Hari Ini

Seperti kemarin, matahari terbit dari timur dan tenggelam ke barat. Namun bangunku dari tidur tak seperti seperti kemarin. Aku bangun tidur pukul 05:30. Shalat subuh di kamar. Setelah itu membuat bakwan (bala-bala) dan kutitip ke warung. Aku tak terlalu sibuk seperti orang lain sebab aku tak memiliki rutinitas pekerjaan seperti yang lain.

Mengingat persoalan fitnah-fitnah yang mengenaiku dan upaya-upaya pembunuhan karakter tahun demi tahun, tak jadi persoalan bagiku. Santai saja. Seburuk-buruknya aku tetap menyempatkan membaca Alquran. Aku tidak suka menjadi orang jahat dan tidak mau menjadi orang jahat.

Belum lama, aku membaca Al Anbiya:94; "Barang siapa mengerjakan kebajikan, dan dia beriman, maka usahanya tidak akan diingkari (dianggap sia-sia), dan sungguh Kamilah yang mencatat untuknya."

Ada pencatat amal perbuatan, Malaikat pencatat amal perbuatan mencatat amal perbuatan manusia. Bila ada manusia melakukan penyimpangan dengan mengintip kamar orang lain atau kamar mandi orang lain dengan kamera sembunyi-sembunyi maka akan dicatat sebagai amal perbuatan buruk. Dan aku tidak melakukan perbuatan itu sebab orangtuaku mengajariku tentang apa itu perbuatan baik dengan baik.

Jadi ingat kasus berita televisi pada waktu yang sudah lalu semisal kartun Nabi/karikatur Nabi, itu adalah perbuatan buruk. Pasti akan dicatat sebagai amal perbuatan buruk. Lantas, ketika terjadi reaksi berlebihan dengan amarah yang tak terkendali dari sebagian muslim dan menjurus tindakan demi tindakan yang merusak situasi dan kondisi dari tenang menjadi tak kondusif, itu juga dicatat sebagai amal perbuatan buruk. Aku menyikapi dengan normal dan menganjurkan kepada siapapun temanku untuk biasa-biasa saja. Dan, ada profokator yang menyebar aku pembela orang kafir. Lucu saja. Tapi tak ingin tertawa. Bagaimana cara berpikirnya?

Pemikirnku sederhana saja; seandainya ada orang kafir (ingkar lagi jahat) menginjak-injak Alquran didepanku maka aku takkan bereaksi melakukan tindakan di luar hukum untuk menghakimi, aku akan tertawa saja dan bangga menertawakan dan aku akan bilang: "Ini, injak lagi. Aku masih punya banyak. Aku akan menghafalnya, dan bila semua Alquran habis kau injak apa kau akan menginjak kepalaku? Apa kau akan memotong kepalaku? Tingkahmu seperti orang gila saja. Ayo, kita makan dan minum dan bersahabat saja."

Profokator pengintip kamar dan kamar mandi menggangguku menghafal Alquran. Aku sudah hafal Al Baqarah:1-50. Kupertahankan dan belum permanen sebab kadang lupa lagi akibat jarang dibawa salat. Salat juga belum konsisten sebenarnya tapi terus bertahap sedang pengamera sembunyi-sembunyi tetap mengintai dan sepertinya belum mau pergi dan meninggalkankanku untuk memiliki kehidupan tenang.

Hey, profokator. Seharusnya kau takut. Siapapun dirimu?

mana ku tahu?

Aku sampai harus ganti nama agar menjadi lebih baik padahal bukan masalah gangguan jin atau siluman. Bapakku namanya Sadim dan punya nama lain tapi bukan karena supaya lebih baik dan tidak diganggu jin atau siluman. Haha, lucu. Tapi sebenarnya tak lucu. Namaku Martono. Di KTP Martono saja. Ditambahin jadi Martono Mahmudin. Dipanggil Atok. Sekarang Ada yang memanggil dengan Martono dan Salman.

Aku berusaha tidak marah dan ingin mempraktekkan sedikit-sedikit apa yang sudah kupelajari.

