Cermin Hati

Di dekat perbatasan belumlah jelas apa yang ada dibalik ketidakpastian. Garis itu membatasi keingintahuan dan menghalangi ditemukannya apa yang disebut penemuan. Aku berdiri dan berpikir ulang untuk melangkah lagi. Aku berdiri dan tak lagi memikirkan itu dan ini serta langsung saja ku berlari dan melompati dan terus memasuki tempat yang belum pasti untuk mendapatkan sesuatu yang sebelumnya tak kumiliki. Pengetahuan dan penemuan.

Aku berhenti berlari dan menyadari diri berada di tengah hutan yang tak pasti. Namanya juga hutan tak pasti. Hutan ini bernama hutan tak pasti. Angker. Menakutkan. Mengerikan. Itu kata orang dan itu belum pasti. Lalu aku bertemu penyihir perempuan dan penyihir itu marah dan bilang bahwa aku terlalu berani dan aku disihir menjadi kelinci. Aku akan bebas bila berhasil keluar dari hutan dan akan berubah lagi menjadi manusia dengan otomatis. Otomatis mengalami perubahan.

Aku berkelana di hutan mencari jalan keluar dan aku menemukan cermin besar. Itu dinding cermin yang tinggi dan panjang sekali. Aku kemudian kembali ke tengah hutan dan bertemu singa yang lapar.

"RRRRR, makanan. Ku santap kau segera!!" Kata singa mau menerkam dan aku berlari menghindar dan dikejar. Singa itu menyudutkanku.

"Tunggu, jangan makan aku. Aku sudah menjadi alat untuk mengenyangkan si raja hutan bukan singa peot dan jelek seperti kau. Kau harus tahu bahwa aku adalah makanan si raja hutan." Kataku.

"RRRRR, auuuuumngh, hanya ada satu raja hutan dan itu aku. Singa besar begini dibilang peot. Kurang ajar!!" Kata singa.

"Kau salah, ada yang menyerupaimu. Dia sesumbar dia yang paling kejam dan menjadi raja hutan. Ikutlah denganku untuk bertarung dengannya. Maka kau akan tahu kalau aku tidak bohong." Kataku.

Singkat cerita kubawa singa itu ke dinding cermin.

"RRRRRR, aummmmgh. Kau berani menantangku dan membuatku merasa tertantang. Akan ku habisi kau sekarang juga. RRRRR, aummmmgh!!" Kata singa itu menatap dirinya sendiri di dinding cermin tinggi dan panjang dan singa itu berjibaku sampai berdarah-darah dan dinding cermin itu tak retak sedikitpun.

"Kau kurang ajar!!! Berani melawanku!! Ini serangan terakhirku. Rasakanlah!!" Kata singa itu menerjang dinding cermin dan singa itu jatuh tersungkur.

Sementara itu dibalik semak-semak...

"Hore... Hore... Singa kejam itu mati..." Kata kura-kura dan monyet yang bersembunyi.

"Kalian bersembunyi disitu dari tadi, ya?" Kataku.

Kami mengobrol banyak dan mereka berdua menyuruhku membawa beruang buas dan srigala keji untuk membuat beruang dan srigala itu berkelahi dengan bayangannya sendiri di dinding cermin. Lalu aku pergi ke tengah hutan lagi dan melakukan apa yang dilakukan sebelumnya terhadap singa.

"Raja hutan sudah mati. Srigala dan beruang menjadi kandidat raja hutan dan srigala dan beruang terkuat kubawa ke dinding cermin." Kataku pada kura-kura dan monyet.

"Dan srigala dan beruang jahat itu mati... Hore... Hore...." Kata kura-kura dan monyet bersamaan.

Lalu datanglah penyihir secara tiba-tiba dan penyihir itu marah.

"Kalian merepotkan saja. Anak buahku mati semua. Siapa yang membangun dinding cermin ini? Aku sudah lama disini dan baru tahu." Kata penyihir lalu mengubahku menjadi manusia lagi dan kura-kura juga monyet berubah menjadi manusia lagi.

"Penyihir yang baik, kau lupa apa yang kau katakan ketika mengubahku menjadi binatang. Aku seharusnya otomatis mengalami perubahan dan kau ubah menggunakan sihirmu." Kataku.

"Kau menyadarkanku bahwa ada orang yang lebih tahu dibanding aku yang merasa sudah tahu segalanya. Aku tahu dinding cermin iini dari kau yang belum lah lama berada di hutan ini." Katanya.

"Di atas langit ada langit, penyihir yang baik." Kataku padanya.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Cermin Hati (38 weeks 1 day ago)

Ini juga sebenarnya dari pemahaman saya ketika mempelajari kisah-kisah yang tertuang di Alquran.
Misalnya seperti kisah firaun dan nabi musa.
Saya memahami suatu kondisi ketidakadilan yang dialami bani israel dimana seorang anak budak harus menjadi budak lagi. Tidak ada masa depan cerah. Tidak ada hak menjadi lebih baik. Dan semua sihir politik firaun yang menjadikan bani israel bak lantai pijakan kekuasaannya gugur siring datangnya perubahan. Ada langit diatas langit. Tuhan diatas segalanya termasuk firaun itu yang mempraktekan perbudakan di jaman nabi musa itu.
Lalu sedikit pengalaman mimpi dan dibikin cerita tentang raja hutan dengan hukum rimbanya yang tak patut bagi kehidupan manusia yang berakal budi.