GODFATHER'S DAUGHTER

Kedua perempuan itu saling berpelukan dan tampak pada kedua raut wajahnya menunjukkan kebahagiaan yang mendalam. Biasanya mereka selau bertengkar tentang hal yang tak perlu diributkan dan selalu ada saja hal lain yang menjadi penyebab percek-cokkan. Mereka itu padahal ibu dan anak. Lain kali ini, keduanya tampak akur dan saling memahami satu sama lain. Keduanya mengalami situasi yang yang lebih baik dibandingkan beberapa waktu sebelumnya, sebelum Verona menceritakan pertemuannya dengan lelaki itu di suatu tempat untuk makan malam. Makan malam yang tak terselesaikan atau boleh dibilang tidak jadi.

Beberapa menit sebelum berpelukan.....

"Haruskah ibu bicarakan hal ini pada ayahmu?" Kata ibunya.

"Jangan, itu ide buruk. Aku tak suka ayah mencampuri urusan pribadiku." Kata Verona.

"Kau tahu apa yang terjadi pada lelaki yang menyakitimu waktu tahun lalu?" Kata ibunya.

"Ayah terlalu berlebihan. Lelaki itu kini cacat seumur hidup. Ayah keterlaluan. Berlebihan." Kata Verona.

"Untung saja ayahmu tidak membunuhnya. Seharusnya lelaki itu membayar dengan nyawanya atasapa yang ia lakukan terhadapmu." Kata ibunya.

"Huh, ibu sama saja. tak lebih baik dari ayah." Kata Verona.

"Kita ini keluarga mafia. Tak boleh ada yang macam-macam dengan keluarga mafia yang paling ditakuti di setiap pelosok negeri." Kata ibunya.

"Lelaki yang bertemu denganku beberapa hari yang lalu itu orang baik. Dia tak menyakitiku. Kalau dia lelaki kurang ajar, aku yang akan mengurusnya tanpa ayah perlu tahu, bu. Aku menangis bukan karena disakiti olehnya,bu. Aku terlalu terbawa perasaan." Kata Verona.

"Baiklah kalau begitu, tetap jaga sikap agar rahasiamu terjaga. Jangan sampai ada yang tahu kau anak seorang mafia paling ditakuti di setiap pelosok negeri. Ibu bangga padamu, malaikat cantikku." Kata ibunya.

"Dan aku tidak bangga pada ibu. Eh, maksudku bangga. Maaf, aku salah bicara." Kata Verona.

"Kau tak bisa memilih dimana kau dilahirkan. Kau lahir dari perutku. Istri seorang ketua mafia yang berkamuflase sebagai pengusaha properti. Dan itu bukan salahmu kenapa kau harus menjalani kehidupan ganda dan selalu berpura-pura menjadi gadis yang manja. Itu bukan salahmu." Kata ibunya.

"Haha, ibu bisa saja. Aku ingin keluar dari stigma itu. Aku tak mau berpura-pura lagi, ibu." Kata Verona.

"Wah, baguslah kalau begitu. jadilah dirimu sendiri. Jadilah pembunuh yang kejam dan ditakuti. Habisi semua lawan-lawan ayahmu. Manja itu menyebalkan dan menjijikkan." Kata ibunya.

"Aduh, ibu. Maksudku bukan itu. Aku tak ingin dan sangat tidak mau bila aku harus berkecimpung di bisnis hitam ayah. Aku ingin menjadi manusia. Ayah adalah srigala. Ibu juga istri srigala. Aku, ingin menjadi manusia walaupun lahir dari para srigala." Kata Verona.

"Kau, bisa saja. Ibu jadi tersanjung. Kau pandai sekali memberi pujian." Kata ibunya.

"Maksudku...." Verona sedikit tersenyum menagatakan hal itu.

"Kau jadi manusia yang baik. Menikah saja dengan lelaki itu yang mengajakmu makan malam dan mengomentari belahan dadamu itu. Nanti ibu bicara dengan ayahmu dan kau tenang saja. Ibu bangga padamu." Kata ibunya.

"Ibu srigala yang baik dan aku bangga bisa lahir dari perutmu, bu." Kata Verona.

"Dasar anak gadis yang lahir dari perut srigala. Kau sangat menggemaskan." Kata ibunya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post