DAHAGA, 50 TAHUN SETELAH PARU-PARU BUMI MENGHILANG

Bukan saat yang tepat untuk membawa memori masa lalu kepada kenyataan dalam terik ini. Ketika bumi dipenuhi air dari sana-sini semua terasa abadi. Ternyata tidak.

Aku berjalan dalam cerita masa depan yang tak terelakkan ketika manusia di masa lalu tak begitu mempedulikan, derita di ujung dahaga, itu judulnya, itu isinya, itu kesimpulannya.

Aku bercerita pada saat sedikit pohon dan sedikit air dan udara beracun membawa petaka bagi umat manusia saat ini. Lagu-lagu masa lalu seperti 'nenek moyangku seorang pelaut' seolah berganti menjadi 'nenek moyangku seorang penebang liar', 'Indonesia tanah air beta' menjadi 'indonesia neraka beta', dan lain-lain. Mengerikan.

Dan ternyata...

Dan ternyata...

Dan ternyata...

Hanya bunga tidur. Dan, menjaga paru-paru bumi menjadi kewajiban seluruh manusia.  Dan aku juga manusia. dan ternyata masa depan penuh dahaga akibat kekurangan air dan udara bersih bisa dicegah juga. Dari sekarang.

Ini menjadi cerita horor yang tidak horor ternyata.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post