Kenangan Berkesan

Bersama teman sekelas, Sugito namanya. Kami berdua mendapat hadiah empuk di pipi oleh ustad Hamid. Padahal kami belum sempat mengintip asrama putri tempatnya tidur santriwati putri. Bukan kamar mandi hanya kamar tidur. Aku bersyukur sebab itu tandanya Allah mencegah aku dan temanku melakukan perbuatan jelek itu. Tentu melalui ustad Hamid yang walaupun memang nyatanya  beliau pun keliru menyikapi peristiwa itu. Aku dan Sugito belum sempat melakukan hanya baru mau saja dan keburu kepergok dan itu membuat kami terhindar dari kesalahan itu.

Namun tentu saja ada satu atau dua bahkan lebih yang salah memahami peristiwa tahun-tahun awal itu, 1997. Sudah lama sekali.

Orang bijak mengajarkan justru bila pada saat itu aku dan Sugito tidak dipergoli ustad Hamid maka itu berarti Allah tidak memberi teguran dan membiarkan aku dan Sugito mengintip kamar asrama tidur santriwati. Banyak remaja-remaja dimana saja yang iseng melakukan itu dan sebab tidak kepergok maka melanjutkan menjadi kebiasaan buruk yang dilakukan remaja-remaja di lingkungan seumumnya. Jadi aku bangga juga sebab ada ustad Hamid ketika itu. Tapi ada kekurangannya juga sebab isu yang tersebar melebihi kejadian sebenarnya. Alhamdulilah, tetap dengan prestasi baik sebab aku tak begitu peduli isu buruk dan melanjutkan belajar dengan baik. Senangnya.

Setelah dewasa menjadi pemahaman penting bahwa privasi orang lain itu adalah sesuatu yang penting yang patut dijaga. Kenyataannya jaman sekarang orang-orang banyak yang tak menghargai privasi orang lain, bukan?

Saya ingat ketika ikut pramuka ada dari kakak kelas yang pikirannya jelek dan hatinya sedikit bermasalah waktu itu. Ada acara jurit malam dan satu-satu keliling orang per orang di kegelapan malam. Tentu di sekitar pondok tapi bagi anak-anak usia kami itu cukup menakutkan. Ketika sampai di dekat kolam ikan, mungkin salah satu pos lah itu, dia itu yang melakukan tendangan di dada sampai terpental dengan keras ke kolam ikan. Ibad badrudin namanya. Dia tak menyukaiku. Tapi, aku tidak peduli dan senang-senang saja. Dia itu ilmu silatnya mungkin sudah jago sedangkan saya klemar-klemer. Dan dengan tendangan silatnya aku terpental dan cengar-cengir. Ada temanku waktu itu, namanya Cecep Rustamsyah.

Mau tidak mau setiap pengalaman yang kudapatkan dalam setiap fase kehidupan yang dijalani membentuk siapa aku saat ini. Setiap pengalaman. Dari usia balita sampai remaja sampai beberapa tahun ke belakang, menjadikan siapa aku saat ini. Apa menurut mereka tak berarti bila senyata-nyatanya yang benar-benar berpenyakit hati menunjukan upaya-upaya buruknya dan aku tidak. Aku tidak mau dan bisa menjaga diri dari kejahatan terhadap siapa pun.

Aku tidak terjerumus pada dunia kriminal adalah bukti nyata bahwa aku masih mampu menjaga sikap atas rasa tanggung-jawab terhadap diri dan keluarga dan juga guru-guruku di Tka/Tpa, Sd, Tsanawiyah, Aliyah, walaupun sampai kelas satu saja. Kukira aku boleh mengkalim diri sebagai manusia yang tegar menghadapi kehidupan. Hehe, memangnya lagu Rosa.

Ini bukan cerita pendek ya?

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Kenangan Berkesan (2 weeks 4 days ago)

ada yang bilang gaya nulis begini kaya tulisan cewe,
bodo amat, yang penting nulis aja lah...
bacanya pake logat batman jadi bacanya macho.
akakakakakak,