Sebuah Renungan (1)

Siang ini.Tepat semua semut-semut berduka karena meminta air hujan kepada Tuhan tetapi tidak segera terkabul. Yang ada hanya kotoran seorang anak kecil laki-laki yang kotorannya tepat mengenai sang semut...

Lalu sang Semut protes kepada Tuhannya.
.
'Ya Tuhan..mengapa Engkau memberi kotoran yang hina Ini, padahal aku berdoa meminta air
Hujan?

Tak bergeming..Hujan pun tak kunjung datang. Lalu sang semut pun terus memohon kepada Tuhannya sambil menghiraukan kotoran yang datang padanya.

1 hari.2hari...sampai sebulan lamanya sang semut menunggu hujan.Tetapi tetap saja tak kunjung datang.

Hidup tetap tak bisa ditebak oleh makhluk.Karena apa yang terjadi saat ini dan seterusnya kita tidak akan pernah tahu.

Sang semut masih terus berdoa. Dan tanpa tersadar doanya sebenarnya sudah terkabul. Tapi dalam bentuk yang lain. Ketika semua dianggap hina. Maka sebenarnya sesuatu yang hina bukan sesuatu yang buruk melainkan bisa 180 derajat bermanfaat. yang telah dianggap hina oleh sang semut dalam waktu yang lama ternyata bisa menyuburkan tanah. Lalu tanah yang tadinya kering bisa subur.Dan dari kesuburan tanah maka sang semut bisa berkembang biak secara cepat?.

Hampir 2 bulan lamanya sang semut menunggu. Ternyata jawaban yang selama ini dicari adalah nimmat yang masih tersembunyi dibalik sebuah dugaan yang negatif.

Sang semut baru bisa merasakan nikmat itu.

Lalu Tuhan berfirman kepada seluruh makhluk.

'Maka nikmat manakah yang engkau dustakan..wahai penduduk Bumi?. "Yang Kuinginkan dari kalian sebenarnya adalah kesabaran dan ketakwaan,seterusnya biarkan semua kesabaran dan ketakwaanmu itu menjawab semua kebenaran tentang siapa Diriku."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer no_one
no_one at Sebuah Renungan (1) (30 weeks 6 days ago)
80

pesan dari ceritanya tersampaikan, lebih ke pemilihan kata aja

Writer nusantara
nusantara at Sebuah Renungan (1) (31 weeks 1 hour ago)
90

bagus,