TAKUT PERGI KE SEKOLAH

Aku pernah mengalami teror oleh kaka kelas. Dia kelas 5. Ketika istirahat aku didatangi dan dia meminta uang untuk jajan. Aku tidak memberinya. Namanya Dindin atau Didin, agak-agak lupa. Dia mengancamku di sekolah, bila tak memberi dicegat sepulang sekolah. Tapi, aku berhasil tak dicegat olehnya. Aku tak bercerita pada ibuku soal hal itu.

Suatu pagi, kakak kelas yang jahat itu mencegatku di depan jalan raya. Di seberang gang barnas. Aku takut menyebrang dan takut ke sekolah. Lalu aku balik lagi sebentar menunggu a Opik. A Opik itu anak smp yang masih saudara yang punya kontrakan. Aku menyebrang bersamanya dan si kakak kelas yang jahat itu lari kedalam gang di seberang jalan itu, jalan Rajawali timur maksudnya. Aku jadi tahu kalau anak usia sd ternyata takut anak smp.

Tahun berikutnya, kejadian ditodong dalam kelas oleh teman sekelas ketika ada guru. Aku duduk bertiga atau berempat, ya? Agak-agak lupa karena waktu bukan sedang dalam pelajaran. Pak Salam, mungkin gurunya ketika itu dan teman yang lain memergoki. Aku takut ke sekolah tapi aku tetap pergi ke sekolah dan tak terjadi apa-apa. Aku tetap menjadi anak yang kurang berprestasi hingga kelas 5. Dan aku tak pernah bercerita pada ibuku soal penodongan itu. Dan aku baik-baik saja.

Takut ke sekolah tapi tetap pergi ke sekolah adalah hal terbaik yang pernah aku lakukan dan aku tertawa sendiri bila mengingatnya. Tak ada yang istimewa dariku sebab aku adalah anak yang pendiam sekali tetapi aku selalu memerhatikan setiap kejadian dan keadaan yang terjadi padaku.

Pada akhirnya aku berteman dengan anak yang menodongku itu.

Ketika kelas 4, ada murid baru dua orang. Agus sudrajat dan Indra setiawan. Aku berteman juga dengan mereka. Ketika kelas 5 aku sudah pindah tempat tinggal ke Halteu utara dan aku mempunyai teman belajar dan prestasiku di kelas meningkat. Pertama kalinya naik 5 besar. Aku bukan murid populer di kelas karena sangat biasa-biasa saja.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post