Baju Lebaran Untuk Mino

Nenek Mino berjalan sedikit tergesa-gesa. Badannya sudah bungkuk karena dimakan umur. Wajahnya penuh keriput, pun tangannya. Ia menarik nafas dan berjalan lebih pelan, sesekali ia menoleh ke sekeliling, matanya mengarah ke bentangan sawah yang begitu luas, tetapi ia hanya mampu melihat kesedihan yang tersimpan dalam pikirannya. 
 
Setelah ia sampai di depan sebuah warung. Ia berhenti. Matanya seperti mencari sesuatu sambil sesekali menyentuh wajahnya. Dibetulkannya kerudungnya sambil melirik kanan dan kiri. Ia terdiam dalam bungkuk. Seperti orang yang kebinggungan. Masuk atau pulang saja?
 
Ia hendak berbalik dan pulang ke rumah, tetapi belum beberapa langkah, Ia kembali berhenti dan mencoba melirik ke arah warung. Ia tidak melihat siapapun di sana. Tangannya kembali digenggam olehnya sendiri, sambil sesekali ia mengelus jari-jarinya. Menarik nafas dan berjalan begitu pelan ke arah warung.
 
Rumah itu sepi, ia tidak melihat Ibu Veronika di dalam warung. Tidak ada siapapun, hanya ada beberapa Ayam kampung yang berkeliaran di halaman rumah dekat warung. Pantas saja masih sepi, karena sebenarnya matahari belum juga muncul, masih jam 6 pagi.
 
"Bu Veronika!" Panggilnya dengan suara berat
"Bu Veronika!" Ia mencoba memanggil dengan lebih keras
 
Pintu rumah terbuka. Seorang wanita separuh baya berjalan. Wajahnya masih berlipat menandakan beliau baru terbangun. Itu Ibu Veronika yang dimaksud oleh Nenek Mino. Ia memiliki badan cukup gemuk, Rambutnya belum terikat dan berjalan dengan malas ke arah Warung. Ia tersenyum dengan bibir kanannya terangkat sedikit lebih miring, tetapi paling tidak, ia sudah mencoba untuk tersenyum.
 
"Mau beli Apa Nek?" Katanya dengan lembut
 
"Hem...Begini Ibu Veronika! Sebelumnya Nenek minta maaf, Nenek mau minjam Duit dulu. Minggu depan Nenek mau jual Kopi, baru nenek bayar! 100 Ribu saja," Kata Nenek Mino sambil tersenyum, melihat wajah ibu Veronika kemudian menunduk.
"Nek!, Ibu berani bersumpah, Ibu lagi tidak punya Uang. Dua bulan lalu, dan beberapa kali sebelumnya nenek juga sering minjam dan ibu selalu kasih walaupun nenek sebenarnya tidak pernah bayar. Ibu tidak pernah mengingat itu. Tetapi kemarin Ibu baru bayar uang kuliah dan kontrakan anak ibu yang sekolah di Bandung, jadi Ibu sama sekali lagi kosong. Maaf bangat yah, nek! Emang untuk apa? Kalau mau beras, ibu punya beras, sebentar Ibu ambil,"  Kata Ibu Veronika sambil hendak berjalan tetapi langsung berhenti.
 
"Eh...tidak usah Ibu Veronika, kebetulan nenek ada beras.  Tetapi, yah kalau tidak ada juga, Nenek maklum. Ibu Veronika sudah banyak membantu nenek."
 
Nenek Mino berjalan pelan-pelan meninggalkan tempat itu. Ia pulang ke rumah dengan berjalan lebih cepat. Kepalanya menunduk, lututnya sedikit bergetar, mungkin karena kelelahan. 
 
Setelah sampai di depan rumah, Ia melihat cucu semata wayangnya sedang tersenyum di teras rumah. Cucu yang menjadi satu-satunya alasan untuk Ia tetap semangat dan bertahan hidup. Sambil berjalan,  Ia membalas senyum manis cucunya itu. Tetapi, ingatan itu sekali lagi menghampirinya. 
 
Sepuluh tahun yang lalu, saat Mino dilahirkan, Menantunya tidak bertahan dan meninggal. Sementara Anak satu-satunya yang adalah Ayah Mino pergi merantau dan tidak pernah kembali sejak 5 tahun yang lalu. Sejak itu, Nenek Mino membesarkan cucunya seorang diri. 
 
Ia melihat cucunya yang tersenyum, ia membalas senyuman itu. Tetapi keningnya mengeriput, ia memikirkan sesuatu. Melihat apa yang membuat senyuman cucunya seperti tertahan. Menerjemahkan otot-otot wajah cucunya yang sepertinya menyimpan sesuatu yang menyedihkan. 
 
"Cucu Nenek sudah Nyuci piring dan nyapu rumah Yah?" Katanya sambil duduk di sebelah Mino dan dibelainya rambut cucunya itu.
"Sudah dong Nek! Pokoknya semuanya sudah bersih!"
"Wah...Cucu Nenek sudah semakin Pintar"
"Mino!. Lebaran besok tidak apa-apa tidak punya baju baru Yah Cu. Doakan saja Bapakmu Pulang supaya Kamu bisa beli Baju!" 
"Nek...Nga apa-apa Nek!"
"Kalau Begitu Nenek mau bersihkan Biji Kopi dulu Yah,"
"Ayo Nek, Mino bantuin!
 
**
Sekitar jam 4 Sore. Nenek Mino berangkat dari rumah dengan membawa beberapa liter biji kopi yang hendak Ia jual di pasar. 
Ia menjual kopinya seharga Rp.35.000.
 
