MENDADAK PUITIS

Aku tahu kau membaca tulisan ini dan tak ingin tahu kenapa aku menuliskannya. Bukan ingin menceritakan kepedihan tak pula hendak mengisahkan kesedihan, agar tak salah memahami kepribadian saja. Aku ibarat sebuah buku yang usang dan tak membuat orang ingin membaca bahkan bila sekilas dilirik pun itu sudah cukup bahagia. Kehidupan, selalu mementaskan cerita-cerita yang tiada habisnya dan semua tak mesti sama dirasa sama diraba. Diraba-raba oleh pikiran yang menerka-nerka dengan kata 'kenapa' dan 'ada apa'.

Aku ingin menulis bagaimana bisa seseorang mendadak puitis. Lebih tepatnya lagi terkesan puitis. Padahal tak pernah meresapi puisi seperti para penikmat puisi yang terkadang membaca hingga menangis akibat kalimat-kalimat puitis.

Aku belajar. Belajar menulis puisi. Bukan belajar menjadi puitis.

aku mengambil kata apa saja yang ada dikepala tanpa perlu berpikir lama, seperti:

-Jemari.

-Tangan.

-Jalan.

-Hidup.

-Tiada.

Kemudian semua disatukan dalam satu kalimat:

-Jalan hidup tiada tangan jemari.

Kemudian kubaca dan itu bukan kalimat yang berguna dan tak enak dibaca, lalu aku menyusunnya dengan menambahkan kata yang lain:

-Jemariku berjalan ditanganmu seolah hidup dan berkata padamu, "aku tiada."

-Tiada kehidupan yang berjalan diatas tanganku setelah kau pergi dan tak kurasakan lagi rapat jemarimu di genggaman tangan.

Lalu sepertinya terbalik dan disusun ulang:

-Tiada kehidupan yang berjalan diatas tanganku lagi setelah tak kurasakan rapat jemarimu di genggaman tangan. Tuhan, aku ingin mati dan tak sanggup lagi kujalani hidup begini.

Dan aku memilih kalimat itu untuk menjadi kalimat puisi pertama, menjadi puisi:

Tiada kehidupan yang berjalan

diatas tanganku

Tiada rapat jemari tangan

di genggamanku

Persetan, garis tangan

hidup berjalan di tangan Tuhan

Atau,

kusudahi dan mati hingga berakhirlah perjalanan

dan matiku ditanganku bukan oleh Tuhan

Jadilah ini puisi untuk menggambarkan orang yang ingin bunuh diri.

Bila kutulis ini dan tanpa menyertakan penjelasan maka akan ada pembaca yang mengira bahwa aku menulis puisi itu karena ingin bunuh diri. Padahal sedang belajar menulis puisi.

Maka setiap penulis dan pembaca harus dijembatani agar pikiran yang membayangkan bahwa penulis menulis puisi itu karena ingin bunuh diri adlah salah persepsi. Sekali lagi salah persepsi.

Nah, ilusi makna akan hilang setelah diketahui bahwa ini puisi ternyata karya seseorang yang belajar menulis puisi dengan tuntunan buku quantum writing. Jadi dengan cepat, Tetapi tanpa penjelasan akan menipu pembaca karena pembaca akan mengira ini puisi yang membuat sedang hopeless dan ingin bunuh diri karena kekasihnya pergi.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at MENDADAK PUITIS (10 weeks 1 day ago)

