Dua Hari Yang Lalu

Aku bermimpi sedang berkumpul dengan sekumpulan anak muda, dua perempuan dan dua lelaki, aku salah satu dari mereka. Ya, empat orang muda-mudi. Tapi ini cerita dalam mimpi. Mungkin usia sekitar 20-an atau lebih. Salah satu dari perempuan berkata padaku dengan maksud menunjukan perempuan yang dibencinya. "Tah, si maling. Maling gelang aing jeng cincin. Kuduna keur aing."

"Itu dia, si maling. Mencuri gelang dan cincinku. Seharusnya itu semua menjadi milikku."

Begitu kalau dialihkan ke bahasa indonesia. Maksud perempuan yang di mimpi menjadi temanku itu, begitu. Kekasihnya memutuskannya dan menjalin hubungan dengan perempuan yang dibencinya itu. Kemudian, yang menjadi temanku itu menarik perempuan yang dibencinya membawanya ke tempat yang jauh dari keramaian. Ceritanya mau menghakimi dan ternyata benar dugaanku. Didalam mimpi aku tetap seperti sadar sebab aku tetap berpikir dan mampu mengamati setiap keadaan yang sedang terjadi ketika itu. Salah satu temanku, yang lelaki, memegang tangan perempuan yang mau dihakimi itu dan temanku dalam mimpi yang perempuan itu memotong rambutnya. Perempuan yang dibenci oleh teman perempuan di mimpiku itu meronta-ronta karena tidak mau dipotong rambutnya secara paksa. Dan, aku diam saja. Aku kasihan dan kupikir itu terlalu berlebihan. Tak perlu melakukan potong rambut secara paksa seperti itu.

"Maneh, cicing wae! Soekeun rokna nepi pingping ku maneh. Geuleuh aing. Kalahkah weh jiga nu nya make rok panjang. Kabogoh batur direbut." Kata perempuan yang di mimpi menjadi temanku itu padaku.

"Kamu, kok diam saja! Sobek roknya sampai paha. Jijik saya. Lagaknya seperti perempuan bener pake rok panjang. Pacar orang main rebut saja."

Begitu kalu dialih bahasakan ke bahasa indonesia, kira-kira begitu. Dan aku tidak mau menurutinya. Lalu perempuan itu merobek roknya si perempuan yang dibencinya itu. Cerita berakhir disitu. Dan perempuan yang menjadi temanku di mimpi itu terlihat puas sudah menghakimi. Perempuan yang dibencinya itu lari sambil menangis.

"Cicing wae, maneh. Moal dicium siah ku aing!" Kata perempuan yang menjadi temanku dalam mimpi.

Aku seharusnya mampu mencegah hal itu. Tapi, di mimpi itu aku tidak bicara. Bahkan, ketika si perempuan yang menjadi temanku dalam mimpi menghardikku, "cicing wae", aku diam saja dan ini lucu.

Menjadi lucu sedikit saja, sebab dia bilang begini, "moal dicium siah ku aing", rupanya ceritanya itu aku jadi pacarnya si perempuan yang dalam mimpiku itu kupikir aku temannya, teman biasa.

Aku lalu berkata dalam hati: "Aya awewe sadis kieu (ada cewek sadis begini)."

Lalu aku bangun.

Mimpi berbahasa sunda baru dua kali. Mimpi berbahasa inggris sudah tiga kali. Mimpi berbahasa indonesia paling sering.

Ini sepertinya bukan cerpen drama. Sepertinya ini cerpen misteri.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post