Before 29 3

Aku tak berani berlama-lama bertatapan dengannya. Bukan hal yang biasa bagiku sedari dulu. Seberapapun yang ku usahakan tetap takkan bisa membuatku sanggup berhadap-hadapan karena kuanggap memang tak semestinya kulakukan itu. Alasannya sederhana, dia tak mengenalku dan aku pun tak mengenalnya.

"1,2,3,4,5,6." Kataku padanya dan dia bilang itu angka yang terlalu mudah. Aku tak banyak bicara karena takut dianggap orang tolol. Sebenarnya hanya sedikit tolol. Lalu dia menawarkan beberapa angka enam dijit, kembar.

"11,33,44." Katanya padaku dan kujawab dengan tanpa berpikir, "ya, sudah itu saja." Semua selesai. Tak ada yang perlu kupikirkan.

Setiba di rumah, daripada melamun tak karuan, dalam sela waktu kupikirkan yang baik-baik untuk mengasah otak. Itu lebih baik daripada melamunkan hal yang tidak-tidak.

Pertanyaan demi pertanyaan kumunculkan, diantaranya:

- Ada apa dengan angka 22, kenapa langsung meloncat ke 33?

- Kenapa harus angka itu yang dia ucapkan, kenapa bukan angka yang lain?

- Siapa yang menciptakan angka, Tuhan atau manusia?

- Kapan manusia memahami huruf dan angka untuk yang pertama kalinya?

- Lain dulu lain sekarang, apa yang terjadi bila di Indonesia menggunakan huruf bersambung-sambung seperti Thailand dan India?

Mungkin tak ada yang percaya, pertanyaan demi pertanyaan muncul seperti truk gandeng bergandeng-gandeng dan kurasa tak perlu dituliskan semua. Aku berhenti sebelum pertanyaan ke 29.

Lalu.....

Suara hati menjawab: "Manusia diciptakan dengan segala perangkat yang ada padanya, khususnya akal. Maka semua jawaban ada pada Tuhan, Allah sang pencipta seluruh alam semesta. Bukan pada akal."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer iman
iman at Before 29 3 (20 weeks 2 days ago)
90

Suara hati saya menjawab : inilah tantangan yang diberikan Tuhan kepada manusia..bahwa sejatinya manusia hanya bisa menjiplak yang ada tanpa harus berfikir darimana asalnya..

Writer nusantara
nusantara at Before 29 3 (19 weeks 2 days ago)

Ya ya ya,
bisa jadi