Ada Yang Nangis 2

Dia menatapku sebentar. Mungkin ingin menyembunyikan bengkak matanya. Bengkak karena menangis. Aku bertanya-tanya sendiri apa yang ada dipikirannya ketika itu. Apakah aku kemarin salah bicara? Atau tadi malam?

Ini kali kedua kumelihat kesedihan di wajah perempuan. Dulu, teman tsanawiyahku, Sri Mardianah. Kali ini, Hana. Teman sekerja. Ketika tsanawiyah aku mendapatkan situasi yang menimpa pada orang lain yang harus kupahami betul-betul. Ya, perempuan yang menangis. Di sekolah dasar tidak ada. Aku sebenarnya heran dan tak memahami mengapa harus menangis sedemikian rupa. Itulah kenapa aku diam-diam memerhatikan Sri Mardianah.

Aku sampai tahu kalau dia suka makan bakso dengan sambal yang banyak, cuka juga banyak. Itu juga mungkin kenapa aku berpikir pasti ada keluhan pada akhirnya di lambungnya. Entah ngilu atau maag atau apapun itu. Sepertinya begitu jadi tidak pasti juga. Pasti tapi tidak pasti.

Pengalaman melihat perempuan menangis itu membuatku berpikir banyak agar kelak aku tak membuat teman perempuanku menangis seperti aku melihat Sri Mardianah menangis. Aku cukup baik mengamatinya diam-diam dan sepertinya dia tidak tahu. Tentu apapun yang pernah kulihat, hal apapun yang dirasakan oranglain, sedikit banyaknya memengaruhi cara pandangku dalam bagaimana menjaga perasaan oranglain. Khususnya perempuan.

Nyatanya Sri Mardianah tidak selalu harus sama dalam menyikapi apa yang terjadi dan kuperhatikan dia tak lagi sering menangis pada akhirnya. Aku hanya bergelut dengan pikiranku sendiri dan tak pernah berani untuk bertanya dan ikut campur urusan pribadinya. Itu juga menjadi kebiasaanku pada saat usia terus bertambah dan memasuki pengalaman baru setelah tsanawiyah. Aku melanjutkan di bandung dan tak sampai naik kelas karena sering membolos. Tentu pergaulan yang berbeda dengan ketika di tsanawiyah.

Aku sebenarnya kaget dengan jumlah teman sekelasku di Daarul Ihsan, tak mencapai 30 murid. Tak seperti ketika di sekolah dasar di Karang Mulya 1 dengan jumlah teman sekelas kurang lebih 40. Mungkin 42. Tetapi aku tetap senang dan tidak berpikir yang lain-lain kecuali belajar dan bermain di lingkungan Daarul Ihsan. Aku sempat ingin pindah dan ingin setahun saja tetapi kuurungkan. Karena aku merasa dejavu ketika pada suatu hari aku mengingat di depanku ada anak duduk dibangku didepanku dengan peci agak miring dan ada bu guru atau ustazah yang sedan mengajar matematika, itu, itu seperti pernah terjadi dalam mimpi, oh jadi yang di depanku itu Imam Syafaat, Oh bu Ai yang di mimpi itu. Aku mimpi ketika masih di sekolah dasar dan ingat ketika hal itu terjadi di kelasku. Ya, ini yang kulihat di mimpi ketika itu. Dan aku baru ingat ketika itu terjadi. Apa yang bergelut dipikiranku itu waktu itu tak sempat kuceritakan dan tak kuceritakan pada siapapun termasuk kepada orangtuaku.

Aku sering membaca mencari informasi dan aku mengambil kesimpulan sendiri bahwa aku ini mungkin sedikit memiliki masalah autisme. Aku mengecek apa-apa yang kualami dan aku mengambil kesimpulan bahwa aku sedikit autis. Tapi aku ini bukan tak mau bertanya atau tak mau mengomunikasikan apa yang ada di pikiran, memang begitu saja selalu memikirkan suatu hal yang tak ingin diceritakan kepada orang lain, dan lain-lain hal. Ya, aku berpikir bahwa aku ini memang sedikit autis. Dan aku pernah bilang bahwa aku ini seperti mesin fotokopi, suka meniru, meniru gaya bicara orang, dan lain hal dan itu adalah spontanitas yang aku sendiri tak sadar aku sudah meniru oranglain.

