BUKAN CERITA LAWAK

Menulis, awalnya iseng lalu untuk membunuh sepi kemudian menjadi hobi. Tak benar bila menulis selalu dikait-kaitkan dengan kegiatan propaganda yang akhirnya berakhir dibalik jeruji. Bahkan mati. Aku tak sama dengan siapapun dan takkan sama sampai kapanpun karena kebanyakan tulisan yang bukan tulisan ini berawal dari mimpi.

Kemarin aku menulis cerita masa kecil ketika menangis karena sandal jepit hilang sebelah. Tak ada yang kupikirkan selain mencoba mengingat kenangan itu dan aku menulis sembari menunggu download-an film Stephen chow yang FIGHT BACK TO SCHOOL. Tak memikirkan hal yang lain. Lalu, aku pulang dari warnet dan menonton film itu. Aku tertawa sendiri karena aku menontonnya sendirian. Tetap tak memikirkan apapun lagi selain film yang lucu itu. Setelah itu aku tidur. Dan bermimpi.

Aku ingin menceeritakan mimpi itu. Seperti mimpi yang lain sebelum-sebelumnya aku tak mengerti kenapa bermimpi seperti nyata melihat kehidupan orang lain dalam bingkai film. Mimpi yang seperti film tapi aku ada diantara mereka yang menjadi tokoh dalam mimpi. Aku menjadi orang lain dalam mimpi dan selalu berganti-ganti orang dan aku tidak pernah meminta untuk mendapat mimpi seperti itu. Baiklah, langsung bercerita mimpi saja. Ini mimpi yang tiba-tiba mimpi begitu saja dan percakapannya tidak akan aku kurangi. Semoga lebih banyak yang mengerti lebih baik ketimbang pendengkiku yang selalu menjelek-jelekan. Semoga pihak yang selalu mengait-ngaitkan dengan isu sara, penghinaan atau penistaan terhadap agama, dan lain hal yang sifatnya mengadu-domba tidak melanjutkan melempar isu-isu menghina agama atau semacamnya.

Aku bermimpi dan inilah ceritanya secara singkat...

Aku bermimpi menjadi orang lain yang pindah tempat tinggal kenjadi tetangga baru di lingkungan baru. Tetanggaku seorang ibu muda beranak satu dan tetangga satunya seorang yang tidak terlalu tua tapi belum menikah. Aku di mimpi juga sendiri, membereskan barang-barang sendiri. Ada tokoh lain di mimpi, seorang kakek berjanggut dan berambut panjang pengumpul koran bekas di perumahan itu.

Beberapa hari kemudian ada ceritanya begini, si ibu muda bertanya kepadaku tentang kenapa aku begitu sopan terhadap si kakek pengumpul koran bekas dan aku menjadi bercakap-cakap cukup lama. Kemudian tetanggaku disebelah lain ikut mengobrol.

"Hey, kau terlalu sopan pada kakek itu. Memangnya dia ayahmu?" Kata si ibu muda padaku.

"Aku sopan padanya karena beliau itu orang bijak. Beliau seorang guru." Kataku.

"Guru? Mantan guru kali? Hehe, aku suka dengan kakek pengumpul koran bekas itu karena dia maksudku beliau selalu bersedia untuk membantuku merapihkan taman atau membetulkan genting dan anakku selalu memanggilnya Merlin." Kata si ibu muda.

"Hehe, Merlin?" Tanyaku.

"Ya, karena janggutnya yang panjang dan lebat itu. Seperti penyihir di film-film itu." Kata si ibu muda.

Lalu si tetangga yang lain ikut mengobrol.

"Waduh, ngobrol berdua saja kayaknya seru. Si kakek pengumpul korn bekas ya?" Kata tetangga satunya.

"Iya, katanya anu, guru." Kata si ibu muda.

"Guru ya? Mengajar dimana?" Tanya si tetangga satunya.

