Kamu dan Ruangan Pengabul Harapan

Seperti sudah menjadi kebiasaan rutin bagimu untuk berjalan menyusuri gemerlap lampu-lampu aktivitas malam hari di kota. Kalau tidak di lingkungan sekitar apartemenmu, kota lain yang menjadi destinasi mendadak kala rasa cemas ini kambuh secara tiba-tiba pun bisa menggantikannya, seperti malam ini. Kira-kira dua hari yang lalu, perasaan depresi yang aneh itu kembali melanda pikiranmu tanpa sebab yang jelas. Tanpa pikir panjang, kau mengajukan cuti ke atasanmu dan segera mencari tiket pesawat dan hotel murah yang dapat kautemukan di agen perjalanan online, dengan harapan kondisi mentalmu dapat kembali pulih dalam waktu satu minggu.

 

Malam ini terasa cukup dingin. Jaket, topi, serta sarung tangan yang kaukenakan tampaknya belum dapat sepenuhnya menghalau dinginnya malam ini. Saking dinginnya, napas yang kauembuskan lewat mulut pun bisa menimbulkan uap yang jelas kentara. Kalau tahu cuaca musim dingin di kota ini lebih dingin daripada di tempat tinggal asalmu, kau akan membawa jaket yang lebih tebal. Sayangnya saat ini kau hanya sanggup menyembunyikan kedua tangan di saku jaket untuk mengurangi udara dingin yang melanda.

 

Selagi berjalan, semua pikiran-pikiran yang menghantuimu selama beberapa hari belakangan itu saling bersahut-sahutan di kepalamu, bahkan sanggup menutupi telingamu dari renyahnya deru mobil yang berlalu lalang di jalan raya.

 

Apa kau tidak sadar kalau kau hanya diperalat?

Mau sampai kapan begini terus?

Kau pikir kau cukup hebat untuk bersaing dengan mereka?

Apalagi dia yang punya hidup sempurna,

karier matang, keluarga yang bahagia,

sementara apa yang bisa kaubanggakan?

Kau bukanlah apa-apa.

Kau tidak lebih dari sekadar butiran debu.

 

Ingin rasanya hatimu ini berteriak sekeras-kerasnya kalau saja saat ini kau tidak sedang berada di tengah keramaian. Di tengah dentuman-dentuman hebat di kepala itu, kau memilih untuk berbelok ke sebuah gang kecil yang cukup sunyi di antara dua gedung yang menjulang tinggi. Kau bersandar pada salah satu tembok gedung dan mencoba mengatur napas.

 

Kau tahu dan kau pun sadar bahwa ini bukanlah kali pertama kau mengalami hal seperti ini. Apalah itu namanya? Konflik batin? Overthinking? Depresi? Anxiety? Sudah tidak jarang kau mengalaminya tapi tetap saja ketika perasaan ini muncul dengan tiba-tiba kau tidak sanggup berbuat banyak. Bukannya mendapatkan pikiran yang tenang, kini kau malah terpojok dalam peperangan jiwamu ini.

 

Sekiranya suara-suara di kepalamu itu sedikit memudar, kau menengadahkan kepala dan menemukan sebuah papan bersinarkan lampu neon yang terukir membentuk sebuah kata “Paradise” pada tembok gedung di seberangmu bersandar. Ah, sebuah bar! Minum-minum sedikit mungkin dapat menghilangkan sedikit kecemasan yang melandamu ini. Kau pun berjalan menyusuri gang kecil nan sunyi itu—mengikuti petunjuk arah yang tertempel di tembok—menuju ke tempat yang bernama “Paradise” ini. Kau berharap, semoga saja tempat ini memang benar sesuai namanya.

 

~ *** ~

 

Langkah kakimu terhenti di depan sebuah pintu besi tak bermotif yang di atasnya terdapat ukiran neon yang sama dengan yang kautemukan sebelumnya. Inikah tempatnya? Tanpa ragu, kaudorong gagang pintu tersebut dan berlalu melewatinya. Dari balik pintu itu, alih-alih menjumpai suasana khas sebuah bar atau tempat hiburan malam, kau malah disambut oleh seorang nenek tua yang tengah duduk membaca buku di belakang meja.