Ini juga bisa jadi puisi religi, lho......
puisi tentang islam dan terorisme yang keduanya adalah hal yang berbeda.
Teroris itu islamisme
Saya itu islam is me.
Dan jadilah puisi yang menggambarkan bagaimana cinta di terjemahkan oleh teroris menjadi aku mencintai rasul dan akan kubunuh siapa pun yang berani menghina rasul.
Lalu menjadi teroris yang mudah dihasut dan menganggap bahwa setiap korban ledakan bom bunuh dirinya adalah musuh rasul, musuh islam, musuh Allah, musuh jibril, dan halal dibunuh dan setiap pembunuh orang yang menjadi musuh rasul akan masuk surga.
hehehehe ini puisi apaan ya?
"tiada rapat jemari tangan di genggamanku"
dalam tafsir religi tentu bagi umat islam adalah lambang kedekatan atau keterikatan hidup berdampingan dengan damai sesamanya yang sudah dianggap tiada, tersisa hanya permusuhan-permusuhan dan peperangan-peperangan, genosida juga seperti yang dialami rohingya,
Itulah kenapa saya selalu bilang bahwa setiap pembaca bisa menafsirkan seperti apapun yangt dipikirkan pembaca dengan berbagai perbedaan latar belakang pendidikan maupun status sosial juga tentu perbedaan agama.
Rasulullah saw sudah pergi, kekasih Allah sudah tiada dan tak tergantikan.
Tetapi umat islam menantikan Imam Mahdi di akhir jaman sebagai pengganti keteladan resulullah dan bukan sebagai jendral perang yang menyuarakan pembantaian.
Umat kristen dengan kehadiran Yesus lagi, penuh harapan semoga kehidupan damai betul-betul damai tercipta.
Lalu orang awam bertanya untuk apa perang salib dan kenapa bisa terjadi dan Allah memihak siapa ketika itu dan nanti bagaimana?
hahahahahahahahaha,
membaca itu butuh banyak perbandingan info dari berbagai buku dan ulasan-ulasan orang-orang pintar.
Aduh, ngoceh-ngoceh sendiri begini.....
Tuh, kan jadi puisi religi...
SAYA BILANG JUGA APA.......

Writer nusantara
nusantara at MENDADAK PUITIS (10 weeks 1 day ago)

buat si pendengki saya, tolong jangan lagi bikin fitnah kalau saya menganggap bahwa Alquran itu buatan tangan Nabi Muhammad saw.
Itu fitnah yang sangat berbahaya dan sanggup membuat marah semua orang.
Saya ini lagi menjelaskan bagaimana proses orang lagi bikin puisi.
Saya ini ngerti fitnah begitu itu fitnah murahan yang suka dipake sama orang yang suka mengadu domba.
Iya, saya dulu suka baca Al-haqqah. Baca Alqalam juga. Baca Al-qashash juga.
hehehehehe
ga usah mitnah-mitnah lagi lah ya,
tega amat ya,
hehehehe,
jualan batagor ga seberapa aja saya syukuri kok.

Writer nusantara
nusantara at MENDADAK PUITIS (10 weeks 1 day ago)

itu jadi puisi pemberani dengan sedikit pengeditan dan penambahan agar bermakna positif,
Tiada kehidupan yang berjalan

diatas tanganku

Tiada rapat jemari tangan

di genggamanku

Persetan, garis tangan

hidup berjalan di tangan Tuhan

Atau,

kusudahi dan mati hingga berakhirlah perjalanan

dan matiku ditanganku bukan oleh Tuhan
Atau,kujalani hidup dengan harapan bahwa engkau yang pergi pasti tergantikan.

Itu keinginan Tuhan.

TUH, KAN. JADI POSITIF MAKNANYA.

Writer nusantara
nusantara at MENDADAK PUITIS (10 weeks 1 day ago)

Tiada kehidupan yang berjalan

diatas tanganku

Tiada rapat jemari tangan

di genggamanku

Persetan, garis tangan

hidup berjalan di tangan Tuhan

Atau,

kusudahi dan mati hingga berakhirlah perjalanan

dan matiku ditanganku bukan oleh Tuhan

PUISI YANG JELEK.
tapi ini ibarat belum dipoles dan butuh polesan,
maka sentuhan sastra dibutuhkan disini dan proses pembuatan puisi tahap kedua berlanjut dengan sentuhan sastra, menjadi begini:
..................
........
...........
.....

hehehehehehehe

Writer nusantara
nusantara at MENDADAK PUITIS (10 weeks 1 day ago)

puisi itu diberi judul apa ya?