TANGISAN YANG TERHENTI, sand all j pitt see be lach

Entah bagaimana harus bercerita, sebab saat itu juga belum mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Saat itu sepulang dari Alfalah, sandal jepitku disembunyikan oleh temanku. Aku mengejarnya sampai ke depan rumahnya, atau sekitar depan rumahnya tapi dia tetap tak berhasil kukejar. Namanya Yudi, atau Yadi, lupa-lupa ingat. Dia meledekku dan tak memberikan sandal jepitku yang sebelah. Kira-kira itu yang aku ingat.

Aku pulang dan menangis sepanjang jalan sambil membawa sandal jepitku yang sebelah. Aku bertelanjang kaki dan menangis di sepanjang jalan karena sandal. Atau, karena takut dimarahi ibuku? Rasanya aku tak tahu kenapa aku menangis. Lalu, ketika itu aku ditengah perjalanan berhenti menangis melihat panggung acara 17-an agustus saat itu. Memeriahkan kemerdekaan dengan panggung berisi acara nyanyian orang dewasa. Lagunya itu membuat aku berhenti dan melihat panggung sebentar dan aku mendengarkan lagu sebentar dan agak lama tapi sebentar. Setelah itu aku melanjutkan pulang dan melanjutkan menangis hingga sampai rumah.

Mengapa aku menangis dan berhenti lalu melanjutkan menangis?

Ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa cara berpikir anak-anak dengan orang dewasa itu berbeda. Dan tentunya hal itu dapat dijelaskan melalui sudut pandang psikologi terkini. Aku tidak akan menjelaskannya karena aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

Ini adalah hal yang paling tidak lucu tapi sedikit membuat tertawa kecil bila diingat-ingat lagi.

Cara menulis adalah hal yang sulit untuk beberapa orang. Termasuk saya. Nah, itu yang bisa membuat ragam versi cerita untuk satu fakta yang sama. Mestinya semua memahami itu bahwa sesuatu yang dikenang bisa membuat tertawa sendiri tetapi ketika dituliskan akan menjadi tidak lucu atau ketika diceritakan dengan selain tulisan menjadi tidak lucu.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post