 

“Oh, ada pelanggan rupanya?” Nenek itu melirik ke arahmu sebentar lalu menutup buku yang ia baca dan meletakkannya di atas meja. Ia kemudian menatapmu yang terlihat kebingungan.

 

“Tempat apa ini?” Kau bertanya sembari menyisir pandang ke seisi ruangan. Ruangan ini tidak luas. Dindingnya kosong, hanya berlapiskan kertas dinding berwarna merah kecokelatan yang polos. Dari seberang pintu yang ia masuki tadi terdapat meja dan kursi yang diduduki oleh sang nenek, sementara di sebelah kiri meja itu terdapat satu lagi pintu kayu yang memiliki sebuah tanda bintang segi enam di bagian atasnya. Di sebelah pintu itu terdapat sebuah kursi panjang yang biasa ditemui di dalam sebuah lobi umum. Yang jelas tempat ini tidak seperti bar yang ada di bayanganmu sebelumnya.

 

“Selamat datang di Paradise! Di tempat ini kamu dapat mewujudkan hasrat terpendam dalam hidupmu.” Hasrat terpendam? Nenek itu tetap melanjutkan presentasinya tanpa menghiraukan raut wajahmu yang penuh dengan tanda tanya. “Entah itu harta ... pujaan hati ... barang yang hilang ... apa pun yang benar-benar kauinginkan dapat diwujudkan di sini. Bahkan jika kamu ingin membalas dendam atau ingin membunuh seseorang pun bisa.”

 

“Kau bercanda?!” Siapa pula yang akan percaya dengan omong kosong seperti ini?

 

“Kalau tidak percaya, kaucoba saja. Kau hanya perlu membayar lima dolar.”

 

Kau terpaku memandang nenek yang mengulas senyum di depanmu itu. Entah itu senyuman kecil dengan maksud merayu atau senyuman licik yang menjebak, kau tidak mampu menebaknya. Kau menebak-nebak apa yang mungkin kautemui di balik pintu kayu itu sekiranya apa yang diutarakan nenek itu benar. Apa yang sebenarnya kauharapkan selama ini? Di hari-hari normal lainnya, mungkin kau tidak memikirkan hal-hal semacam ini, tapi di malam ini, semua—bahkan hal-hal yang mungkin terlihat sepele pun—menjadi penting di dalam pikiranmu.

 

Semua yang kaukerjakan di kantor dihargai lebih?

Promosi jabatan?

Dipindahtugaskan ke bagian sesuai dengan minat dan kemampuanmu?

Bertukar peran dengan seseorang yang hidupnya sempurna?

Memiliki cukup uang untuk berlibur ke luar negeri selama sebulan?

Atau mungkin memiliki penghasilan yang terus mengalir tanpa perlu bekerja sama sekali?

Atau jangan-jangan setelah keluar dari ruangan di balik pintu itu kau jadi sanggup bernyanyi dengan merdu tanpa harus mempelajari apa pun?

 

Kau merogoh saku belakang celana jinmu, mengambil dompet. “Lima dolar?” Nenek itu mengangguk, masih dengan senyuman yang sulit untuk ditebak maksudnya. Kau mengambil lembaran lima dolar yang hanya ada satu-satunya di dompetmu itu dan meletakkannya di atas meja.

 

Nenek itu meraih uang tersebut dan kemudian menukarnya dengan sebuah alat berbentuk papan yang tidak terlalu tebal dari dalam laci mejanya. Ia mengetukkan jari-jarinya di atas papan itu sebelum menjulurkannya kepadaku. “Angkat topimu dan tempelkan kedua jari telunjukmu di situ,” katanya.

 

“Untuk apa?” Nenek itu kemudian menyorotimu dengan tatapan mata yang redup, seolah-olah melihat orang berkelakuan bodoh di hadapannya. Ia menjelaskan dengan singkat bagaimana ia membutuhkan beberapa hal darimu untuk bisa melanjutkan proses yang diperlukan. Kau pun menurut tanpa bertanya lebih lanjut.

