jika itu perempuan yang berdesakan dengan seorang lelaki, tentulah akan sangat merepotkan. Para gadis itu membawa senjata pamungkas mereka, sebuah bom yang apabila disentuh akan meledak di wajahmu. Sebenarnya semua itu hanyalah sebuah ungkapan memalukan, bila Heri terlalu berhati-hati dengan para gadis itu.
"Heri, cepat masuk."
Tetiba saja seseorang mendorong punggung Heri, secara reflek mungkin terlalu tergesa-gesa bila mengambil keputusan masuk. Namun, para gadis di dalam secara reflek menghindar.
Tunggu!. Begitulah yang dipikirkan Heri. Syukurlah tidak terjadi apapun ketika dipaksa masuk, apalagi terlihat horor bila menyentuhnya. Apakah kalian mengerti maksudnya.
"Dasar mesum!" Atau "Awas saja menyentuhnya, akan aku buat lubang baru di wajahmu!" Sebuah perkataan yang pasti terlontarkan oleh para gadis. Namun, beberapa tatapan tajam sudah mengatakan semua itu. Heri yang telah masuk sudah di hadiahi beberapa tatapan tajam. Para gadis mencoba melakukan pertahanan daerah rawannya: Menyilangkan tangan di dada, mundur ke belakang, menatap. Heri hanya tersenyum, tetapi bukan berarti masalah akan hilang.
Siapa yang mendorongku? Heri berpikir demikian, kemudian dia mencari sosok yang mendorongnya. Matanya yang bagaikan detektif memulai aksinya: Seseorang berambut hitam panjang, tubuh agak pendek, berkulit coklat. Analisa sangat cepat, karena para gadis terlalu menakutkan bila sorotan matanya demikian. Heri mencoba mengenali orang yang mendorongnya.
Bukankah dia? Gadis itu secepatnya berpaling dan meninggalkan Heri yang berusaha mengenalinya. Gadis itu seakan tidak ingin wajahnya diketahui siapapun, termasuk oleh Heri. Namun, gadis itu sempat memanggil Heri, seakan sudah saling kenal. Sesuatu yang dibilang cukup aneh, di mana orang yang tidak begitu dikenal menyebut namanya. Heri telah selesai menganalisa, sekarang pilihannya berbelanja atau terus memerhatikan gadis itu.
"Secepatnya keluar dari sini." Gumamnya.
Menyadari para gadis menatapnya bagaikan harimau yang mengintai mangsa. Heri mengambil apa yang dibutuhkannya: permen, roti, minuman. Kemudian menuju kasir yang berada di sebelah pintu keluar itu. Simpel dan tidak perlu memikirkan apapun, begitulah yang seharusnya Heri pikirkan.
"Semuanya sepuluh ribu," ujar seorang Ibu.
Ruangan ini penuh beraneka macam makanan, dimulai dengan makanan maupun minuman yang berada di etalase. Tempat mesin fotokopi berada di sudut dinding dan bersebelahan dengan warung bakso. Kita bisa melihat suasana terbuka seperti jalanan di depan, dengan pintu pagar juga terlihat. Kantin ini bagaikan supermarket namun terbatasi etalase, yang menutup sebagian badan agar seseorang bisa leluasa berbelanja. Mungkin sekolah ini sengaja membuka usaha seperti ini, agar siswa maupun orang luar leluasa berbelanja. Tidak lupa sebuah warung bakso yang bersebelahan dengan etalase, yang dibatasi papan kayu kira-kira setengah badan.
Layaknya sebuah toko ‘2 in 1’. Lengkap dengan beberapa fasilitas yang dibutuhkan murid maupun orang luar. Keamanan cukup terjamin, karena di tempat itu terdapat pos penjaga. Siswa juga tidak mungkin bisa keluar di jalan, karena peraturan memang sudah dibuat khusus untuk ini. Namun, ada juga yang tidak mematuhi peraturan dengan duduk di pinggir jalan dan terlihat merokok. Heri sesekali melirik gadis itu, sepertinya dia sedang berada di mesin fotokopi.
"Siapa ya?" Gumamnya.
Tidak ingin memakan waktu lama berada di sini, Heri segera pergi agar tatapan buruan para gadis tidak selalu mengarah padanya. Sukses keluar kantin tetapi seorang cowok terlihat menggantikan posisi Heri. Beberapa langkah Heri hendak kembali ke perpustakaan, sembari membawa kantong belanjaan.

