Aokigahara

Matahari sudah menghilang saat seorang lelaki muda melangkahkan kaki nya ke pintu masuk hutan itu. Hutan yang terkenal angker ini rupanya tidak pernah membuat hati nya ciut. Semua keadaan hutan sudah terasa amat akrab baginya. Seperti yang dilakukan nya pada malam – malam lain, ia segera duduk di sebuah bangku panjang di sisi danau hutan itu. Sudah hampir seminggu penuh pemuda ini berkunjung ke Aokigahara, berteman dengan dingin nya angin musim dingin sambil berharap hati nya beku terhembus bayu.

 

Malam semakin larut saat pemuda itu berniat meninggalkan area Aokigahara. Baru akan beranjak, tiba – tiba matanya menangkap bayangan seorang wanita muda berparas cantik berpakaian putih. Dengan hati yang sedikit ciut, pemuda ini lalu menegur wanita tersebut, “orang apa setan..?!”. Dengan nada marah wanita itu menjawab “enak saja aku dibilang setan, aku masih manusia tulen. Lalu dari mana aku tahu kamu juga manusia atau bukan?”. “Lihat, aku masih menginjak tanah” jawab si pemuda.

 

Wanita itu masih terlihat muda, namun matanya tak lagi menyiratkan adanya kehidupan. Kosong, hampa, mati. “Untuk apa kamu kesini? Apakah kamu ingin mengakhiri hidupmu?” sebuah pertanyaan bodoh dari si pemuda. Mungkin setelah seminggu hanya berteman dengan aura kematian membuat otaknya sedikit tidak beres. “Tunangan ku ada disini. Tepat setahun yang lalu dia mengakhiri hidup nya disini, persis 2 bulan sebelum pernikahan kami”. Mata wanita itu terlihat menjadi lebih sayu dari sebelum nya. Mungkin dia sedang menahan kesedihan atas kehilangannya. “Entah apa yang ada di pikiran nya” lanjut wanita itu “dia memang pendiam, dia jarang sekali mengutarakan pikiran nya. Namun, setelah ku pikir labih lanjut, mungkin itu juga salah ku. Aku tidak pernah mendengarkan. Apa yang kumau selalu kupaksakan. Aku tidak pernah membiarkan dia untuk diskusi. Makanya, mungkin dia berhenti untuk mencoba. Dan setelah semua menjadi makin tak tertahankan baginya, ini terjadi. Dia gantung diri di pohon persis di samping mu berdiri sekarang.”

 

Si pemuda segera bergidik dan berpindah posisi. Rupanya informasi barusan membuatnya ngeri. Bayangan akan seseorang pernah tergantung di sebelahnya. “Sekarang, yang ada hanya penyesalan. Kehampaan yang terus datang. Berharap akan datang kesempatan kedua agar aku bisa membuat segalanya lebih baik. Namun lalu aku tersadar, bahwa semuanya sudah terlambat. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Hatiku ikut mati bersama dengannya. Sayangnya, nyaliku tak cukup tebal untuk mengikuti jejaknya.”

                   

“Kalau kamu sendiri bagaimana….? Mengapa datang kesini? Apakah kekasih mu meninggalkan mu?” si wanita balik bertanya. “Wah, panjang ceritanya” pemuda itu menjawab. “Tenang saja, aku punya banyak waktu koq”. “Baiklah, aku akan bercerita. Sebenarnya tidak ada alasan khusus. Namun, aku sering sekali merasa kesepian. Sejak kecil, orang tua ku selalu sibuk. Ibu yang berprofesi sebagai pramugari sehingga sering meninggalkan rumah, Ayah yang bekerja dari pagi sampai larut malam juga makin tak membantu. Keseharian dalam masa kecil ku, peran ibu digantikan oleh pembantu. Hasilnya aku selalu haus akan kasih sayang.”

 

“Sebentar, sebentar” wanita itu menyela “apa orang tua mu benar – benar tak pernah meluangkan waktu untukmu?” “Bukan, bukan itu maksudku” jawab si pemuda. “Orang tua ku memang terkadang meluangkan waktu dengan ku, namun, waktu itu mereka masih temperamen. Larangan dan teguran selalu menggunakan cara fisik. Makanya aku bilang pembantu ku lah yang menggantikan peran ibu ku waktu itu”

 

“Lalu, apa kamu tidak punya teman wanita?” sahut si wanita dengan rasa penasaran. “Ada, dan dengan nya lah aku mencoba melampiaskan rasa haus akan kasih sayang itu. Namun, tidak semuanya sesuai dengan harapan. Sama dengan kamu, aku juga akan menikah 2 minggu lagi. Namun dia tidak pernah mau mengerti akan keadaan ku ini. Dia suka pergi meninggalkan ku sendirian. Sekedar jalan – jalan makan malam dengan teman kantor, atau pergi ke luar negeri. Aku memang tidak pernah melarang, aku tidak mau seperti itu. Namun, aku tetap merasa bahwa ada kekosongan dalam hati yang perlu diisi. Aku tidak suka ditinggal, aku benci itu. Hal ini hanya akan mengingatkan ku pada ibu ku yang sering bepergian, makanya aku sangat terpukul saat dia akan meninggalkan ku sendirian. Aku tidak pernah memaksa dia untuk selalu di sampingku, aku hanya merasa kalau pergi bisa menyenangkan dia, aku tidak boleh melarang. Semuanya aku telan, sepahit apapun itu.”

 

“Namun, sekali lagi, aku hanyalah seorang manusia biasa. Aku punya batas. Superman saja bisa menangis, apalagi seorang kroco seperti aku ini. Manusia lembek!” “Wah, ternyata rumit juga jalan hidupmu” wanita itu menimpali. “Aku pikir aku adalah orang yang paling sial di dunia karena ditinggal kekasih. Ternyata ada orang yang mengalami masalah yang lebih rumit dari diriku. Ternyata, trauma masa kecil bisa berbuat sejauh ini yah” tambah wanita itu. “Terima kasih karena bisa mengerti. Sedikit sekali orang yang bisa berbuat seperti anda” jawab si pemuda. “Jadi, kau jadi bunuh diri tidak? Bagaimana kalau kita bunuh diri bersama?” ajak si wanita. “Mungkin di kehidupan berikutnya kita bisa bertemu kembali di situasi yang lebih baik dari ini” “Baiklah,” sahut si pemuda dengan nada datar. Paling tidak, dalam pikiran si pemuda, dia bisa lebih berani daripada kalau harus bunuh diri sendirian. Paling tidak, dalam sekelibat waktu di akhir hidup nya, si pemuda bisa merasakan sedikit rasa kebersamaan. Paling tidak, dalam waktu singkat dalam hidup nya, ada orang yang bisa mengerti dengan keadaan nya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Aokigahara (22 hours 45 min ago)
70

menggelitik sekali...
lucu jadinya tapi kurang gereget sedikit.