 

Sesaat begitu kauletakkan kedua jari telunjukmu di atas papan—layar, lebih tepatnya—kau mendengar suara “klik” kecil seperti yang kau dengar ketika memotret sesuatu dengan kamera atau ponsel. Nenek itu kemudian berdiri dan berjalan melewati mejanya, namun sebelum membuka pintu bertanda bintang itu ia sempat mencabut beberapa helai rambut dari kepalamu dan kau pun mengaduh.

 

“Oh iya, aku juga butuh ini,” katanya, lalu sosoknya menghilang di balik pintu misterius itu setelah menyuruhku untuk menunggu sekitar lima sampai sepuluh menit.

 

Kamu duduk menunggu di pinggiran kursi panjang yang ada seraya mengelus-elus bagian kepala yang rambutnya dicabut secara tiba-tiba tadi. Sepuluh menit ya? Apa yang bisa kaulakukan untuk membuang waktu selama sepuluh menit ke depan? Kau mengeluarkan ponsel pintarmu dari dalam saku celana dan mengecek beberapa aplikasi yang ada di dalamnya.

 

Media sosial ... berapa kali sudah kaugulung layar di ponselmu itu namun yang terlihat hanyalah foto-foto mereka yang berlibur ke suatu tempat atau foto-foto anak mereka yang masih balita. Sesekali saja ibu jarimu itu berhenti sejenak ketika di layar ponselmu menampilkan gambar atau komik yang lucu. Bosan, kau pun beralih ke aplikasi obrolan. Tidak ada satu pun pesan baru di sana karena sebelum pergi ke kota ini kau sengaja memasang mode Do Not Disturb supaya tidak ada “gangguan” di masa menghilangmu ini. Begitu kaucoba matikan mode DND itu, seketika itu pula ratusan pesan masuk dari berbagai nama. Seperti yang sudah kauduga, kebanyakan pesan berasal dari obrolan grup, sementara sebagian lainnya menanyakan perihal pekerjaan. Tidak kaugubris semua obrolan itu dan kembali kauhidupkan mode DND tadi, meninggalkan sejumlah angka—penanda pesan yang belum terbaca—di sudut kanan atas ikon bergambar gagang telepon itu. Baru saja kauingin beralih membuka salah satu aplikasi permainan, tiba-tiba nenek itu keluar dari pintu bertanda bintang itu.

 

“Kamu bisa masuk sekarang.”

 

Dengan hati yang berdegup kencang, kaudorong gagang pintu kayu itu dan berjalan sendirian memasuki ruangan asing itu. Hal pertama yang kautemui saat pintu di belakangmu itu tertutup adalah sebuah meja yang berada di tengah sebuah lorong yang gelap. Satu-satunya cahaya yang ada di lorong itu adalah cahaya lampu gantung yang menyinari meja sejauh dua meter di depanmu. Tidak punya pilihan lain, kau pun berjalan mendekati meja itu.

 

Meja itu sendiri tidak memiliki suatu hal yang unik. Hanya sebuah meja besi polos yang tampak sudah cukup lama digunakan—melihat adanya beberapa noda kecokelatan dan bekas gesekan di beberapa sudut meja tersebut. Yang menjadi fokus perhatian dari meja ini adalah apa yang terdapat di atasnya. Kau menemukan sebuah gelas yang penuh terisi dengan air bening dan sebuah pistol di sampingnya. Di antara kedua benda yang terlihat bertentangan itu kautemukan sebuah kertas putih yang dilipat dan diletakkan menyerupai bentuk segitiga dengan dasar meja sebagai alasnya.

 

Minumlah, kamu pasti haus! Kamu boleh membawa pistol ini, siapa tahu kamu membutuhkannya nanti.