Eh? Heri mencoba membuka daun pintu, bisa dikatakan dia tidak bisa masuk ke dalam. Samar-samar terdengar suara seperti orang bergumam, entahlah apapun itu terdengar menyeramkan. "Kenapa kamu terlambat."
Heri sedikit menguping pembicaraan yang terjadi di dalam, dan dia sudah menduga kejadian apa itu. "Siswa telat lagi." Gumamnya.
Seperti sebuah kebiasaan bila terjadi kasus seperti ini, pintu perpustakaan tertutup dan diskusi seorang guru kepada muridnya. Satu hal yang dapat dipikirkan Heri adalah mengapa ruangan BK berada di perpustakaan?
Ruangan BK adalah pintu masuk dunia berbeda bagi kebanyakan siswa, karena tempatnya cukup menyeramkan dan terdapat orang galak. Pendapat lain mengatakan, jika memasuki ruangan itu adalah orang cari mati. Namun, perpustakaan terdapat ruangan BK merupakan keanehan. Beberapa pendapat memungkinkan bahwa setelah siswa ditegur, dia dapat membaca buku agar menambah wawasannya menghadapi hukuman. Mungkin saja para guru memilih jalan itu, menghubungkan siswa bermasalah dengan ruangan untuk membaca. Argument semacam itu memang hangat digosipkan oleh kalangan siswa.
Pasti akan lama. Heri berpikir demikian, dan memang terlihat tidak sopan bila mendengar pembicaraan. Karena penasaran, Heri mencoba masuk ke dalam, tetapi dia mengubah niatnya itu.
Sudahlah. Heri kembali menutup pintu, seakan dia tidak ingin masuk dan terlibat cukup jauh. Pilihan yang tepat bila mengingat kita untuk tidak ikut campur urusan siapapun, apalagi tidak membantu menyelesaikan masalah. Tapi jika Heri berpendapat, dia merasa takut mendengar orang marah-marah.
Setidaknya Heri sudah menutup pintu dengan rapat, walaupun masih terdengar suara di dalam. Seseorang yang mencoba membela diri dari hukuman.
"Sedang apa?"
Heri tanpa sadar mengucapkan, "Iii...!"
Bisa ditebak apa yang terjadi jika seseorang mengagetkanmu dari belakang. Sosok itu terlihat jelas ketika Heri berpaling ke belakang, seseorang yang sepertinya Heri kenal. Dari segi penampilan hanya siswa biasa. Jika seorang guru maka tamat sudah riwayatnya. Mungkin saja.
"Eh? Tidak ada."
Pandangan Heri mencoba menebak: Seseorang berambut hitam panjang, tubuh agak pendek, berkulit coklat. Kemudian dia melihat tag namanya. Muliani.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Ujar Muliani bertanya.
Hanya beberapa opsi yang dapat di pilih Heri saat bertemu dengan seorang gadis.
Pertama : "Aku tidak ngapa-ngapain."
Kedua : "Hanya mencari tempat makan."
Ketiga : "Mau balik ke kelas."
Semua opsi sangat buruk dalam pikiran Heri, apalagi dikatakan pada gadis. Namun, keadaan sudah mendesak dia tidak memiliki pilihan selain memilih opsi kedua.
"Oohh."
Balasan yang cukup simpel dan datar terucap pada bibirnya, seakan Muliani mengerti apa yang Heri maksudkan. Bisa dikatakan opsi pilihannya memang buruk di kesan pertama, tetapi sepertinya berjalan baik.
"Belanja apan tuuh? banyak amat." Tanya Muliani penasaran.
"Snack, minuman dan permen." Ujar Heri.
"Permen apa?" Muliani membalas.
"Permen karet," balas Heri.
Sebenarnya di kantin hampir tidak ditemukan permen lain kecuali permen karet, mungkin sudah diborong habis oleh beberapa siswa. Heri juga terpaksa membelinya karena terburu-buru menghindar. Percakapan ini terasa janggal bagi Heri, seakan ikut kuis tanya jawab. Namun, semuanya berjalan baik sepertinya.
Heri mengambil permen yang dikantongi sebelumnya. "Mau permen?"
Muliani menganguk pelan sembari mengambil permen yang ditawarkan. "Terima kasih."