Aku autis mungkin, bisa juga tidak. Aku berpikir begini di tsanawiyah, 'NEM 43 dan aku bisa masuk ke SLTP Negeri kenapa disini?' Hal itu pun hanya bergelut dipikiranku saja dan tak kukemukakan kepada siapa pun. Bahkan kepada orangtuaku. Aku mengalami seperti dejavu itu dan aku menjadi tetap senang dan bangga dengan teman-teman sekelasku di Daarul Ihsan. Aku jadi tahu banyak hal dan Daarul Ihsan adalah tempat belajar yang enak buatku, walupun teman sekelasku sedikit sekali.

Kembali ke soal menangisnya Hana. Matanya bengkak. Sembab. Tapi aku tak berani bertanya banyak hal dan bertahun-tahun aku tidak bisa seperti karyawan yang lain yang bisa bercanda atau mengobrol atau apapun dengannya. Apalagi aku tahu aku hanya karyawan biasa dan tidak mau mengganggu hubungan oranglain. Aku menjadi seperti orang idiot. Kemudian rumor beredar bahwa aku ini anak terbelakang, pura-pura trauma, dan lain lagi. Yang mendengkiku mungkin salah satunya adalah orang yang kuajak ke Daarul Ihsan ketika hendak melegalisir ijasah untuk kejar paket c.

Aku tahu bahwa perempuan yang lain juga pasti suka menangis. Tapi aku tak melihatnya. Pengalaman melihat perempuan menangis dan mata bengkak dan sembab setelah menangis membuatku bertanya-tanya apakah yang ada dipikiran perempuan ketika menangis?

Aku menulis ini langsung ketik di warnet dan tiba-tiba saja aku mengingat ternyata ada perempuan lain yang kulihat menangis. Ibuku dan nenekku.

Ketika aku berkecamuk dengan pikiran kalut yang membawa amarah yang begitu luarbiasa kepada bajingan-bajingan tengik, setan-setan cabul, para ahli fitnah, dan orang-orang bejat lainnya yang tentu tidak pasti siapa. Yang memfitnah dan mengondisikan keluargaku pada saat-saat berat. Mungkin terberat. Ibuku menangis ketika itu ketika aku marah, berteriak, memaki pengamera yang entah ada atau tidak. Yang jelas si ahli fitnah itu yang perasaannya sudah mati senang melihat oranglain bersedih dan akhirnya aku mengalahkan ego diri untuk sedikit berkorban bagi ibuku dan nenekku agar mereka tidak lagi kumelihat menangis. Aku tak ingin berteriak-teriak lagi. Aku biarkan setasn-setan pengintai itu menginjak-nginjak harga diriku. Aku biarkan mereka membuat fitnah dan mencari-cari kejelekan ku setiap hari. Mereka akan menyesalinya di hari akhir. Semoga berhenti dan tak lagi mengait-ngaitkan dengan Ali Sina faithfreedom. Fitnah luarbiasa.

Aku tetap bisa tertawa mengenang hal-hal yang lucu, yang baik, yang membuat bahagia sambil berharap bila ada oknum ustad-ustad gila yang menghakimi hanya karena membaca dan enggan menyadari diri sudah sangat buruk dalam berbuat amal bertaubat dari upaya-upaya mengkambing-hitamkan orang lain. Adakah polisi baik yang mau mengusut?

Banyak sudah fitnah dan upaya-upaya mencari-cari aib. Dibilang mau mengaku rasul. dikata merasa diri nabi, firaun lah, mau mengaku tuhan lah, atheis lah, penghina perempuan lah, homo lah, dan lain-lain.

Ibuku orang yang baik. Ayahku juga. Tak pantas bagi siapa pun merasa berhak menghakimi. Hanya karena isu pengajian alquran menurut sunah rasul, Isa Bugis. KWS. Lalu diputar-balik segala-galanya. Siapa pun orangnya malu lah kepada Allah.

Aku jadi ingat lagi 2011, aku tetap bekerja dengan tenang, tidak pernah neko-neko. Lalu rumor babibubabibu babibu babibu melebar kemana-mana. Masalahnya pengamera sembunyi-sembunyi tidak merasa berdosa dan merasa berhak dan pikirannya dimanipulasi orang lain yaitu si pendengki. Jadi bukan hanya berusaha membunuh karakter tetapi juga berusaha membunuh ekonominya, orangnya juga mungkin. Tak bermoral. Tapi tentu banyak ustad-ustad yang brilian yang mengupayakan semuanya baik-baik saja.

Aku ini autis dan bukan idiot. Aku pintar ketika di sekolah. Aku kurang memahami perempuan. Aku ini tidak autis. Sedikit autis.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post