"Aku memanggilnya orang bijak. Seperti seorang anak yang lahir di kandang domba dan besar bersama ibunya menjadi orang bijak yang sangat bijak." Kataku.

"Owh, kakek Merlin seperti Tuhan Yesus yang lahir di kandang domba?" Kata si ibu muda.

"Aku tidak memanggilnya Tuhan. Atau anak Tuhan. Nabi Isa anak maryam. Seorang manusia." Kataku pada si ibu muda.

"Jangan kearah itu pembicaraan. Kita bukan orang-orang yang suka berdebat soal itu. Lahir dari seorang perempuan yang manusia dan menjadi lahir bayi ya bayi manusia dan tidak enak dipanggil Tuhan atau anak Tuhan. Kita mengobrolkan si kakek pengumpul koran bekas kan?! Kenapa jadi ke Yesus?" Kata si tetangga satunya.

"Hehe, iya. Si kakek Merlin. Si orang bijak. Hehe." Kata si ibu muda.

"Suamiku berlangganan koran dan dia jarang di rumah. Terlalu memang bila dalam sebulan mungkin koran yang dia baca hanya empat atau lima dan pada setiap akhir bulan akan berada di tempat si kakek Merlin. Entah untuk apa si kakek Merlin itu ya?" Kata si ibu muda.

"Sejarah itu sebagian tercatat di koran. Sedikit banyaknya kebenaran terletak pada bagaimana berita itu dikabarkan." Kataku pada mereka berdua.

"Wah, kata-kata yang bijak. Maksudnya itu apa ya?" Kata si ibu muda.

"Dapat kata-kata itu dari si kakek Meerlin ya?" Kata tetangga satunya.

"Sering-seringlah bertanya pada beliau dan beliau akan menjawab tanpa ada membuat rasa kesal atau jengkel karena jawaban tak memuaskan." Kataku.

Lalu kami bertiga bersama-sama main ke tempat pengumpulan koran bekas yang tak jauh arahnya, hanya sekali belokan. Beliau sedang membaca koran bekas dan ada anak kecil perempuan yang berperban dan meminta uang.

"Seribu, seribu saja untuk berobat. Seribu lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Kek, seribu."  Kata anak kecil perempuan itu.

"Heh, sana. Dasar anak nakal. Pura-pura sakit untuk mengemis." Kata si ibu muda.

"Jangan, jangan terlalu kasar nona cantik. Kalau kau tidak percaya, buka perbannya." Kata si kakek pengumpul koran bekas.

"Iya, kek. Kami buka." Kataku dan kata si tetangga satunya bersamaan.

"Aku akan membayar semua biaya pengobatanmu. Sampai sembuh." Kata si ibu muda sambil mimik wajahnya berubah.

"Aku melihat ada kasih Tuhan didalam dirimu, nona cantik. Semoga Allah memberkatimu." Kata si kakek pengumpul koran bekas.

"Kau tidak salah? Anakmu juga bukan? Berilah semampunya saja, sekadarnya saja." Kata tetangga satunya sambil berbisik pada si ibu muda.

"Kek, kudengar kakek seperti Yesus. Sembuhkan anak perempuan ini dan tinggal tuliskan jumlah uag di cek ini sesuai dengan kadarnya." Kata si ibu muda.

"Aku tidak seperti itu, nona cantik. Aku menyembuhkanmu dari kebakhilan. Bawalah anak itu ke dokter dan setiap biaya yang kau keluarkan akan membuatmu bahagia dan menjadi orang yang paling bahagia. Saat ini hartamu berlimpah dan dan takkan berkurang hanya karena membiayai seorang anak kecil berobat sampai sembuh. Anak kecil ini luka koreng dan tak terurus. Bukan penyakit yang mahal dan akan menghabiskan berpuluh-puluh juta dari rekeningmu. Aku tahu kau nona cantik luar dan dalam. Allah memberkatimu." Kata si kakek pengumpul koran bekas.

Begitulah mimpinya. Bukankah ini adalah cerita yang aneh. Mimpi yang aneh.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post