"Gak mau yang lain? misalnya ini." Heri menawarkan.
"Ini ajah, aku sangat suka permen. Btw sekarang masuk loohh."
Hm? Heri menatap gadis itu dengan penuh tanda tanya, dia tidak mengerti maksud Muliani. Biasanya bel selalu berbunyi menandakan masuk kelas dan waktu istirahat jam pertama selesai, bahkan Heri baru saja balik ke kantin.
"Soalnya lagi mati lampu, udah ya. Sampai ketemu lagi." Ujar Muliani.
"Ah? Ya." Balas Heri sembari tersenyum.

Hal yang tidak wajar bila sekolah mati lampu apalagi daerah perkotaan, seperti itulah yang dipikirkan Heri. Akhirnya Heri paham maksudnya, dia bahkan serasa bersyukur ada yang memberitahu. Walaupun telat masuk lebih baik dari pada telat datang ke sekolah, dan berakhir di ruangan BK.
Sekarang Heri merasakan hatinya panas atau mungkin hangat, sebenarnya memang bukan pertama kali dia berbincang dengan gadis. Heri memerhatikan bagaimana Muliani menampakkan punggungnya. Sekilas pandangan pertama yang melihat gadis berjalan anggun. Rambut panjangnya seakan di terpa angin, berkelok ke kiri maupun kanan. Muliani seakan ingin buru-buru meninggalkan Heri dan kembali ke kelas.
"Siapa dia ya?" Gumam Heri.
Tidak banyak Heri kenal di sekolah ini kecuali gurunya. Mengingat selama ini waktu hanya dia habiskan di ruangan perpustakaan, kalo sedang lapar dia menuju kantin. Pada kelas satu juga masih sama, tidak berubah sama sekali. Pembagian kelas juga terjadi di sekolah ini, bertujuan mengukur kemampuan murid. Kelas terbagi menjadi huruf 2-A dan yang terakhir 2-D. Untuk kelas bawah terisi kelas satu dan dua, sementara di lantai dua ada kelas tiga. Namun, suatu kondisi ketika kelas B melebihi kapasitas hingga memakai dua kelas. Kelas tiga untuk bulan ini melakukan ‘prakerin’. Sebuah praktek kerja industry di sebuah perusahaan. Suasana terlihat sepi bila tidak ada kelas tiga, tetapi sisi baiknya ruangan kelas yang kosong siap menampung jumlah siswa yang berlebihan.
"Kelas 2-D rupanya."
Heri memang tidak berhenti melihatnya, hingga Muliani terlihat menaiki tangga. Ketika Muliani tidak menampakkan wujudnya, Heri masih berdiri di depan pintu perpustakaan.
***

