Aileen: Kisah Mengenai Sebuah Nama

Hanya sebuah kata.

Namun hanya dengan mengingatnya, hatinya seketika terasa remuk. Sebuah penyesalan dan rasa bersalah yang mendalam membuncah dalam dirinya dan tak tahu harus ditujukan kepada siapa.

Hanya sebuah kata.

Sebuah nama. Yang mana setiap mendengarnya, perasaaan seorang gadis menjadi campur aduk. Ada perasaan rindu yang dia rasakan, juga perasaan sedih yang terasa menyayat hatinya.

Ryojin.

Nama itu terdengar asing dan sedikit aneh namun entah bagaimana bisa terasa begitu familier di telinganya.

Ryojin.

Gadis itu merindukannya. Gadis itu benar-benar ingin kembali menemuinya. Ia ingin bercerita seperti saat dulu, menceritakan segala keluh kesahnya akan peristiwa yang dihadapinya selama beberapa saat terakhir. Namun alasan utama gadis itu ingin menemuinya bukan karena hal itu. Alasan utama gadis itu ingin menemuinya, yaitu untuk meminta maaf kepadanya. Karena ia tidak bisa kembali menemuinya. Karena ia seperti mengabaikannya. Karena ia merasa sangat bersalah kepadanya.

Namun gadis itu tidak tahu bagaimana cara untuk menemuinya.

Ia benar-benar tidak tahu.

Karena sesungguhnya, gadis itu bahkan tidak tahu apakah Ryojin itu nyata atau hanya merupakan halusinasinya belaka.

 

***

Gadis itu masih ingat bahwa ketika itu langit berwarna kelabu. Pemandangan langit kala itu membuat segala hal di sekitarnya terasa suram. Begitu pula dengan perasaan yang berkecamuk di dalam diri gadis itu. Terasa suram. Gadis itu terduduk sembari memeluk lututnya. Ia menggigil kedinginan dan hampir saja menangis.

Gadis itu merasa ketakutan. Saat ini, ketika berusaha mengingat kejadian itu, ia tidak dapat mengingat kembali siapa sosok yang ia takuti. Ia hanya mengingat sebuah siluet. Berperawakan besar dan tinggi. Sosok tersebut memperlihatkan rasa marah dan benci kepada dirinya. Rasa ngeri yang ia rasakan pada saat itu masih dapat ia rasakan hingga saat ini.

Orang itu mengurungnya dan ia terjebak di tempat itu.

Dan ketika cahaya di dalam dirinya mulai meredup, pada saat itulah gadis itu bertemu dengan Ryojin. Lagi-lagi, pikirannya yang terasa kabur saat berusaha mengingat kejadian itu tidak dapat mengingat dengan jelas sosok Ryojin. Gadis itu lupa bagaimana pemuda itu ada di sana dan mengapa ketika dia berusaha mengingatnya, dia mengingat dua sisi yang berlawanan pada dirinya. Gadis itu melihat seseorang yang selalu diwarnai oleh rona ceria di wajahnya dan selalu memiliki cara untuk menghiburnya. Namun pada saat yang bersamaan ia juga melihat seseorang yang redup, seakan tidak memiliki harapan lagi untuk hidupnya sendiri. Seorang pemuda yang rapuh, dan telah hancur berkeping-keping.

Yang teringat jelas oleh gadis itu hanyalah satu. Ryojin merupakan korban kekerasan dari siluet yang gadis itu takuti. Karena ia pernah melihat siluet tersebut menyakitinya.

Bersama-sama dengannya, gadis itu dapat melalui masa suramnya dengan lebih baik. Mereka saling menemani serta saling mendukung satu sama lain.

Begitulah awal pertemuan gadis itu dengan Ryojin.

Setiap cerita selalu memiliki sebuah akhir. Namun saat itu bukanlah akhir dari cerita yang gadis itu inginkan.

“Sebentar lagi semua ini akan berakhir dan aku takkan meminta banyak hal darimu.”

Ucap Ryojin kepada gadis tersebut dengan tiba-tiba. Pemuda itu sadar waktunya semakin menipis.

Gadis itu sama-sama mengerti maksud akhir yang dibicarakan oleh pemuda tersebut namun gadis itu menolaknya.

“Tidak. Aku tidak mau.”

“Maaf, Rinai. Tapi kamu tahu bahwa aku-“

“Aku tahu. Aku sadar kalau semua ini cuma mimpi.”

Keduanya terdiam. Gadis itu juga tidak mengerti mengapa, tetapi dia sadar bahwa semua ini adalah mimpinya. Walaupun begitu, ia merasa mimpinya yang satu ini berbeda dengan mimpinya yang lain. Ada sesuatu yang membuatnya terasa berbeda.

“Tapi aku nyata.” Ucap Ryojin tiba-tiba dengan suara yang lemah.

Gadis bernama Rinai tersebut mengangguk dengan mantap.

“Tapi kamu nyata.”

Itu dia. Hal yang berbeda dari mimpi lainnya adalah gadis tersebut meyakini keberadaan Ryojin itu nyata, sebagaimana dia yakin bahwa dirinya saat ini sedang tertidur dan ketika bangun nanti benar-benar menjalani kehidupannya di dunia nyata.

