Siapa Aku?

Aku memiliki pengalaman hidup yang berbeda dengan siapa pun itu. Semua orang memiliki cara berpkir yang berbeda tentang menilai sesuatu termasuk diantaranya menilai bentuk kehidupan seseorang atau kelompok masyarakat tertentu di dunia ini. Aku menulis BAS bukan kenapa, hanya ingin bercerita bahwa memahami sesuatu bagi setiap orang adalah tak mungkin sama sebab setiap orang memiliki subyektifitas masing-masing berdasarka pengalaman yang memberikannya informasi tambahan.

Dulu, ketika di pondok Daarul Ihsan pernah memiliki pengalaman mendengarkan kaset rekaman tentang muallaf yang disiksa dan tidak diakui anak oleh orang tuanya sebab keluar dari agama kristen dan memeluk agama islam. Pengalaman itu memberi informasi yang tetap tertanam bahwa keluar dari agama terdahulu dan pindah agama kepada islam adalah tindakan melebihi kejahatan orang-orang kriminal. Lalu, disiksa dan tak diakui sebagai bagian dari keluarga. Itu sama dengan memutus tali persaudaraan dan itu dalam islam tidak diperbolehkan sebab islam itu agama yang menyambungkan tali persaudaraan dan melarang pemutusan persaudaraan sebab berbeda agama. Albaqarah:27 menjelaskan bahwa perilaku memutus hubungan kekerabatan atau keluarga karena suatu perbedaan adalah perilaku yang merusak pola pikir manusia dan akan berakibat pada perseteruan yang buruk.

Pengalaman mendengarkan tuturan cerita muallaf (orang yang baru masuk islam) ketika di pondok itu membentuk cara berpikir lain untukku menyikapi persoalan perbedaan agama. Sekarang tentu lebih baik karena keadaan memberikan fakta bahwa tak sedikit keluarga yang memiliki saudara berbeda agama dan tetap akur serta tetap menjaga hubungan kekeluargaan dengan sangat baik.

Yunus:63 menjelaskan Yunus:62, bahwa muslimun (orang-orang muslim) itu juga adalah wali-wali Allah yaitu orang-orang yang beriman dan selalu berbakti kepada Allah. Maksudnya muslim itu mengayomi tanpa membeda-bedakan golongan maupun agama lainnya.

Disini tentu hubungannya dengan Almaidah:51, yang beberapa orang menganggap bahwa agama islam itu rasis dan melarang memilih wali-wali yang non muslim. Itu tidak benar.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani (yang bersikap fanatik dan enggan menerima kerasulan nabi Muhammad dan mengakui Alquran sebagai wahyu dari Allah). Sebagian mereka cenderung menjadi wali-wali bagi golongan mereka sendiri. Barang siapa diantaramu mengambil mereka (berperilaku seperti mereka) maka berarti sungguh sudah termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tak memberi petunjuk pada orang-orang yang lalim (aniaya)."

Perlu dingat bahwa ini membicarakan keadaan waktu abad ke tujuh saat islam masih menjadi agama baru dan pemeluknya adalah kaum minoritas. Tentu rawan terhadap segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan kaum mayoritas (Yahudi dan Nasrani yang fanatik golongan). Nah, islam itu mengubah cara pandang yang demikian bahwa hak-hak kaum minoritas dijunjung tinggi sebab islam itu anti imperialime. Islam yang sebenarnya itu anti imperialisme. Perilaku menjajah dalam ruang lingkup individu menjadi perilaku bully (perundungan), perilaku menjajah dalam ruang lingkup kelompok menjadi perilaku rasis, perilaku menjajah dalam ruang lingkup bangsa menjadi penjajahan suatu negeri oleh negeri lain.

Jadi maksud almaidah:51 itu bukan melarang atau rasis terhadap agama lain memiliki kesempatan memimpin. Bukan. Maksudnya itu kepada manusia-manusia berwatak egois yang mementingkan kepentingan golongannya sendiri dan berbuat tidak adil terhadap kaum-kaum minoritas. Padahal islam itu rahmatan lil 'alamin (untuk semua alam semesta) jadi wali-wali muslim itu maksudnya yang menghargai dan tetap adil terhadap lain-lain golongan yang dibawahi olehnya.

Almaidah:51 itu jangan dipisah dengan Amaidah:41; kata "haaduu" itu bukan menunjuk israel atau yahudi dalam arti ras atau bangsa sebab orang yahudi juga ciptaan Allah dan banyak pula Nabi dan Rasul dari bani israil sebelum Muhammad saw. kata "haaduu" itu menunjuk kepada orang yahudi fanatik yang enggan menerima Alquran dan membuat Rasulullah bersedih sebab selalu dicela, dihina, direndahkan, dan lain-lain. Itu adalah pemberitahuan bahwa yang begitu adalah orang yang berkepribadian buruk dan memiliki kecendrungan berbuat jahat terhadap golongan yang minoritas. Tidak semua orang yahudi bersikap memusuhi dan tak sedikit orang yahudi yang memeluk islam kala itu.

Jadi, siapa aku?

Aku bukan siapa-siapa.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Siapa Aku? (1 week 3 days ago)

wah, dengar rumor ada banyak ustad di luar sana baca ini,
jadi gini aja soal Yunus:62-63 dan Alqalam:35 dan Almaidah:41-51; dihubungkan saja alias diikat dengat Shad:28

"Patutkah Kami menganggap bahwa orang-orang yang beriman yakni yang beramal saleh itu Kami jadikan sama perbuatannya dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah pula Kami menganggap orang-orang yang berbakti/bertakwa Kami jadikan sama perbuatannya dengan orang-orang yang berbuat maksiat/menyimpang?" (Shad:28)

MAKA ANGGOTA DEWAN YANG TERSANDUNG KASUS KORUPSI WALAUPUN BERAGAMA ISLAM PADA DASARNYA BELUM ISLAM SEPENUHNYA SEBAB IA KORUPSI.
bila suara rakyat adalah suara Tuhan maka apa yang mereka berikan untuk Tuhan dan rakyat bila setelah menjabat malah korupsi.
taubatlah menjadi koruptor wahai pejabat-pejabat yang tersandung masalah korupsi.

untunglah saya cuma rakyat biasa.