 

Usai membaca pesan yang terdapat pada kertas itu, kau terdiam sejenak dengan beberapa pertanyaan di kepalamu. Apa air ini aman? Kenapa aku memerlukan pistol? Memangnya apa yang harus kulakukan nanti? Setelah berkontemplasi sekitar setengah menit, akhirnya kau menurut pada perintah di atas kertas itu. Kautenggak air itu sampai habis dan kauangkat pistol itu dengan tangan kananmu. Berat. Kautekan tombol pelepas magasin dan menemukan sejumlah peluru di dalamnya. Terlihat asli, tapi aku sudah membayar lima dolar, jadi kenapa tidak diteruskan? Kaupastikan kunci pengaman pada pistol itu sudah berada pada tempatnya sebelum kauselipkan pistol itu di pinggang dan menutupinya dengan jaket. Kauhela napas panjang dan kemudian melangkah lurus mengikuti lampu yang tiba-tiba berpendar di kedua sisi tembok sembari mengira-ngira permainan macam apa yang akan kautemui setelah ini.

 

~ *** ~

 

Ruangan kali ini jauh berbeda dengan lorong gelap yang baru saja kaulewati. Ruangan yang cukup luas ini memiliki dua pintu—pintu yang kaubuka barusan, dan pintu lainnya berada di seberang ruangan. Cahaya lampu berbinar di keempat sudut langit-langit, cukup terang untuk menyinari seisi ruangan sehingga kau dapat menyaksikan dengan jelas apa yang membuatmu tercengang begitu kau melangkah masuk ke ruangan ini.

 

“Katakan saja, kau mau melakukannya sendiri, atau kau lebih senang bila aku yang melakukannya?” tanya seorang pria dengan suara bas yang berusaha menembus topeng yang menutupi wajahnya.

 

“Hei, hei, melakukan apa maksudmu?” kau bertanya dengan suara yang bergetar. Seketika jantungmu berdegup semakin kencang dan kau pun merasa tidak nyaman. Bukannya memberikan jawaban, pria bertopeng itu malah membuka kain yang menutupi kepala dua orang yang duduk terikat di sampingnya. Kau terperanjat hingga tanpa sadar kakimu melangkah mundur saat menjumpai dua sosok yang tak asing di hadapanmu itu.

 

“Jadi, kau mau melakukannya sendiri atau tidak? Kau membawa pistol yang sudah kami siapkan tadi, kan?”

 

Tubuhmu mendadak terasa kaku. Kakimu seakan terpaku pada lantai yang tidak membiarkanmu bergerak bebas. Yang sanggup kaulakukan saat ini hanyalah mengamati kedua sosok yang masih mengenakan pakaian kerja itu terduduk lemas di sana, memberontak meski dengan badan dan mulut yang terikat, mengerahkan sisa-sisa peluh dan tenaga yang mereka miliki selagi memandangimu dengan penuh harapan. Henry dan Ana. Keduanya merupakan rekan kerja satu ruanganmu di kantor dan merupakan salah dua dari beberapa hal yang menjadi pembenaran bagimu ketika memutuskan untuk mengambil cuti kerja.

 

Selagi kau bergeming dan terjebak dalam aliran waktu, suara dentuman terdengar nyaring, menembus lapisan yang semula mengungkungmu dalam kebimbangan. Kau dapat melihat Ana yang tiba-tiba terdorong jatuh ke samping oleh sebuah entakan yang tak terlihat. Dalam kedipan mata, lantai di sekitar Ana telah dipenuhi oleh genangan cairan berwarna merah pekat yang mengalir dari kepalanya.

 

Dengan cepat kau mengalihkan pandangan ke pria bertopeng itu. Marah. “Keparat?! Apa yang telah lakukan?!”

 

“Mengabulkan keinginanmu,” jawabnya dengan santai. Entah sudah berapa kata makian yang keluar dari mulutmu, menanggapi tindakan pria misterius yang dengan tenang berdiri di sana seakan tidak berdosa. Mengabulkan keinginan, katanya. Keinginan apa? Kau tidak pernah berpikir untuk membunuh Ana.

 

“Kalau kau benar berniat mengabulkan keinginanku, seharusnya yang kaubunuh itu Henry, bukan Ana!” Kau berteriak tanpa memerhatikan bahwa orang yang kausebutkan namanya barusan juga hadir di dalam ruangan ini. Sedetik setelah tergugah dari lautan emosi yang memuncak, kau baru menyadari adanya perubahan sorot mata yang dipancarkan Henry kepadamu. Tatapan penuh harapan itu menghilang dan berganti dengan aura kehampaan. Henry terdiam dengan kepala tertunduk dan tak bersuara.

