Ruam

Aku hanya orang biasa yang suka membaca dan merenung sendiri memikirkan apa-apa saja yang terjadi, yang sudah terjadi dan akan terjadi. Membaca Ahzab:61, membuatku merenung, apakah ini merupakan salah satu dari sekian banyak keterangan yang disalah gunakan oleh para teroris itu?

Aku menolak memahami membunuh dengan bentuk tindakan penghilangan nyawa. Surat Qaf, sudah barang tentu menjadi kejelasan yang tak dapat dibantah bahwa Allah lah yang menjadi penguasa seluruh manusia dan takdirnya. Dan Allah mengajarkan agar manusia menghargai nyawa manusia. Itu menjadi tujuan bagi segala kehendak perubahan yang diharapkan, memanusiakan manusia dan membuat yang biadab menjadi beradab.

Rasanya tak ubahnya bagai memandang langit yang kelabu kala awan mendung tak membawa hujan menutupi langit menghalangi pandang ke-ingin-tahu-an yang biru. Aku berpikir sebagai orang biasa yang memahami melalui hati yang dengki, dengki melihat hal itu terjadi dan membuat orang-orang bertanya mengapa hal itu terjadi dan Tuhan mebiarkan hal itu terjadi?

Kehendak Tuhan atau kehendak teroris?

Berbicara takdir juga berbicara nasib yang sedang dan akan dijalani olehku dan seluruh manusia yang lain di muka bumi ini. Aku merasa ada yang aneh pada mereka yang menentukan nasib mereka sendiri sebagai pelaku bom bunuh diri dan bertujuan menghilangkan nyawa orang lain yang mereka anggap musuh dengan mengatas-namakan agama dan Tuhan.

Aku berpikir begini, ketika pihak kepolisian berhasil melakukan penangkapan dan mencegah terjadinya teror bom yang lain, apakah yang ada di pikiran teroris itu?

"Setan mengganggu rencana Tuhan yang menginginkan ledakan." Kata temanku tiba-tiba dan membuatku kaget.

"Haha, serius amat. Nulis apaan?" Katanya lanjut.

"Nggak nulis apa-apa. Cuma urek-urekan mengeluarkan pertanyaan yang ada dikepala."
Kataku.

"Mikirin amat kelakuan teroris. Mancing yuk?!" Katanya padaku.

"Males, mending cari angin, bawa hape buat foto-foto, kali aja ada dapet foto hantu teroris." Kataku.

"Hahaha, jadi teroris mati jadi hantu ya?" Katanya terbahak.

"Hantu dan Tuhan sama misterinya. Misteri." Kataku.

"Cabut, yuk." Katanya.

"Cabut? Cabut gigi?" Tanyaku.

"Maen, cari angin. Daripada mikir terus nulis urek-urekan tambah pusing." Katanya.

Aku lalu bergegas untuk cari angin dan ternyata mendapat kabar angin bahwa angin tertawa melihat segala sesuatu yang menyedihkan. Angin membawa kabar angin yang sedap dan yang tak sedap dan angin terus berputar ke segala arah, penuh jengah.Tak sanggup membantah bahwa manusia memang benar-benar mahluk yang suka menumpahkan darah.

Singkat cerita tak sengaja bertemu angin dan angin bercerita tentang dongeng masa lalu yang fiktif namun bermuatan positif. dan angin pun bercerita....

alkisah pada jaman dahulu kala tersebutlah dua kerajaan yang bertetangga, kedua penguasa saling membenci dan menebar permusuhan. Namun tak dapat disangkal putra dan putri mereka saling mencintai seperti romeo dan juliet. Kedua kerajaan itu sering bersengketa soal perbatasan.

Dikisahkan pangeran menculik putri dan tertahan di perbatasan kemudian ditahan dan dikenai hukuman mati. Hari kematiannya pun sudah ditetapkan.

Ayahanda pangeran berang tapi tak bisa berbuat apa-apa, bila menyerang pun tampaknya percuma. Sang ratu menginginkan penyerangan dan perang harus diambil sebagai keputusan terakhir. Lalu datanglah utusan dari kerajaan putri itu membawa pesan dari rajanya: "Silahkan bumi hanguskan kami dan pangeranmu tetap mati."

Ratu berpikir ulang dan raja hendak mengirimkan pesan balasan. Pengirim pesan diminta untuk pergi menyampaikan pesan dan ia enggan.

"Maaf, baginda raja. Kita dalam situasi yang sulit untuk menyelamatkan nyawa pangeran. Bahkan, seandainya nyawa hamba ditukar dengan pangeran pun hamba bersedia. Tapi, mereka tidak akan mau. Ratu memenjarakan pengirim pesan mereka dan bila hamba pergi maka hamba pun pasti tak kembali. Bunuh saja hamba disini. Tak usah mengirim hamba pada kematian yang bahkan keluarga hamba tak akan bisa mengurusi."

Lalu pembesar kerajaan yang mendengar itu menghunus pedangnya untuk menebas leher si penyampai pesan yang enggan.

"Tunggu!" Kata ratu kerajaan dan pembesar kerajaan menyarungkan kembali pedangnya.

"Aku tak ingin kehilangan putraku dan putra penyampai pesan tak ingin kehilangan ayahnya. Pengirim pesan, bangkitlah! Kau kumaafkan atas kata-kata burukmu. Bangkitlah, nona. Oh, Tuhan. aku tidak percaya kau bersikap seperti perempuan yang bukan perempuan."

Mendengar ucapan ratu pengirim pesan bersungkur dan bersujud di hadapan ratu.

