YANG TADINYA TIDAK DICERITAKAN LEBIH BAIK DICERITAKAN

"Kakek bijak, semoga saja selama ini kau tak menganggapku putri Romawi dan rumahku istana kerajaan Romawi." Kata si ibu muda dengan santun.

Sementara itu pada saat yang bersamaan si tetangga satunya menahan tawa tapi tak bisa ditahan dan cekikikan pelan-pelan.

"Kek, semoga saja kau selama ini tak menganggapku putri Romawi yang pelit. Maaf, bila aku kurang banyak memberi kakek uang terimakasih karena sudah sering membantu." Kata si ibu muda dengan lembut sembari menyodorkan selembar uang pada si kakek pengumpul koran. Dan, si tetangga satunya ceikikan lagi.

"Adik kecil yang baik, apakah kau lahir di kandang domba?" Tanya si tetangga satunya sambil cekikikan lagi.

"Aku belum sempat bertanya, om. Ibuku meninggal saat melahirkanku. Itu juga dapat cerita dari nenek. Kakekku bilang ibuku lari dengan lelaki lain. Entah mana yang benar?" Kata anak kecil perempuan berperban. Si ibu muda sekarang yang cekikikan. Ternyata si tetangga satunya ikut cekikikan juga.

"Hehehe, kalian suka bercanda ya? anak ini menanggapinya dengan serius." Kata si kakek pengumpul koran bekas.

"Ayolah, kalian jangan pura-pura bodoh di depan kakek bijak." Kataku dalam mimpi itu.

"Ya, istana dan kandang domba itu menggambarkan keadaan bak bumi dan langit antara kemegahan dan kemewahan keluarga kaisar dan rakyat jelata yang hidup di bawah garis kemiskinan." Kata si ibu muda.

"Seperti begini, kau bisa membedakan bersandar di pohon yang mati dan bersandar di dinding istana? Jauh sekali bedanya bukan?" Kataku serius.

"Bila istrimu melahirkan, apakah kau akan membawanya ke kandang domba?" Kata si tetangga satunya lalu dia cekikikan.

"Ayolah, serius sedikit lah. Tidak ada bidan pada jaman bunda Maria melahirkan." Kata si ibu muda lalu dia juga cekikikan.

"Siti Maryam melahirkan dibantu dukun beranak tidak ya?" Kataku dan aku ikut cekikikan.

"Sudah. Sudah, jangan melantur terlalu jauh." Kata si kakek pengumpul koran bekas.

"Orang besar banyak yang lahir dari kalangan orang kecil. Itu cukup realistis, bukan?!" Kata si kakek pengumpul koran bekas.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

ga bisa nulis dengan baik jadi mohon maaf banyak salah dalam belajar menulis