 

“Kalau begitu, lakukanlah sendiri. Kau memegang senjatanya.”

 

Tidak benar! Semua ini tidak benar! Memang sesekali kau berfantasi jika saja tidak ada orang seperti Henry di kantor, tapi bukan berarti kau benar-benar berkeinginan untuk membunuhnya. Kau hanya merasa iri dengan apa yang rival kerjamu itu miliki. Kau mencoba menjelaskan hal itu pada Henry, namun ia tidak merespons. Sepertinya apa yang mulutmu lontarkan barusan dapat diibaratkan pedang tajam yang menghunjam perasaan Henry.

 

Kau meraih pistol yang tersimpan di balik jaketmu. Dengan cepat kautarik slider pada pistol itu dan kemudian mengarahkan senjata api itu pada pria bertopeng di depanmu. Tanganmu bergetar. “Seharusnya kau saja yang mati!”

 

Pria itu terdiam. Kau tidak bisa menebak ekspresi apa yang berada di balik topengnya itu. Yang jelas, ia tidak bergerak seakan mengira kalau gertakanmu itu hanyalah bualan belaka.

 

“Jadi, kau tidak mau melakukannya sendiri?” tanyanya dengan tenang.

 

“Aku mau permainan ini berakhir. Apanya yang ‘paradise’ ? Kau—kalian—bahkan tidak tahu apa yang aku inginkan.”

 

Pria itu memiringkan kepalanya sedikit sambil bertanya lugu, “Permainan?”

 

“Ya! Hentikan semua ini! Dan aku ingin uangku kembali!” Susah sekali menjaga tanganmu agar tidak bergetar meski kau sudah teringat bahwa apa yang terjadi di ruangan ini hanyalah sebuah permainan. Semua ini hanyalah imajinasi. Imajinasi yang terasa sangat nyata.

 

Tanpa berkata sedikit pun, pria itu kembali mengangkat senjata di tangan kirinya. Ia menempelkan ujung laras pistolnya di kepala Henry dan menekan pemicunya. Seketika itu pula bunyi letusan kembali terdengar, menggema ke seisi ruangan. Untuk kedua kalinya kau melihat darah mengalir dari kepala seseorang.

 

“Kaupikir ini semua permainan?” tanya pria itu dengan nada yang meninggi.

 

“AAARGH!!!” Kau berteriak keras seraya menekan pemicu pistolmu. Anehnya, meski berkali-kali kautekan, pemicu itu tak kunjung bergerak. Dalam sekejap, pria itu sudah berdiri di depanmu dan menembakkan pistolnya tepat di sampingmu, membuat telinga kananmu berdenging hebat. Tubuhmu tiba-tiba merasa lemas, entah karena shock mendengar suara bising tadi, atau rasa takut hebat yang menjalar dari perut menuju ke seluruh bagian tubuhmu. Begitu sadar, kau sudah terbaring di lantai dengan pandangan yang memudar. Pria misterius itu berjongkok di sampingmu, masih mengenakan topengnya.

 

“Saranku,” katanya dengan suara yang pelan. Kau tidak bisa memastikan apakah memang suaranya yang memelan atau pendengaranmu yang berkurang. “Besok lagi kalau kau mau menembak, kauperhatikan dulu posisi kunci pengamannya.”

 

Di dalam hati, kau bertanya-tanya, apa benar kau lupa memindahkan posisi kunci pengamannya tadi? Bisa saja kau mengeceknya kalau saja tangan kananmu tidak terlalu lemas untuk meraih pistol yang tergeletak tidak jauh darimu itu. Kau pun akhirnya menyadari bahwa tidak hanya tanganmu saja yang tidak dapat digerakkan. Sekujur tubuhmu juga terasa lemas, bahkan untuk menggerakkan bibir saja sulit. Hanya arah pandangan saja yang dapat kauatur saat ini. Kau masih bisa melihat pria itu menyingkapkan lengan bajunya untuk melihat arloji di tangan kanannya.

