BIANGLALA

Meresapi malam bersama angin yang membawa hawa dingin, ku menaik, ku menjauh dari bayang tubuhmu yang berjalan menjauhi. Di temaram cahaya lampu taman yang tak seterang matahari, kau pun pergi menitik menghilang. Asal kau tahu, sebelum  ku sampai  ke bawah untuk putaran yang berikutnya bianglalanya macet dan ku terjebak beberapa saat sebelum akhirnya teknisi tiba untuk memperbaikinya. Aku lupa bahwa seharusnya aku tak harus naik bianglala sebab ada acara lain yang sebetulnya tidak terlalu penting. Seharusnya aku naik kuda-kudaan yang berputar. Itu lebih aman bagi orang yang takut ketinggian sepertiku.

Aku membayangkan diriku seekor semut diatas jarum jam yang berputar naik-turun dan tentu saja semut yang sangat kecil lalu jarum jam terus berputar dan aku sedikit lebih besar menjadi semut remaja lalu semut dewasa lalu semut tua dan semut mati yang menunggu jatuh saat jarum jam sampai dibawah. Owh, lamunan yang buruk dan aku tertawa sejenak.

Ini bukan sebuah perenungan melainkan hanya kilasan waktu hidup dan mati dalam putaran bianglala kehidupan yang lucu dan penuh gelak tawa.  Kumohon beri aku tawa.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at BIANGLALA (38 weeks 3 days ago)

ini bikin setelah baca puisi bianglala, putri_pratama.
jadi pengen nulis cerita deh, terinspirasi dari bianglala