POWER RANGERS 1996

Tak terlupakan, rupanya terasa sangat menegangkan berdiri di atas panggung. Padahal sepi penonton ketika pementasan berjalan. Kebetulan memang acara pementasan agak siang dan tak bisa dipungkiri juga bahwa apa yang aku dan temanku pentaskan kalah seru dan kalah ramai. Sebenarnya tidak seru. Minim kostum juga. Hanya helm saja. Untuk topeng power rangers. Helm yang digunakan untuk berkendara motor. Dan pementasan power rangers sangat membosankan. sepertinya tidak tepuk tangan penonton.

Aku tak merasa harus beresedih karenanya. Waktu itu di dalam kepalaku hanya teringat lagu Doel Sumbang yang liriknya begini, panjang-panjang batang pohon kelapa, nyiur-nyiur di tepi pantai, sempurna bentuk bulan dan bla bla bla. Lagu itu adalah lagu yang mau dipakai pementasan tari untuk acara panggung perpisahan tetapi tidak jadi. Aku tadinya mau menari berpasangan dengan teman sekelas perempuan yang setelah dipandang-pandang ternyata cantik. Namanya sedikit lupa, mungkin Ros. Aku baru sadar kalau dia cantik ketika itu. Tapi itu bukan perasaan cinta. Hanya ketertarikan saja terhadap lawan jenis. Ketika di Alfalah juga aku senang melihat anak perempuan yang belajar agama disana, namanya Lani kalau tidak salah.

Singkat cerita aku pergi ke Sukabumi bersama ayahku untuk melanjutkan sekolah. Jujur saja, aku tak terlalu mengingat-ingat teman-teman sekolah dasarku setelah di Daarul ihsan. Aku bahkan tidak mengingat-ingat kedua temanku yang nilainya di atasku saat dipanggil ke atas panggung ketika tiga besar disebut. Yang aku ingat adalah seorang teman sekelas yang tak pernah bertegur sapa denganku selama dia sekelas denganku. Aku tak berteman dengannya. Namanya kristin. Bila aku pendiam maka dia lebih pendiam dariku. Aku heran kenapa aku mengingat namanya padahal tidak pernah ngobrol barang sebentar pun. Karena dia lebih pendiam dari pendiam.

Sepertinya ketika sekolah dasar sebelum pada akhirnya sampai masa dewasa dan mengenal cinta juga sakit hati semua terasa bahwa hidup itu sangat baik-baik saja. Tidak ada permusuhan yang berarti, tiada dendam yang berarti, hari ini bermusuhan dan besoknya baikan lagi. Masa dewasa ternyata begitu tak terbayangkan pada masa anak-anak dan satu demi satu setiapnya membuka awal cerita mereka sendiri-sendiri. Merasakan cinta, sakit hati, merasakan dicampakkan, terluka, bahagia bersama yang dicintai, dan lain-lain.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post