KENDURI 2

Dihadapanmu aku tak banyak berucap canda. Sedikitpun tidak. Sama halnya denganmu, menunggu hingga suapan terakhir sebelum semuanya dimulai. Lantunan musik pengiringpun terhenti seketika saat ponselku kau pukul dengan gelas dan kau memukulnya berkali-kali.

"Kita sedang makan malam untuk memeringati hari pernikahan kita yang ke sekian dan kau memutar lagu yang salah. Selalu salah! Tidak mengerti suasana hati!"

Kata-katanya seperti peluru yang menghancurkan. Sebenarnya gelasnya yang menghancurkan. Ah, sudahlah. Salahku sendiri menyimpan ponsel diatas meja. Tadinya akan kuberikan untuknya agar dia tidak marah. Smart phone terbaru berumur sehari menjadi sampah akibat perempuan yang marah.

Aku balas dengan peluru tajam yang menyakitkan. "Maumu apa! Ini seharusnya tidak terjadi! Perempuan yang payah!"

"Ya, perempuan yang payah! Yang kau nikahi dua tahun yang lalu! Dan kau tak lebih baik dari lelaki manapun! Pengkhianat! Pengkhianat cinta!" Katanya sambil melempar sendok, lalu garpu, lalu piring, lalu gelas dan semua yang ada diatas meja. Semuanya meleset karena aku sigap menghindar. Benar-benar peluru bertubi-tubi. Apa yang harus kulempar? Semuanya sudah dia lempar ke arahku.

"Di rambutmu ada saus, seharusnya darah. Itu yang seharusnya kulihat. Dasar lelaki, jagonya berkelit!" Katanya.

"Kita bercerai! Bukan karena aku muak atau bosan melihatmu. Ini karena ulahmu malam ini!" Kataku.

Dia tak menangis. Sangat tangguh. Cukup tegar.

"Keterlaluan! Dasar pengkhianat! Pengkhianat cinta! Kau menipuku! Ini karena dia! Orang ketiga! Dasar penipu!" Katanya.

"Kita bercerai! Titik!" Kataku.

"Kalau kau mau mempunyai dua istri, aku setuju! Asalkan perempuan itu yatim piatu! Atau janda tua! Atau janda miskin! Jangan dia! Jangan dia! Jangan yang lebih cantik dari aku!" Katanya.

"Ngawur! Dia itu bukan siapa-siapaku! Dasar, perempuan aneh! Pembicaraan ini jangan dilanjutkan lagi! Setan! Aku pergi!" Kataku tapi aku tetap duduk.

Kemudian, dia yang berdiri dari tempat duduknya dan menatapku dalam-dalam hungga akhirnya ia mengangkat kursi tempat duduknya dan melemparkannya ke arahku.

Brakkkk!!

Kemudian dia menatapku penuh kebencian dan menatap sangat tajam. Darah yang mengalir dikepalaku sama sekali tak dihiraukannya. Lalu, dia mengeluarkan sebuah pistol dan memuntahkan semua pelurunya ke tubuhku.

Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!

Dan..........

CUUUUUUUUUUUUT!!!!!!!!!!!!!!!!!

Teriakan sutradara terdengar dan harus break dulu.

Aku bangkit dan merapihkan pakaianku dan perempuan itu tersenyum kepadaku. Dia berkata: "Sakit, ya.. Hehehe. Makan malam dulu, yuk?"

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at KENDURI 2 (11 weeks 2 days ago)

tulisan jelek, ga keren, hehehehe
anu ada kesalahan soalnya ga bisa membawakan ceritanya, akakakak,
emang story telling...?