KENDURI 3, prahara

Perasaan cinta dan benci mengisi relung hati, memberi warna-warni hidup. Apa yang kau lihat di mataku tak sama dengan apa yang kulihat di matamu. Setiap lagu cinta dan benci yang menyelimuti hati buatku mencari makna hakikatnya hidupku dan hidupmu. Karena aku lelaki dan engkau perempuan sedang di antara kita ada cinta dan benci yang tak terbaca. Di antara kita.

Kudengarkan sebuah lagu dari Slank yang berjudul 'virus' untuk menemaniku menuliskan setiap kata demi kata yang kutulis ini dan pikiranku terfokus pada setiap cerita manusia yang bergumul dengan perasaan cinta dan benci yang mewarnai setiap jaman, semenjak masa Adam.

Prahara tak luput dari itu semua dimana cinta dan benci terkadang menjadi penyebab hilangnya nyawa dan pertumpahan darah yang mengubah 'hidupmu hidupku' menjadi 'matimu hidupku'. Miris. Memang begitulah adanya manusia. Di Yunani sana terkenal kisah perang Troy sedang di tanahku terkenal kisah prahara cinta Ken Arok dan Ken Dedes. Ternyata bukan hanya menyoal cinta dan benci namun juga perebutan kekuasaan yang terbalut kisah cinta dengan ujung cerita berdarah-darah.

Begitulah adanya cerita cinta di setiap masa hingga kini. Hingga kini. Tak sedikit berita pembunuhan akibat perselingkuhan dan itu menyangkut rasa-rasa yang dimiliki manusia yang memiliki emosi cinta, benci, amarah dan dendam. Lantas dimana keluruhan cinta itu sendiri? Bukankah cinta itu tinggi?

Cinta itu tinggi dan ke-tidak-mampu-an manusia mengelola emosi menjadikannya terjebak pada perbuatan rendah tersebut. Aku menjadi teringat kisah dua anak Adam yang saling membunuh karena cinta.

Orang bijak berpesan bahwa manusia yang baik itu seringan kapas. Tak mudah marah dan meneduhkan sebab ia ringan dan meringankan orang lain. Orang-orang yang baik enggan untuk berbuat aniaya apapun alasannya. Nyatanya, cinta, benci, cemburu, amarah dan dendam, membuat manusia buta akan kebenaran itu dan melakukan tindakan aniaya bahkan sanggup menghilangkan nyawa. Legalisasi hal negatif tersebut disebut penyimpangan luarbiasa dan sejatinya melawan kodrat kemanusiaan si manusia itu sendiri yang dengan cinta seharusnya menjaganya dari perbuatan hina yang merusak nilai-nilai kemanusiaannya itu. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Beradabkah kita bila melakukan aniaya karena cinta?

Aku mencintai perempuan karena aku lelaki dan tak merasa harus berbuat aniaya untuk membuat orang lain menderita karena cinta. Bagaimana denganmu?

Aku tahu kau membaca dan mencerna untuk memahami sebagaimana aku melakukannya.

 

Pesan itu tersimpan di selembar kertas yang terlipat dengan manis dengan ikatan simpul yang menawan disaku seorang lelaki yang terbaring dingin berlumuran darah dengan lima luka tembak di dada. Disampingnya seorang perempuan yang tak lain adalah istrinya duduk membisu hingga petugas keamanan tiba.

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post