“Dan apapun yang dilakukan oleh orang tersebut kepadamu, itu juga nyata, Ryojin.”

“Dan aku akan meninggalkanmu sendirian.. di sini.. dalam.. penderitaan.”

Ucap gadis tersebut hampir tanpa suara.

 “Aku tidak bisa kabur, Rinai.” “Belum bisa.”

Gadis tersebut mulai merasakan air mata menggenang di pelupuk matanya.

“Dan seberapa besar kamu berusaha menolak, kamu akan tetap terbangun dari mimpimu.”

Keduanya lagi-lagi terdiam. Gadis itu merasa hal ini tidak adil bagi pemuda tersebut. Bagaimana bisa ia pergi meninggalkan temannya begitu saja di tengah-tengah penderitaan yang sedang dihadapinya?

“Hei. Bukankah ini lebih baik? Karena jika aku jadi kamu, aku akan sangat senang meninggalkan tempat ini.” Ucapnya dengan suara getir. Ryojin terlihat berbeda dari biasanya, ia menampakkan kesedihannya di hadapan gadis tersebut. Baru kali ini gadis itu melihat Ryojin tidak memperlihatkan sedikitpun senyum di wajahnya. Seakan-akan pada saat itu, ia melepas sebuah topeng yang selama ini ia gunakan untuk menghibur gadis tersebut.

“Lagipula, tempat ini terlalu suram untuk kamu, Rinai.”

Air mata gadis tersebut mulai tumpah.

 “Kamu salah. Tempat ini terlalu suram untuk kamu, Ryojin.”

“Seseorang seperti kamu tidak pantas berada di sini.”

Kumohon. Ucap gadis tersebut dalam hati. Biarkan dia pergi juga

Pemuda itu terdiam sejenak, seakan sedang memikirkan sesuatu.

“Kau tahu? Sejak pertama kali aku berada di sini, hidupku telah hancur dan diriku telah pecah menjadi kepingan-kepingan kecil. Setiap kepingan memiliki guratan-guratan yang membuatnya bertambah rapuh.

Kamu, Rinai, adalah sebuah anomali dalam kehidupanku yang statis. Kemunculanmu begitu tiba-tiba dan sejak melihatmu ada di sini, satu keping bagian hidupku rindu akan sebuah kebaikan yang telah lama kulupakan. Melihatmu memiliki tatapan yang sama sepertiku setiap menatapnya, membuatku ingin melakukan sesuatu“

“Sesungguhnya sudah lama aku tidak memiliki keinginan untuk melakukan apapun. Tetapi melihatmu yang ketakutan membuatku ingin melindungimu. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengalami rasa sakit seperti yang kualami. Aku tidak mau kamu berakhir sepertiku.”

“Kamu harus tahu, seberapa besar keinginanku untuk bersamamu. Seberapa takut dan benci aku untuk sendirian di tempat ini. Walaupun begitu, di sisi lain aku benar-benar bersyukur kamu bisa lepas dari orang tersebut”

Gadis tersebut tahu bahwa Ryojin juga benar-benar takut dengan siluet tersebut. Sebisa mungkin ingin pergi meninggalkan siluet tersebut.

Pemuda itu terdiam sebentar sembari menarik nafas dengan cukup dalam.

 “Terima kasih Rinai. Karena kamu pernah menemaniku di sini.”

Kali ini pemuda tersebut kembali tersenyum kepadanya.

“Aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi. Ini permintaanku. Sampai saat itu tiba, ingatlah namaku, ya?”

“Mungkin akan sulit diingat karena tidak familier di telingamu.”

“Namun di dunia ini, dan mungkin di duniamu cuma aku yang akan menggunakan nama ini.”

“Cuma itu-“

Bersamaan dengan ucapan terakhir yang belum sempat diselesaikan oleh Ryojin, gadis itu tiba-tiba terbangun.

Di tengah dinginnya malam, ia kembali merasakan kasur tempatnya tertidur. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Lemari baju di sudut ruangan, jam dinding yang tergantung di sisi kanan dinding kamarnya juga lampu tidur yang memproyeksikan rasi bintang di seluruh ruangan.

Ia benar-benar kembali ke kamarnya.

Ia telah terbangun dari mimpinya dan ia benar-benar meninggalkan tempat itu.

Ia merasakan matanya basah dan sembab karena air mata.

Ia mengingat semuanya. Semua hal dalam mimpinya. Kecuali satu hal.

Ia melupakan nama pemuda tersebut.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
60

judulnya Aileen, tapi ceritanya malah berkisah tentang Ryojin dan Rinai. asa enggak nyambung ^^1
ngawang juga sih, enggak jelas gitu mau nyeritain apa selain buncahan perasaan antara kedua karakter.
mungkin sebenarnya cerita ini mengandung sesuatu yang dalam, tapi untuk sekali baca enggak dapet, kalau buat saya sih.

90

idenya bagus, menginspirasi,
tulisan yang kuat memang susah bikinnya tapi ini belum benar-benar kuat bisa sangat membekas di hati pembaca,
mungkin karena saya yang baca, hehe.
entah dengan pembaca yang lain.