h-a-n-T-l-e-t

Perempuan itu menggunakan baju tidur tangtop dan dalam percakapan yang sebentar saja sudah cukup membuatku menggeleng-gelengkan kepala. Dia menmperkenalkan namanya padaku Ina, itu nama panggilannya dan nama sebenarnya Astina.

"Kau sudah tahu apa yang aku inginkan darimu tanpa aku perlu bercerita panjang lebar mengenai buku yang ada di hadapanmu itu, bukan?" Katanya dia.

"Ya, aku tahu." Jawabku.

"Aku yang merobeknya sendiri menjadi dua. Robek. Aku dihina. Aku tidak dikritik tapi dihina hanya karena ada orang yang tidak suka dengan cerpenku. Covernya jelek. Terpampang gambar pengantin perempuan yang tersenyum dengan gaun yang anggun tanpa ada mempelai pria. Cover yang aneh. Isi ceritanya jelek. Dan banyak lagi mereka bilang. Padahal itu semua tentangku. Huntlet, itu semua tentangku." Katanya dia.

"Kau ingin aku menulis ulang ceritamu dan kau memberiku buku ceritamu yang robek ini?" Tanyaku.

"Kau tak perlu membaca ulang ceritaku. Gaya penuturannya sangat jelek. Aku sendiri tidak mau membacanya sampai tuntas. Kau tulis ceritaku sesukamu saja. Kau bagus dalam menulis. Mungkin jika kau yang menulisnya banyak orang yang suka dengan ceritaku." Katanya dia.

"Kau terbawa perasaan. Percayalah, kau tidak seburuk itu dalam menulis. Buktinya ada yang membelinya." Kataku.

"Hanya terjual dua. Aku membeli satu untuk kurobek dan satu lagi dibeli kakakku untuk membuatku senang saja. Kakakku tidak suka membaca buku. Aku membuat buku cerpen ini sendiri. Semua biaya sendiri. Bahkan ini bukan buku novel yang beratus halaman. Dan aku dihina banyak orang." Katanya dia.

"Aku harus menulis ceritamu dengan gayaku?" Tanyaku.

"Ya. Seorang perempuan yang bahagia dengan kekasihnya hingga mereka memutuskan untuk menikah dan semuanya tak seperti apa yang dibayangkan sebelumnya. Si tokoh perempuan mengidap penyakit langka dan wajahnya serta fisiknya tak lagi terlihat indah dan cantik lalu dia ditinggalkan suaminya dan ia kehilangan kepercayaan kepada cinta dan Tuhan. Dicibir banyak orang dan tak sanggup menghadapi segala hal yang membuatnya terpuruk dan ia bunuh diri. The end." Katanya dia.

"Kenapa tidak dibikin perempuan itu tetap tegar dan menjalani hidup dengan semangat yang kuat? Mungkin itu yang dimaui pembaca?" Kataku.

"Ini ceritaku bukan ceritamu dan perempuan itu bunuh diri. The end." Katanya dia.

"Baiklah, aku akan menulis ulang cerita pendekmu itu." Kataku.

"Judulnya harus hanTlet. Dengan huruf te besar (T) ditengahnya dan yang lain huruf kecil. Kau jangan berpikir aku tidak percaya Tuhan. Aku tahu Tuhan itu ada dan Tuhan melihat penderitaanku dan membuatku mengerti kenapa ada yang mengkritik dengan sangat kasar. Itu bukan cara menyampaikan kritik yang diajarkan oleh Tuhan." Katanya dia.

"Ya. Ya. Ya. Aku mengerti." Kataku dan dia pergi lalu aku terbangun dari mimpi.

Rupanya aku bermimpi. Mimpi yang aneh.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post