TEARS, PUNCH LINE

Airmata. Setiap manusia, siapapun ia, pasti pernah menitikkan airmata kalaupun ia tak menangis. Karena itulah airmata diciptakan, untuk menangis. Baik itu karena suka maupun duka. Ini bukan kisah sedih bukan pula kisah pilu tapi tak ada alasan untuk siapapun itu untuk tidak menitikkan airmata ketika membacanya. Aduh, ini pemaksaan. Seharusnya aku tak menuliskan kalimat yang itu. Baiklah, ceritanya akan segera diceritakan. Jangan tertawa juga, sebab ini bukan cerita komedi. Ini cerita pendek non fiksi.

Terlihatlah seorang bijaksana duduk diatas reruntuhan puing-puing bangunan sisa peperangan. Ia tak sendiri, bersamanya ada dua orang pemuda-pemudi. Keduanya bermata merah basah bukan karena amarah. Sesekali keduanya menyeka setiap tetes airmata yang jatuh. Mereka sedang mendengarkan tuturan kisah heroik sang juara yang sedan diceritakan.

"Dahulu orang berpikir bahwa setiap kemenangan adalah bagi yang mengangkat piala. Dan setiap pemenang dari setiap peperangan tak pernah mengangkat piala apapun. Tapi, aku tidak sedang bercerita kisah pemenang dari sebuah peperangan. Menang jadi arang dan kalah jadi abu. Begitulah adanya. Sekarang, dari puing-puing ini jelas bahwa kita ada di pihak yang kalah tapi bukan berarti kita pecundang. Kita kalah dengan terhormat. Dan kita menang ketika membawa kondisi ini untuk tak lagi mau ikut dalam peperangan siapapun. Ya, kemenangan juga ada dan layak disematkan pada pihak yang kalah. Kita kalah dan kita adalah juaranya. Sekarang dan sampai nanti, generasi kita akan memahami bahwa kemenangan layak disematkan pada si kalah yang tak mengangkat piala. Dengarkan kisahku ini......." Kata seorang bijaksana mulai bercerita pada kedua pemuda-pemudi dihadapannya.

 

 

"Dalam pertandingan kali ini, kau harus kalah!" Kata sang pelatih dengan tegas.

"Aku akan kalah bila lawanku benar-benar mengalahkanku,coach!!" Kata sang juara tinju dunia sambil menatap tajam pelatihnya.

"Tidak, kau harus kalah kali ini! Maksudku anu, mengalah. Mengalahlah sekali saja!" Kata sang pelatih lagi dan lagi sambil memegangi tangan untuk menurunkan posisi kepalan tinju sang juara tinju dunia.

"Aku adalah juara tinju dunia yang tak terkalahkan. Aku akan kalah bila lawanku mengalahkanku dan bukan karena mengalah! Kau tak tuli, bukan?!" Kata si petinju kepada pelatihnya.

"Lawanmu tak sebanding. SEMUA MENGUNGGULKANMU. Lawanmu itu akan kalah dengan mudah karena banyak yang ia pikirkan. Ia tak fokus untuk pertandingan ini. Lagi pula pertandingan ini tak begitu penting buatmu. Karir tinjumu takkan berantakkan hanya karena kau kalah di pertandingan ini!!" Kata sang pelatih.

"Apa! Tidak penting! Setiap pertandingan adalah ujian kebenaran bagi siapapun yang layak disebut juara. Sehingga jelas siapa yang keluar sebagai pemenang dan siapa yang menjadi pecundang!!" Kata si petinju.

"Lawanmu kali ini berbeda, ini bukan tentang penantangmu, ini tentang putrinya. Kanker, putrinya menonton pertandingan ayah kebanggannya di rumahsakit. Kumohon, kalahlah. Dan semoga kesehatan putrinya semakin lebih baik. Ini bukan soal tinju. Ini soal kanker. Kemenangan ayahnya atas sang juara dunia  mungkin akan membantu kesembuhannya." Kata sang pelatih dengan pelan menjelaskan.

"Aku tahu tentang putrinya itu. Tapi apa maksudnya pertandingan semacam itu digelar. Batalkan pertandingannya. Sampaikan kepada semua awak media aku terkena kanker dan semoga lawanku iba padaku dan mau pura-pura kalah agar aku menjadi juara dunia baru dan dianggap pahlawan bagi semua orang!" Kata si petinju.

"Bodoh! Kau bodoh! Bodoh! Seorang juara bukan karena seberapa keras pukulannya menghantam lawan! Juara disebut juara karena hatinya! Hatinya! Kau ber-Tuhan, bukan?!" Kata sang pelatih. Si petinju terdiam. Akhirnya dia mengangguk dan keduanya saling merangkul berpelukan.

 

Dan pertandinganpun dilangsungkan. Seorang petinju menjadi juara dunia baru setelah mengalahkan sang juara dunia sebelumnya. Putrinya di rumahsakit tampak bahagia menyaksikan kemenangan ayah kebanggaannya. Beberapa dokter dan perawat yang ikut menyaksikan turut bersorak-sorai merayakan kemenangan. Airmata mereka membasahi pipi mereka dan itu adalah tangisan kebahagiaan.

Sementara itu sang mantan juara dunia yang kalah di ronde ketujuh tersenyum bahagia menyaksikan berita kekalahyannya di berita tv beserta pelatihnya. Keduanya merayakan kekalahannya. Keduanya berpelukan sesaat dan terlihat sangat bahagia mendengar kabar putri sang juara dunia baru itu kondisinya semakin membaik.

Sang pelatih berpikir bahwa anak didiknya itu benar-benar mengalah di atas ring. Sang pelatih sangat bangga. Sangat bangga. Kemudian sii petinju tersenyum sendiri setelah pelatihnya pergi. Ia tersenyum sendiri untuk menutupi kekalahannya di atas ring. Dalam hatinya, si mantan juara dunia benar-benar mengakui daya juang lawannya yang sebenarnya benar-benar mengalahkannya.

"Aku kalah dengan terhormat. Dan kau memang layak menjadi juara." Kata si petinju sambil menatap juara dunia baru di berita  tv.

 

 

"Begitulah kisah itu kuceritakan pada kalian dan kukira kalian tahu bahwa cerita itu adalah kisah seratus tahun yang lalu dikala peperangan ini belum terjadi dan meluluh-lantakkan negeri kita ini. Kita kalah tetapi kikta tetap bisa menang dan merayakan kekalahan kita." Kata seorang bijaksana pada kedua pemuda-pemudi di atas puing-puing reruntuhan bangunan.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post