ianantono@yahoo.com

Aku tidak pernah membuka surel sama sekali oleh sebab hanya untuk persyaratan saja agar bisa mengakses kemudian.com. Saking lamanya tidak dibuka menjadi tidak tahu apa passwordnya. Karena aku ini sedikit tak mau repot dan bukan orang penting jadinya cara berpikirku sangat sederhana sekali. Aku tak perlu bisa untuk membuat alamat surel.

Dulu tahunya email sekarang tahu singkatannya surel itu surat elektronik alias email. Lucunya adalah ada kemungkinan bahwa si pendengki akan atau sudah mengomentarinya. Alamat surel yang tertera itu ianantono@yahoo.com, itu tak pernah sama sekali dibuka dan sepertinya tidak akan bisa dibuka karena lupa passwordnya dan aku merasa bahwa menggantinya itu tidak penting. Nama Ian Antono itu nama orang terkenal tapi bukan aku ini bermaksud mencatut nama. Aku juga tidak bermaksud untuk tidak menghargai nama pemberian orangtua. Atau merasa malu dengan nama asli. Itu bukan aku. Aku ini kalau dipikir ya biasa-biasa saja. Toh, ada yang menggunakan nama yang aneh lebih aneh saja tidak ada komentar buruk, misalnya someone from the sky, ga ada dikomentari ngaku-ngaku dari langit, atau semisal putri kegelapan, ga ada yang komentar ngaku-ngaku dari kegelapan atau biar disangka dari kegelapan, atau kenari, ga ada dikomentari ngaku-ngaku kenari. Hehe, ya iyalah ga punya pendengki.

Komunikasiku itu terhenti dengan semua teman, atau yang dulu pernah jadi teman. Hehe, ya iyalah sebab aku tak memegang handphone. Nomor yang dulu dibuang karena kesal dan merasa disadap-sadap dan merasa bahwa si pendengki sudah menghasut semua orang yang dulu pernah berteman dekat denganku. Bukankah ini suatu kegilaan. Kegilaan si pendengki. Entah siapa dirimu tapi lebih baik bereskan saja hati yang penuh dengki itu sebab aku tidak begitu. Aku tak begitu.

Namaku Martono, diganti menjadi Salman beberapa bulan yang lalu agar tidak diganggu jin atau siluman. Itu kata orangtuaku yang merasa kalau aku ini terlalu banyak pikiran karena selalu merasa dikuntit dan dimata-matai dan diintip pengamera gila yang suka mencari aib oranglain atau si kepo yang termakan isu kalau aku punya ibu peri. Hahaha, ibu peri. Ingin melihat ibu peri? Apakah ada si kepo seperti itu?

Indra Setiawan yang mengenalkanku pada aktifitas menulis ini. Tahu kemudian.com dan diajak kopdar. Aku bilang malu karena aku tidak terbiasa. Aku ini juga minderan. Minder sama mahasiswa atau mahasiswi yang nanti ada ikut kopdar. Sumpah, dulu itu punya hape jelek banget dan malu untuk dikeluarkan. Itu ketololanku yang terlalu minderan dan terlalu tidak banyak bergaul. Lalu, apakah akhirnya jadi begini? Apakah jadi peracau begini bila tidak dianggap pengacau?

Aku tak bisa dipasung dalam artian segala tindak-tanduk diamati dan diawasi hanya karena isu sara. Aku ini orang biasa yang menjadi pusat perhatian banyak orang karena racauan disini. Tapi ini bukan untuk cari perhatian seseorang atau banyak orang, sebab begini menjadi campur-campur antara takut menulis dan senang menulis. Apakah si penguntit itu benar-benar ada dan selalu membuat cerita-cerita bohong tentangku yang berlebihan untuk membunuh karakterku? Apa yang dipikirkannya ketika membaca tulisan yang ini?

Belum lagi isu buruk lainnya yang tak bisa dijelaskan. Takutnya malah jadi aku yang memfitnah oranglain. Jadi ketika aku menulis itu berarti karena aku suka menulis dan hanya ingin menulis tanpa bermaksud ingin menyindir siapapun. Apakah harus ditulis begini: "Maaf bila ada kesamaan kejadian atau nama yang sama dengan pembaca, itu hanya kebetulan belaka. Eh, fiktif belaka."

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post