Senang Tak Melihat Gedung Tinggi

Tinggal di dusun Sawangan sedikit melegakan sebab masih banyak disana-sini pepohonan tinggi walaupun tak tinggi sekali. Tak jelas yang kulakukan dalam keseharian memang tapi sedikit-sedikit mempelajari bagaimana harus merawat meri entok maupun bebek meri yang tak seberapa. Memang, sih. Biasanya yang banyak sibuk, ya, bapak. Bukan karena aku memiliki sifat malas tapi tidak semangat. Sering tidak semangat. Itu saja. Bangun subuh saja tidak teratur. Untuk hari ini, aku bangun cukup pagi. Masih gelap. Sekitar jam lima, lah. Itu karena bapak ke Bandung. Jadi, mau tidak mau harus memaksakan betul-betul bangun subuh.

Kemarin dan sepeti pagi demi pagi sebelumnya, aku sebetulnya bangun dan mendengar acara ustad Danu yang sering ditonton bapak sebelum bapak beraktifitas. Aku lalu tidur lagi. Sudah bukan orang kaya bangunnya selalu siang pula, itulah aku beberapa saat ini dari waktu ke waktu. Padahal dulu aku bangun selalu jam lima dan membantu menyiapkan dagangan ibuku. Aku juga dulu sempat berdagang nasi kuning. Tanpa mengeluh ataupun mengaduh.

Disini, udaranya bagus. Dusunku jauh dari jalan raya. Sebetulnya sangat baik berjalan atau lari pagi setiap hari. Dan aku tidak melakukannya. Hanya sesekali saja. Setahun sekali. Atau beberapa bulan sekali. Entahlah, sebab biasanya bangun jam jam delapan atau sembilan baik itu salat subuh dulu maupun bablas tak melakukan. Itu tak baik diceritakan sebetulnya, tapi begitulah yang terjadi. Sawangan itu suatu dusun di pojokan. Memang pojok. Ke belakang sudah sungai dan di seberang sungai sudah masuk wilayah kabupaten lain. Purbalingga.

Aduh, susah. Apa yang harus kuceritakan agar lucu? Seharusnya ini cerita komedi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

haha lucu lucu bos. di tunggu cerita selanjutnya.