BERTEMAN DENGAN PREMAN KELAS

Ternyata sekolah bukan hanya tentang belajar tetapi juga tentang berteman. Aku tak ingat betul kapan pertama kalinya berteman dengan preman kelas, yang jelas pasti ada hubungannya dengan pengalamanku dipalak kakak kelas. Preman kelas itu bernama si Iyus, berambut tipis hampir plontos dan agak pendek badannya. Dikelas aku tak ingat semua nama teman-temanku ketika berteman dengan si Iyus itu ada yang masih kuingat namanya Atep, Dani, entah siapa lagi aku sedikit lupa. Waktu itu aku berteman dengan mereka dan setiap istirahat bergabung bersama mereka. Kalau tidak salah itu juga. Si Iyus itu bisa silat, atau mungkin kakanya atau saudaranya yang bisa silat. Entahlah, pokoknya suatu ketika dia pernah memutar kaset pencak silat Gajah Putih dan dia mengajakku ubtuk mau belajar silat.

Aku berpikir mungkin maksudnya agar tidak ada yang mengganggu di sekolah. Tetapi juga bukan berarti harus menjadi pengganggu anak lain tentunya. Kelompok anak yang lain ada yang tak senang aku berteman dengan si Iyus sebab aku terlihat bukan anak nakal seperti dia. Mungkin, ada juga guru yang memerhatikan hal itu. Tapi bisa juga tidak.

Aku aman di sekolah. Tak ada kasus pemalakan. Aku tetap jadi anak baik yang tidak pernah memalak atau membully anak lain.

Sangat disayangkan, semua temanku itu tinggal kelas. Ada juga yang namanya si Candra, dia juga tinggal kelas. Aku hampir-hampir tinggal kelas. Aku ingat entah kelas berapa, kelasku kedatangan murid baru. Bukan Agus sudrajat dan Indra setiawan, lupa namanya. Anak orang kaya sepertinya namun sedikit berkebutuhan khusus. Tulisannya seperti anak kelas dua. Nah, si Iyus itu pernah di gendong sama murid baru itu suatu hari menuju ke tanah kosong di sebelah selatan sekolah, anak itu tinggi besar, putih, diantar menggunakan becak oleh ibunya. Aku ikut ke tanah kosong itu di dekat perumahan itu bersama si Atep dan si Dani itu. Ceritanya mau berkelahi tapi pura-pura berkelahi dan yang kalah menggendong yang menang ke kelas. Saya ingat-ingat lupa. Dan nyatanya si Iyus itu banyak tidak disukai oleh kelompok berteman yang lain di sekolah tapi aku mau berteman dengannya dan si Iyus itu tidak pernah menjahatiku.

Dikelasku ada beberapa kelompok berteman. Ada kelompok anak pandai, ada kelompok anak kurang pandai, ada kelompok anak orang berada, ada kelompok anak kurang berada, ada kelompok anak baik, ada kelompok anak nakal. Semuanya berteman menurut kelompoknya masing-masing. Itu waktu aku berteman dengan si Iyus. Kira-kira kelas tiga atau kelas dua. Sepertinya kelas dua. Tapi sepertinya kelas tiga. Atau kelas empat. Aku belum pindah ke halteu utara dan bergabung ke kelompok berteman Ari muslim waktu itu. Entahlah, agak-agak lupa.

Aku memutuskan untuk berteman dengan si Iyus karena apa ya? Agak-agak lupa.

Sebenarnya patut dicermati bahwa hal semacam ini berlanjut ke jenjang usia berikutnya pada masa dewasa. Setiap anak pastinya menentukan pilihan bagaimana harus berteman dan harus berteman dengan siapa?

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post