 

“Sepertinya waktumu sudah habis. Sebelum kau kehilangan kesadaran, aku mau menyampaikan satu hal. Mungkin kau belum menyadarinya, tapi kami benar-benar tahu apa yang kaubutuhkan ketika kau datang ke tempat ini. Semoga saja cara penyampaian kami ini dapat membantumu dalam menjawab keinginan terpendammu itu.”

 

Yang kubutuhkan? Keinginan? Pikiranmu yang terlampau lelah itu masih mencoba untuk bekerja. Saat ini kau sudah tidak dapat memfokuskan diri pada apa yang dikatakan pria itu setelahnya. Hanya dua kata “Selamat malam!” yang dapat kaudengar sebelum semuanya berakhir dengan gelap dan sunyi.

 

~ *** ~

 

Kau menatap secangkir kapucino yang masih utuh dan beruap di hadapanmu dengan pandangan yang kosong. Suara deras gemuruh hujan di balik kaca di sampingmu ini cukup membantumu dalam merenung. Pikiranmu kembali ke lima belas menit yang lalu, saat di mana kau terbangun di tempat yang sangat asing dan sepi. Kalau bukan karena tetesan rintik hujan, mungkin sampai sekarang kau masih tertidur di bangku panjang itu entah sampai kapan.

 

Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?

 

Kau berusaha merunut apa-apa saja yang membuat pikiranmu sibuk hingga kau memutuskan untuk mengambil cuti kerja dan berakhir dengan tertidur di tempat yang asing sembari menyesap kapucino panas yang pola berbentuk daun di atasnya telah menghilang. Ketika alur pikiranmu sampai pada memori terakhir, tiba-tiba jantungmu terasa berdetak dengan cepat. Takut? Marah? Atau perasaan lega?

 

Rasa-rasanya baru kali ini kau mengalami mimpi yang terasa begitu nyata dan masih membekas di ingatanmu. Tempat yang katanya bisa mengabulkan keinginanmu. Kau mengulang-ulang kalimat itu di kepala selagi tiga jari tanganmu berulang kali mengetuk pelan permukaan meja. Yang membebani pikiranmu bukanlah tempat aneh yang hanya mungkin ada di dalam mimpi, melainkan apa yang sebenarnya kauinginkan? Apa hasrat terpendam yang kaumiliki saat ini? Mengingat dua sosok yang hadir di dalam ruangan itu, kau kembali bertanya-tanya, benarkah mereka berdua menggambarkan keinginanmu selama ini? Kau memang merasa iri pada Henry dan kehidupannya. Kedengkian yang amat sangat itu kadang membuatmu berimajinasi untuk membuat celaka orang yang telah menjadi rival sekaligus teladan bagimu di dalam dunia kerja. Di samping itu, kau juga tidak pernah melepaskan pandanganmu dari Ana, seseorang yang kauidamkan secara diam-diam, tetapi tidak berani kauutarakan perasaanmu itu karena kebimbangan hati yang kaumiliki. Kalau sampai Ana muncul di dalam mimpimu itu, mungkinkah kau memang mendambakan hidup bersamanya?

 

Ataukah semua ini hanyalah efek dari pemikiran yang terlalu jauh?

 

Ketukan tanganmu berhenti. Kau memfokuskan kembali pikiranmu pada pertanyaan tadi, berusaha menjawabnya. Mungkin kau hanya takut menerima kenyataan. Mungkin kau memang sudah gila. Atau mungkin memang semua ini terdengar berlebihan? Pada akhirnya kau berkesimpulan bahwa jika kau mampu mensyukuri apa yang telah kaumiliki, mungkin kedua sosok itu tidak akan muncul di mimpimu malam tadi. Mungkin kau tidak perlu merasa tertekan secara rutin seperti yang selama ini kaurasakan. Mungkin kau tidak perlu terbang jauh-jauh ke kota lain hanya untuk menenangkan diri. Mungkin kau bisa mencari hobi lain yang lebih bermanfaat ketimbang terjebak dalam keterpurukan jiwa. Mungkin di ruangan itu kau akan menemukan hal yang lain.