Al Imran:134; "(Orang-orang yang bertakwa/berbakti kepada Allah, yaitu) orang-orang yang berbagi memberi karena Allah di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."

I try it. To be the best. But belom perfect act nya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Hari Ini (2 weeks 1 day ago)
80

Bijak juga, karena ngutip ayat-ayat Alquran.
Tapi "laki"-nya ...? Enggak kerasa di sini kalau bagi saya. Yang dimaksud "laki", "macho" itu apa sih?
Kenapa enggak bikin blog aja, wahai Penunggu Kemudian Abad Ini?

Writer nusantara
nusantara at Hari Ini (2 weeks 14 hours ago)

kalo soal macho atau laki, itu....
maksudnya bukan ekstra joss, laki-gue-banget,
hehehe
jadi maksudnya itu isu gender antara female dan male dan transgender yang gitu gitu.
cerita saya ada membahas sedikit perempuan yang bukan perempuan itu, kompleks banget,
bukan tentang banci yang jadi PSK, bukan tentang artis yang setengah laki setengah perempuan, bukan soal banci salon, banci make up artis, banci manapun itulah,

saya juga dulu sempat dikira terlalu feminin, kecewe-cewe-an, dan digambarkan terlalu berlebihan, padahal ga gitu amat, intinya itu soal macho itu bukan lelaki bertangan melambai macam penari yang terlalu lentur gitu, macho juga bukan lelaki bertangan kekar dengan tenaga kuat tapi ga ada otak macam pelaku KDRT dimana pun mereke berada, ya, dimanapun mereka berada, jadi macho itu adalah lelaki yang jujur terhadap dirinya sendiri dan orang lain.

saya kira ini tulisan yang jujur tanpa ada maksud apa-apa dan ceritanya mengada-ada, makanya saya anggap ini tulisan macho.

Writer nusantara
nusantara at Hari Ini (2 weeks 15 hours ago)

Ga punya blog.
ini aja di warnet.
ga lucu, ngeblog itu buat saya susah.
untungnya juga ga tahu gimana.
saya nulis cuma belajar disini doang.
buat fun, hibur diri, berimajinasi buat cerita sendiri, nulis disini,
gitu doang,
for fun doang,
ga punya instagram, facebook,twiter, ga punya, ga aktif di medsos manapun,
ke warnet itu kalao pengen nulis cerita atau baca atau buat puisi,
atau setelah mimpi seru yang diingat gitu.
jadi ketika saya sebut "pendengki",
itu maksudnya bukan ke hater di medsos, saya ga punya medsos apa pun.
jadi hater di dunia nyata bukan di dunia maya.

Writer nusantara
nusantara at Hari Ini (2 weeks 15 hours ago)

sebenernya bukan pengen dikira orang bijak sih,
sengaja ngutip ayat-ayat Alquran biar orang non muslim bisa bedain mana pemahaman teroris dan mana yang bukan?
Teroris yang diberitakan di televisi itu macam JAD dsb itu kan dalil-dalil terornya dapat ambil dari Alquran juga.

Ya, contohnya saya ngutip Al-Imran:134 itu.
Ajarannya itu membuat manusia jadi mulia bukan karena harta atau jabatan tapi dari kesanggupan mempraktekkan perintah kebaikan itu.

Jujur saya sendiri sulit menahan amarah bila ingat isu-isu fitnah yang menimpa, tapi saya harus mencoba.
Harus memaafkan juga. Memaafkan setelah disakiti itu susah. Sangat susah itu. Disakiti bukan oleh individu per orangan lagi, semacam seperti ada sekelompok orang yang sengaja hendak membuat jeratan atau jebakan.

Hehehe, tapi santai saja lah.....
selama berusaha tetap menjaga sikap dan tidak terjerumus tindakan penganiayaan kan sepertinya orang mau menjelekkan bagaimanapun sepertinya takkan berpengaruh banyak.
kitu jigana mah.

Abdi teu teurang nuju aya naon iyeu teh, kusabab teu aya nu wantun ngaleureusken permasalahana nya janten kieu weh.
tapi santey weh lah...