Srrttt...srrrttt

"Baiklah, siapa yang bisa mengerjakan soal ini."
Waktunya masuk kelas. Pelajaran kali ini adalah sesuatu yang dapat membantu menyembuhkan penyakit kurang tidur, seperti serangkaian rumus penghasil kantuk dan mengandung arti selalu benar. Matematika.
"Saya, bu."
Kita selamat, terpujilah dirimu, aku cinta kau. Mungkin gambaran bagi murid yang memang terbiasa menjawab soal, apalagi rumus seperti itu. Teman-teman yang lain tiada henti memuji penyelamat yang berani maju ke depan.
Rumus X dan Y. Begitulah gambaran yang terdapat di papan tulis itu, sebuah rumus yang mematok hasil persamaan X dan Y. Namun, adakalanya rumus seperti itu dipersulit dengan mencari salah satunya, atau keduanya. Asalkan ada yang bisa menjawab di papan tulis, seorang murid yang duduk sudah mensyukuri hidup tentramnya di kursi.
"Berikutnya, siapa yang ingin mencoba? Kalian kelas 2-A pasti dengan mudah menjawabnya."
Sebuah perkataan suci seakan terdengar dari mulut manis para murid, mungkin hanya di dalam pikiran mereka. Namun, salah satu bergumam. "Terkutuklah kau."
Mengenai obat kurang tidur. Heri merasakan matanya begitu berat, seakan mata itu merayunya supaya terpejam sesaat. Beberapa kali Heri mengedipkan matanya, kemudian menggelengkan kepala agar tetap terjaga. Melihat rumus saja Heri tidak sanggup apalagi melihat gurunya.
"Bagaimana denganmu, Heri."
Guru memanggil namanya, tetapi Heri seakan tidak memerdulikan. Hidupnya seakan penuh kedamaian, mungkin jika Heri menemukan sebuah bantal atau kasur dia akan tertidur pulas serasa di surga. Sebuah ketentraman yang akan kau dapatkan ketika sudah tidur ialah, menemukan sesuatu yang menurutmu puas tidur.
Braakkk...
"Heri!"
Hentakkan tangan di meja begitu keras, membuat Heri kaget. "I-iya."
"Kerjakan soal ini!"
Tawa kecil kian menggema di ruangan kelas, seakan murid mendapat hiburan yang pantas untuk hari ini. Heri bangkit dengan malas, dan matanya masih terlihat berat.
"Haahh."
Heri nampak menggerutu, tetapi dia harus menulis sesuatu di papan sebelum sesuatu yang besar memarahinya.
Ssrrtt...srrttt
"Sudah,bu."
Hanya beberapa detik bagi Heri untuk menjawabnya, mungkin soal itu tidak terlalu sulit baginya.
"Kalau begitu satu lagi, ini penyegaran agar tidak ngantuk."
Setelah guru memberikan soal lagi, Heri kembali menulis lagi. Seperti biasa, Heri membutuhkan beberapa detik untuk menjawabnya.
"Wow, pendiam yang menghanyutkan."
Salah seorang murid mengeraskan suaranya sembari mengatakan kalimat itu, dan beberapa tawa kecil kian terdengar atau tepukan kecil. Sebenarnya mereka bisa saja berteriak ke sana-kemari, tetapi guru matematika kelihatan lebih galak dari guru BK. Walaupun dia Ibu-ibu kepala empat. Sekali ada yang berulah maka hukumannya berakhir di guru BK. Sepertinya memang begitu.

"Bagaimana, bu."
"Ya sudah, kembali ke tempat duduk."
"Alhamdulillah." Sebuah kalimat bersyukur ketika Heri diperbolehkan duduk oleh sang guru.
"Apa yang kau katakan Heri?"
"T-tidak ada."
Heri yang terbata-bata kalimatnya mengambil langkah seribu, menghindari guru yang hampir mengamuk di depannya. Beberapa siswa lain hanya bisa tersenyum kecil, mengingat guru kelihatannya dianggap remeh. Mungkin bagi sebagian siswa jika soal sulit dikerjakan dengan semudah itu, berarti soal itu memang tidak sulit, hanya gurunya tidak bisa membuat soal dengan benar.
"Karena sebentar lagi mau ada rapat, kalian kerjakan soal ini."

