Merah-merah Di Pipi

Salah bika kau anggap aku sebagai orang yang tak peduli padamu wahai perempuan dengan merah-merah di pipi. Aku melihatmu di depan layar tipi dan tentu kau tak melihatku karena kau ada di dalam tipi.

Aku banyak diam dan itu lebih baik daripada bicara tanpa arti. Lalu hatiku berkata pada diriku sendiri: "Dunia dalam sekotak layar terbatas pada apa yang perlu dan banyak bagian dari kehidupan ini yang dianggap tidak perlu."

"Kau benar." Kataku pada hatiku sendiri.

Aku belum mampu memahami diriku sendiri lalu bagaimana aku mampu memahami orang lain. Aku berada di dunia yang tak kukenali begitu pun mereka. Meskipun mereka merasa mengenali dunia ini, sebenarnya hanya berpura-pura memahami atau biar dianggap memahami dunia ini padahal tidak.

Fana, faramorgana, hidup yang sementara, keabadian setelah kematian dan lain hal yang membutuhkan banyak waktu untuk memahaminya.

Aku berpikir manusia pada jaman sebelum kotak itu ada, dunia tanpa kabel dan kamera, dunia tanpa listrik lampu yang menyala. Bagaimana mereka membawa berita?

Ini adalah cerita yang tidak lucu. Sangat tidak lucu. Apakah akan ada orang yang tertawa?

Kukira akan ada orang yang membaca ini dan dia akan berkata: "Cerita apaan ini, geje, mau nulis kehabisan ide, yang penting nulis, ah gapapa belajar ini."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post