 

Ya, mungkin itulah yang sebenarnya aku inginkan, katamu dalam hati sambil meneguk habis isi gelas itu. Ketika melihat hujan yang mulai reda, kau beranjak dari tempat dudukmu dengan perasaan yang jauh lebih lega.

 

~ *** ~

 

“Lo, katanya kamu cuti seminggu, kok hari ini sudah masuk kerja?” tanya Mario—rekan kerjamu yang duduk tepat di seberang mejamu—sambil melongokkan kepalanya melalui penyekat meja.

 

“Ah, tidak masalah. Aku sudah sembuh. Lagi pula, aku bosan tidak melakukan apa-apa di apartemen.”

 

“Kau yakin sudah sehat sepenuhnya?” Mario tiba-tiba menempelkan punggung tangannya di keningmu yang kemudian kautepis sedetik kemudian.

 

“Benar, aku serius. Aku juga tidak mau membiarkan pekerjaanku terbengkalai begitu saja selama seminggu,” jawabmu tanpa mengalihkan perhatian dari layar komputer yang tengah menampilkan kertas kerja dalam bentuk spreadsheet.

 

“Oh, syukurlah. Kalau kau sudah selesai, apa kau mau membantuku? Kami agak kewalahan karena tiba-tiba Ana dan Henry bersamaan tidak masuk kerja tanpa kabar. Mana keduanya tidak bisa dihubungi, pula.”

 

Kau menghentikan ketukan jari di atas papan ketikmu dan tanpa sadar kau telah mengucapkan kata “Hah?!” dengan cukup lantang hingga semua orang di ruangan menghentikan kegiatannya dan menolehkan kepala mereka ke arahmu.

 

~ *** ~

Fin

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

wah, panjang juga ceritanya, tapi dapet beberapa hal bagus dari sini. yang pertama, tentang semacam berhati-hati terhadap keinginan terpendam, sebab bisa jadi keinginan itu tidak benar2 baik ketika benar2 terwujud. yang kedua, twist di akhir. sementara menuju ke sana, sebenarnya udah muncul tebakan sih, dan ternyata benar, tapi tetap aja menimbulkan kesan seru--yah, setelah bersabar dengan niat untuk menyelesaikan pembacaan cerpen ini sampai akhir, hehehehe.
kalau bisa bikin latar yang terperinci, gitu. buat sekadar nilai plus sih. begini aja paling enggak udah ketangkep beberapa hal bagus tadi.

100

Sejak mengenal akun Bang Rusty Wilson empat tahun lalu. Saya selalu mengagumi gaya bertuturnya, begitu mengalir lewat tulisan yang tak membosankan dibaca.

Apa kabar, Bang? Semoga dalam keadaan sehat.:)

Wah... Makasih sudah setia membaca.
Udah jarang banget nulis sekarang-sekarang ini karena kesibukan, punya hobi lain, dan agak susah dapet ide dan mood buat nulis. :D

3 minggu belakangan, karena sesuatu hal. lagi agak demotivasi, sampai-sampai nulis cerita yang begini. Sedikit curhat jadinya.
Hehehehehe....

Tapi sekarang udah agak mendingan lah, biarpun kalau malam masih suka kepikiran lagi.

Writer mr rockstars
mr rockstars at Kamu dan Ruangan Pengabul Harapan (20 weeks 23 hours ago)

Wah, bahaya tuh yang masih kepikiran.:D

Writer nusantara
nusantara at Kamu dan Ruangan Pengabul Harapan (21 weeks 23 hours ago)
70

menulis begini ini sebensrnya cukup sulit, beneran sulit,
not bad.
bagus lah, bagus aja, ga bagus banget,
hehehehe

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Kamu dan Ruangan Pengabul Harapan (21 weeks 18 hours ago)

Yang sulit itu nyari idenya. Serius.
Hehehehe...

Writer seoajagan
seoajagan at Kamu dan Ruangan Pengabul Harapan (21 weeks 5 days ago)

cerita yang bagus. buat penasaran dan lanjut terus membacanya.