Semua terlihat bergemuruh seakan ruangan ini hampir hancur. Sang guru hanya menatap kesal dengan menyimpitkan mata, seakan ada debu di sana. Heri yang tetiba saja tersadar dari rasa kantuknya, bukan hanya Heri yang merasa gembira, teman-temannya ikut larut dalam kebahagiaan. Guru yang mengadakan rapat memang sangat jarang terjadi, dikatakan bisa lebih satu atau dua kali dalam sebulan. Begitu guru tidak menampakkan wujudnya di dalam kelas, sorak gemuruh terdengar hingga tidak ada satupun terlewat untuk diam. Kecuali Heri yang memilih tidur kembali.
Ruangan ini semakin riuh dengan gelak tawa, baik yang membicarakan kenapa bumi itu datar ataupun sebagainya. Mungkin gossip mengenai siapa yang bakalan menikahi artis korea ataupun berbicara dari mana asalnya telur. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok, seperti golongan cewek berada di sudut kiri dan cowok sudut kanan.
"Jangaaaannnnn!"
"Ayolah sayang."
Di sana terjadi aksi kejar mengejar bagaikan kucing yang mau menikah. Sang cewek yang mencoba melawan dan menghindari godaan cowok itu. Cewek itu berteriak cukup nyaring hingga Heri terpaksa membuka matanya.
"Menjauuuhh, menjaaaauuuhhh!"
"Cantik- cantik koq bawel."
Seluruh mata tertuju ke satu arah, yaitu kucing garong di dekat papan tulis. Cakar-mencakar ataupun berlarian mereka lakukan dengan sempurna, maksudnya tidak mengenai benda apapun seperti meja dan kursi. Biasalah jika ada yang bertengkar pasti melibatkan barang terdekatnya, berfungsi sebagai alat pertahanan.
"Mundur 'gak!"
"Sabar sayaang."
Sekarang penentuan bagi mereka, karena cewek itu tengah mengancam dengan pulpen. Semua mata tertuju mereka berdua, termasuk Heri yang sedari tadi sudah terbangun.
Cowok itu tetap maju seakan tidak terjadi apapun, bahkan gertakan cewek itu dianggap angin oleh cowok itu. Bagi seorang lelaki yang telah mengunci mangsa, tidak akan dia lepaskan pandangan hausnya. Namun, tangan kanan cowok itu digenggam erat.
"Ahh sayang, tanganmu hangat sekali."
"Aaaaahhhhhh!
Apa yang terjadi selanjutnya? Heri berpikir demikian. Justru sesuatu yang mengerikan terjadi, seperti tangan cowok itu ditusuk menggunakan ujung pulpen.
"Ini balasan suka menganggu gwe!"
"Aahhhhhh!"
Cowok itu meriang kesakitan dan beberapa yang lain langsung melerai pertengkaran mereka. Bisa dikatakan, semua berakhir dengan tragis. Cowok itu meringis kesakitan sembari memegang tangan kanan yang tertusuk. Heri menjadi penasaran untuk melihat lebih dekat.
"Amboooyyy, tembus cuuuyy."
"Bawa ke uks!"
Mengerikan. Heri berpikir demikian. Tidak banyak nama diketahui oleh Heri, walaupun berada di kelas ini lebih dari satu tahun. Heri yang sibuk dengan aktifitas ke perpustakaan ataupun kantin, seakan membuat dirinya kelihatan congkak. Heri sering dijuluki 'pendiam yang menghanyutkan'. Bahkan dia tidak mengetahui artinya.
Dia mendapat julukan ketika menjawab soal tersulit, bahkan membuat juara umum di kelasnya terdiam. Padahal Heri mendapat nilai rata-rata atau tidak melampaui juara kelas. Guru matematikanya yang memberi soal dijawab mudah oleh Heri. Kemungkinan Heri punya bakat walaupun tidak disadarinya.
Beberapa pendapat temannya menyutujui Heri dijuluki demikian. Beberapa pendapat lain hanya menganggap Heri congkak atau aneh.
Heri bergumam," Mungkin saatnya menghafal nama teman."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Kutukan chap pertama (7 weeks 1 hour ago)
60

Ini keren.
Saya sampai mikir keras, bagaimana sebenarnya hubungan antara orang pertama di cerita awal yang background ceritanya di gang sempit yang berbahaya itu, dengan pelajar yang ada di perpustakaan. Ternyata...

Koreksinya sedikit, untuk penulisan urutan katanya masih ada yang rancu dan tidak perlu, misalnya; "Pak burhan adalah guru BK yang di sekolah ini."
Penggunaan kata 'yang' disitu tidak menerangkan apapun, malah membuat terasa tidak perlu, dan ada beberapa bagian lagi yang urutan katanya rancu.

Well, secara keseluruhan saya suka dengan jenis cerita seperti ini. Saya juga banyak menggunakan gaya cerita seperti ini di beberapa tulisan saya.
Maafkan jika perkataan saya menyinggung.
Keep writing.
Love xoxo

Writer nusantara
nusantara at Kutukan chap pertama (32 weeks 3 days ago)
90

"mas, jangan, mas.."
itu kalau intonasinya berubah bisa jadi candaan unik. heheee
saya membayangkan orang mengucapkan itu dan suasana yang dibangun kurang menunjukkan gambaran mencekamnya...
tapi bagus ceritanya.