VERONA

Wajahnya terlihat cantik berseri cukup lama sebelum kulayangkan pertanyaan sindiran yang membuatnya tak nyaman. Aku tak bermaksud menyakiti hatinya tentu tak juga ingin merusak suasana hatinya yang sedari awal tak henti-hentinya mengembangkan senyum yang menawan. Aku hanya menyindir santun untuk mengawali pembicaraan dan itu ternyata baginya adalah suatu hal yang tak perlu ditanyakan. Bayangkan saja, hampir setengah jam aku dan dia hanya saling memandang saja dan saling membalas senyuman sambil sesekali berusaha melepas kecanggungan yang tak diinginkan.

"Belahan dadamu terlihat, pakaianmu terlalu seksi, tidak ada yang lain yang bisa kau gunakan?"

Aku bertanya dengan nada yang sopan dan seketika wajahnya mendadak pucat dan senyumnya buyar dan ia tak menatapku lagi dengan anggun.

Dari itu aku tahu bahwa sikapnya yang demikian menunjukkan sesuatu yang tak baik. Ya, mungkin aku salah bertanya dan dengan demikian langsung saja aku berusaha mengendalikan suasana agar tetap nyaman.

"Kau cantik, matamu indah. Aku merasa menjadi lelaki yang paling bahagia di dunia bisa bertatapan begitu dekat dengan bidadari dari surga. Sungguh aku takkan pernah bosan memandanginya. Jadi, jangan kau coba alihkan pandanganku dari matamu dengan menunjukkan belahan dadamu itu. Lain kali, gunakan pakaian yang lebih anggun dan sedikit tertutup."

Kukira setelah ku katakan kata-kata itu ia akan kembali tersenyum menawan tapi ternyata tidak dan dia malah menjawab singkat dan langsung pergi begitu saja.

"Kalau begitu, kau makan malam dengan ibuku saja." Katanya.

Keesokan harinya aku mendapat kabar bahwa  ia tak suka dengan lelaki pendikte. Ia mengatakan hal itu terang-terangan pada kawanku yang berusaha mengenalkan kami agar aku dan dia bisa berhubungan lebih jauh lagi karena sama-sama dapat kecocokan.

Pusing juga jadinya sebab aku tak benar-benar bermaksud begitu. Siapa yang tidak suka dengan belahan dada yang menonjol?

#Cerita ini hanya karangan. Dan ini sepertinya cukup lucu. Menggambarkan lelaki yang ja-im tapi ga ja-im. Kalau ada kesamaan cerita di luar sana maka itu hanya kebetulan saja. Cerita ini hanya fiktif belaka.#

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post