Lalu istri daan anak si pengirim pesan didatangkan segera oleh pembesar kerajaan yang marah. Lalu raja bertanya:"Wahai, bidadari kerajaan. Apakah ini suamimu?"

Istri si pengirim pesan menjawab:"Bukan. Aku tidak memiliki suami pengecut sepertinya."

Lalu raja bertanya pada kedua anak si pengirim pesan:"Wahai, putra dan putri bidadari. Apakah ini ayahmu?"

Kedua anak si pengirim pesan menjawab:"Bukan, kami tidak memiliki ayah seperti itu."

Kemudian si pengirim pesan berdiri dengan tegak dan berkata:"Baiklah. Aku akan pergi meskipun takkan mengubah keadaan."

"Kau bukan bagian dari kami." Kata istri dan kedua anak si pengirim pesan.

"Kalian akan menyesal mengucapkan kata-kata itu. Dengar baik-baik, aku akan pergi dan kalian akan tahu siapa aku sebenarnya." Kata si pengirim pesan.

Setelah si pengirim pesan pergi, istri si pengirim pesan berkata kepada kedua anaknya:"Ayah kalian adalah orang yang hebat. Ia akan pulang sebagai pahlawan dan kita akan menyambutnya sebagai pahlawan."

Dalam perjalanannya si pengirim pesan sering marah-marah sendirian, merasa sakit hati dengan ucapan istrinya dan anaknya. Ia berpikir ini tidak adil. Bila posisinya ia yang ditahan kerajaan lain pasti ia akan dibiarkan mati oleh kerajaan. Ia pun mencela Tuhan, kenapa ia tak lahir di perut sang ratu dan lahir sebagai pangeran di muka bumi ini.

Singkat cerita sampailah kepada raja yang menahan pangeran dan terjadilah sesuatu yang diluar dugaan.

"Mana pengirim pesanku? Kenapa tak ikut bersamamu?" Kata raja.

"Dia akan kembali bila aku kembali." Jawab pengirim pesan.

"Bila tak keberatan, kau akan menginap disini cukup lama sampai pengirim pesanku kembali." Kata raja.

"Rajaku menghargai nyawa dan pengirim pesanmu masih hidup. Wahai, raja yang adil dan bijaksana."

"Mana pesan rajamu, bacakan!"

"Tak ada tulisan di atas kertas. Aku mengingatnya di kepala."

"Apa kata rajamu?"

"Pangeran masih muda dan terlalu bodoh untuk ukuran seorang pangeran. Ia dibodohi cinta. Bahkan di kerajaan kami banyak yang lebih cantik, lebih pandai, lebih segalanya daripada putrimu. Aku mengutus pengirim pesan menjadi pengganti dan pengirim pesan adalah lebih segalanya daripada pangeran bodoh yang kau tahan. Pengirim pesan adalah pangeran dalam pengertian yang sebenarnya. Maka bunuhlah pangeran sejati ini dan kembalikan putraku yang tolol dan bodoh itu."

"Oh, itu pesannya. Haha. Hahaahaa."

Raja tertawa dan semua yang hadir tertawa. Lama tertawa lalu diam.

"Ada lelucon yang lain?" Kata raja.

"Apa aku salah bicara?" Kata si pengirim pesan.

"Si gila itu mengirimiku badut, Hahaha." Kata raja dan semua tertawa lagi cukup lama dan berhenti tertawa saat raja berkata:"Gantung keduanya saja."

"Tunggu dulu, enak saja. Memangnya kau Tuhan yang berhak menentukan kematianku? Kau bahkan tak tahu siapa ibuku yang melahirkanku dan ayahku yang menjadi suami ibuku. Kenapa tidak kau nikahkan saja putrimu dengan putranya dan masalah selesai!!!"

"Matilah bersama pangeran bodohmu. Dan aku akan menyusul kalian saat rajamu menghabisi kerajaanku dan membunuhi rakyatku semuanya. Dan, rajamu yang Tuhan. Bukan aku."

"Tungu! Tunggu! Tunggu! Itu lebih buruk dari siapa pun yang menduga-duga ada belas-kasih di dalam dirimu. Apa rakyatmu rela mati untukmu dengan alasan membela raja padahal bohong?!! Kau tidak tahu apa itu kebaikan?!!!"

"Menggantung kalian berdua adalah kebaikan." Kata raja.

"Dasar, raja bodoh.Jika aku jadi raja maka aku akan membebaskan pangeran dan pengirim pesan serta memberi restu pada putri dan pangeran untuk menikah dan berhenti bermusuhan. Kedatangan kami akan menjadi jawaban bagi tanda tanya mereka yang begitu banyak dan mengukuhkanmu sebagai raja yang baik bahkan lebih baik dari rajaku!!!" Kata pengirim pesan.

"Wow, raja yang bijaksana. Maukah kau duduk di singgasanaku?" Kata raja.

"Silahkan, ini mahkotaku untukmu." Lanjut raja menyodorkan mahkotanya pada si pengirim pesan.

"Kau, Kau bercanda?" Kata si pengirim pesan dan tangannya hendak mengambil mahkota itu.

"Hahaaaa, haahhaa. Tentu saja. Tentu saja bercanda. Haha, badut ingin jadi raja. Hahaha."

Semua tertawa. Semua tertawa kecuali si badut yang diam.

"Kau akan tetap disini. Menjadi badut kerajaan untuk menghiburku dengan lelucon-leluconmu. Pangeranmu boleh pulang dengan membawa putriku." Kata raja.

Pada akhirnya si pengirim pesan dan keluarganya menjadi keluarga terhormat dan disebut "PAHLAWAN TERTAWA". Sejak itu badut kerajaan menjadi posisi yang dihargai oleh banyak orang. Tamat.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post