Ia kemudian mampir ke warung dan membungkus satu rendang. Karena entah sejak  Kapan, Nenek mino selalu menyediakan rendang kesukaan cucunya untuk menu buka puasa terakhir. 
 
Ia kemudian berjalan ke arah Penjual baju. Ia melihat-lihat baju untuk ukuran cucunya.
 
"Yang ini berapa Ibu?" Ia bertanya kepada Penjaga Toko
"Itu Rp. 75.000 Nek," Kata penjual sambil memberikan contoh baju kepada pelanggan lain yang sedang berbelanja.
"Rp.27.000 Lah Yah, Ibu?" Kata Nenek Mino Mencoba menawar
 
Penjual itu menoleh kepada Nenek mino, kemudian Ia Tersenyum.
 
"Aduh Nenekku Sayang, Itu Modalnya saja masih sangat kurang. Saya Jual Rp. 65.000 Untuk nenek, itu harga Modalnya Nek,"
Nenek Mino melihat uang ditangannya. Kemudian menghitungnya pelan-pelan. Sebenarnya Ia tahu nominal Uang ditangannya tapi ia mungkin melakukannya supaya penjual itu mengetahui, berapa uang yang Ia Punya. Ia menunggu reaksi penjual itu, tetapi Pedagang baju itu memang sangat sibuk melayani pembeli lainnya.
 
Akhirnya Nenek Mino Berjalan dan hendak pulang ke rumah.
 
Ia berjalan pelan-pelang dengan perasaan yang tidak bisa ia gambarkan. Kesedihan membungkus hati nenek yang sudah tua ini. Suara burung dan hembusan angin di sepanjang perjalanan tidak membuatnya merasa segar. Malah, suara dan terpaan angin yang dingin seolah menusuk-nusuk tulangnya.
 
Sekitar 50 Meter dari halaman Rumah, ia berhenti. Ia melihat Mino terduduk di Teras. Dari jarak sejauh itu, bisa dibanyangkannya senyuman manis Mino menunggu kedatangganya. Ia berpikir kalau Mino pasti telah menebak-nebak kenapa Ia menjual Kopi hari ini. Mino pasti sudah tahu kalau ia sebenarnya hendak membelikan baju untuknya. Apa yang harus nenek lakukan, cucu Nenek ternyata sudah menunggu-nunggu baju barunya. Cucu saya pasti sudah mengira kalau nenek sudah membelikan baju barunya. Apa yang harus nenek lakukan? Pikirnya.
 
Mino melihat neneknya berhenti dan memandangi dirinya dari kejauhan. Senyum di bibir Minopun berbalik. Bibirnya menurun dan dagunya terangkat. Alis matanya terangkat, mencoba menerka-nerka kenapa neneknya berhenti dan tidak segera menemui dirinya.
 
Nenek Mino masih berhenti, Ia menatap cucunya itu terus-terusan. Hatinya bergejolak. Sebaiknya aku kembali ke pasar dan mencari baju yang lebih murah. Mungkin bila aku mencari lebih lama, aku bisa menemukan baju untuk cucuku Mino, Pikirinya.  Sebaiknya aku kembali ke Pasar. Nenek Mino hendak berputar dan melangkah ke Pasar, tetapi ia berhenti.
Mino berdiri dan Berlari dari teras.
 
"Nekkk!!!"
Katanya berteriak dan menghampiri neneknya.
Mereka berdua terdiam. Mino Behenti lima langkah sebelum nenekknya sambil berusaha menahan air matanya.
"Nekkk, Nenek jangan Pergi lagi. Nenek tidak usah ke pasar Lagi!
Nek, Mino sudah bilang, Mino tidak mau baju baru!
 
 Mino tidak mau apapun dari nenek, asalkan nenek ada saja di dekat Mino, Mino sudah senang ,Nek, " Kata Mino sambil sesunggukkan dan berurai air mata.
 
Nenek Mino Berhenti. Ia memutar badan dan memandangi wajah cucunya yang sudah sangat pintar itu. Matanyapun tidak kuat lagi menyimpan semua yang selama ini beliau sembunyikan. Dibiarkannya air mata itu terjatuh dan membasahi pipi tua-nya. Tangannya bergetar, pun lututnya bergetar, Kepiluan menghujami hatinya. Matanya serasa tidak puas melihat dan memandangi cucunya itu.
 
"Nenek sudah beli Rendang untuk berbuka nanti buat Mino," Katanya sambil menangis
Mino langsung berlari.
 
Nenek Mino menyambutnya dengan membuka tangan. Mereka berpelukan sambil menangis.
 
"Terimakasih Nek, Nanti rendangnya buat Nenek saja. Mino tidak suka rendang, Mino sukanya melihat nenek Makan rendang," Katanya sambil tetap memeluk neneknya
"Tetapi nenek sudah tidak punya gigi lagi,"  Kata Neneknya sambil duduk dan memandangi wajah cucunya. Ia mencoba tersenyum dan menyapu air mata cucu kesayangannya itu.
Mereka saling berpandangan kemudian tersenyum haru dan Mino menuntun neneknya kembali ke dalam rumah.
 
 
 
Untukmu Yang tidak dibelikan baju baru Lebaran tahun ini, Kamu tidak sendiri!
 
 
 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer no_one
no_one at Baju Lebaran Untuk Mino (6 weeks 2 days ago)
90

Terharu dengan ceritanya

Writer nusantara
nusantara at Baju Lebaran Untuk Mino (25 weeks 6 days ago)
90

BAGUS