hunTlet 01

Ada truk tengki BBM melaju dengan kecepatan sedang di sebuah ruas jalan tol. Di depannya bus pariwisata penuh penumpang melaju dengan tenang sedang di belakangnya sedan merah berniat mendahului dengan kecepatan tinggi. Tampak dibelakang sedan merah sebuah truk angkut elpiji melesat di jalur cepat hendak mendahului membunyikan klakson telolet.

Tak lama berselang bus pariwisata mengalami pecah ban hingga oleng dan truk BBM meledak tanpa sebab. Seketika, bus terhempas berguling-guling disusul ledakan kedua dari truk angkut elpiji yang melontarkan semua tabung gasnya ke segala arah. Sedan merah terpelanting diikuti mobil lain yang ikut terbanting. Tabrakan beruntun tak terelakkan berujung pada situasi yang tak mengenakkan. Macet.

Lima kilo meter dari tempat kejadian seorang lelaki dan seorang teman perempuannya terlihat menggerutu dengan wajah tampak kesal terjebak kemacetan. Teman perempuannya pun demikian. Mereka berdua sama kesalnya seperti pengguna jalan tol yang lain yang terjebak kemacetan panjang itu. Pengemudi yang lain banyak yang keluar dari mobilnya dan bercakap-cakap bertukar informasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi sambil bermain gapleh, remi bahkan catur. Ada juga yang bermain badminton untuk mengisi waktu. Namun, tentu tidak dengan sepasang lelaki dan perempuan itu, mereka lebih memilih membungkam mulut mereka sendiri dengan mengunyah permen karet dan bermain balon permen karet.

Sayup-sayup terdengar oleh keduanya beberapa orang yang membicarakan tentang teroris dan suara bising helikopter yang melintas di atas mereka terdengar sangat jelas. Helikopter medis dan wartawan peliput berita kemudian lalu-lalang tiada hentinya untuk beberapa saat dan itulah yang membuat keduanya memutuskan untuk keluar dari mobil menghampiri orang=orang yang duduk berkumpul di pinggiran tol. Tak lupa keduanya memakai kacamata hitam dan juga jaket.

"Ada serangan teroris, pak?" Kata si perempuan mengawali pertanyaannya sedang si lelaki dengan cepat menyulut rokoknya sambil bergaya. Ia menghisap dalam-dalam asap rokoknya dan menghamburkannya dengan elegan. Asap rokok yang menghambur disambut angin seketika entah dibawa kemana. Mungkin, dibawanya agar berkumpul bersama pekat asap hitam yang membumbung tinggi ke langit menyatu dengan awan-awan hitam pembawa hujan untuk memadamkan kobaran yang sulit dipadamkan. Si lelaki tak mengeluarkan sepatah kata pun sedang si perempuan terus bertanya pada orang-orang di pinggir tol itu dengan cerewet.

Rokoknya belum habis sudah ia buang dan ia kembali mengunyah permen karet lalu bermain balon permen karet.

"Na, mau hujan." Kata si lelaki sembari mengajak kembali kedalam mobil. Mereka berdua lalu melepaskan jaket dan bertingkah seperti dua remaja yang sedang dimabuk cinta monyet.

Hujan cukup deras. Di dalam mobil keduanya saling pandang. Terlintas dibenak si lelaki untuk memeluk dan mendekap bahkan lebih dari itu. Tangan si lelaki tiba-tiba sudah berada di paha dan si perempuan itu kaget.

Keduanya sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menikah. Mungkin itulah yang membuat keduanya sangat lengket seperti potongan besi dan magnet.

Si lelaki mengeraskan volume musik dangdut goyang dombret dan keduanya tersenyum sesaat sebelum tiba-tiba ada sesuatu menimpa atap mobil dengan keras. Kaca mobil berhamburan dan senyuman berganti teriakan saat patahan baling helikopter menghantam kepala si lelaki. Si perempuan menjerit histeris sampai pingsan kala tubuhnya dibasahi darah si lelaki. Ponsel ditangannya masih menyala dan tak sengaja memotret.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post