PERADUAN

Entah apa lagi yang hendak kutuliskan. Semua tersembunyi di benakku dan tak tahu apa perlu kuberbagi, ceritaku padamu?

Kukisahkan beberapa saja, sebab tak tentu akan membawa kebaikan karena selalu ada sisi negatif dari hal yang positif. Begitupun sebaliknya. Memang tak semua akan sama memahami.

Beberapa tahun yang lalu aku pernah bermimpi bertemu seseorang. Perempuan. Cukup cantik. Aku tak mengenalnya. Aku berharap bahwa semua dapat membaca dengan santun tentang apa saja yang kuceritakan. Pada suatu malam, seperti ada sesuatu yang aneh sebelum tidur, ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Seperti badan ini bergetar atau semacamnya, seperti kejang atau semacamnya. Lalu, tidur dan bermimpi.

Aku bermimpi sedang diatas kuda, berlari di jalan bebatuan berdebu dan setelah lama sesekali ku kendalikan kudaku untuk berjalan santai. Hingga aku melihat orang lain di tempat itu. Ya, perempuan itu yang entah siapa yang setelah bangun dari tidur sampai hari ini tak kulupa. Kudekati perlahan dan senyumku dibalas senyumnya.

"Assalamu 'alaikum." Sapaku.

"Wa 'alaikum salam." Ia balas salamku.

"Haleluya." Katanya. Tentu aku diam saja. Hanya tersenyum.

*

Kami turun dari kuda kami dan mencari tempat untuk duduk dan mengusir penat perjalanan.

"Aku menjawab salammu, kenapa kau tidak mejawab salamku?" Perempuan itu menanyakan hal itu padaku sambil tersenyum.

"Assalamu 'alaikum adalah salam perdamaian" Katanya.

"Ya." Jawabku singkat.

"Haleluya adalah salam persahabatan." Katanya.

"Ha-hale-luya." Jawabku dengan tersenyum.

*

Kami terus mengobrol dan berbagi perbekalan dan air untuk kami dan kuda kami. Kami tertawa dan sesekali tersenyum.

*

"Bisa kau jelaskan kalungmu itu sebagai simbol apa?" Tanyaku.

"Ini tak perlu kujelaskan. Kau tahu nama apa benda ini, bukan?" Jawabnya.

"Ya, salib. Apa itu jimat keberuntungan untukmu?" Tanyaku.

"Tidak. Bukan begitu. Ini adalah lambang pedang terbalik. Ketika perang pedang diacungkan tetapi pedang terbalik tak pernah diacungkan. Memangnya tak kau lihat aku ini tak membawa pedang, bukan?" Jawabnya.

"Kau bukan prajurit perang jadi kau bicara seperti itu. Aku sudah sering melihat prajurit perang dengan kalung itu dan mereka mengacungkan pedang dan bertempur entah demi apa. Entahlah." Kataku.

"Ya, aku juga sering melihat orang sepertimu yang mengucapkan salam perdamaian dan tetap konsisten untuk larut dalam peperangan. Entah berperang demi apa?" Katanya.

Kami tertawa bersama.

*

"Kenapa orang-orang sepertimu menyentuh kening lalu dada kiri dan kanan?" Tanyaku.

"Untuk mengingatkan. Aku mengingatkan diriku akan mata di tengah mata. Membantu untuk tetap mengingat Tuhan. Allah yang memberiku kepala dan ada otak dikepalaku dan berpikir dengan benar dan tak dibawa nafsu amarah dan lainnya yang negatif. Dada kiri dan kanan itu mengingatkan ada Malaikat pencatat amal perbuatan baik dan jahat. Jadi, agar selalu terjaga dari segala perbuatan jahat akibat hawa nafsu." Katanya.

"Rakib dan Atid. Malaikat pencatat amal perbuatan manusia." Kataku.

"Ya." Katanya.

*

"Kulihat kau baik sekali memperlakukan kudamu?" Tanyaku.

"Ya, kudaku adalah kendaraanku. Bila ku tak baik padanya bagaimana aku bisa bepergian." Jawabnya.

"Kau pandai menjawab dengan baik." Kataku.

"Kudamu kelelahan. Kau baik hanya sedikit kurang peka pada keadaan kudamu." Katanya.

"Tubuhku adalah kendaraanku. Aku lebih mengutamakan tubuhku. Bila tak kuperhatikan tubuhku maka aku tak bisa bepergian sebab aku sakit dan tak bisa bangkit." Kataku.

"Aku agak kurus, aku menghemat perbekalan dan makan sedikit sekali. Yang penting kudaku baik-baik saja agar tetap mampu membawaku sampai tujuan." Katanya.

*

Kemudian kutanya tentang yang lebih pribadi.

*

"Apakah kau seorang muslimah?" Tanyaku. Perempuan itu tersenyum saja.

"Apakah kau seorang kristen?" Tanyaku. Perempuan itu tersenyum saja.

"Aku seorang muslim dan bukan muslim yang baik. Aku muslim yang berusaha menjadi lebih baik dari hari kemarin." Kataku. Perempuan itu tersenyum saja.

*

Aku bermimpi selalu berbeda-beda. Dan biasanya kutulis dibuku setiap pengalaman mimpi. Lalu, ini juga sempat kutulis dibuku yang sekarang sudah tidak ada. Kubakar, soalnya itu lebih baik daripada tidak. Aku sedikit berasumsi bahwa kemungkinan ada di luar sana atau entah dimana, ada yang mungkin ingin membuat kesan penghina atau semacamnya. Padahal tidak. Tentu tidak.

*

Nabi Isa banyak dikisahkan di Alquran dan dimuliakan. Sebagai utusan Tuhan, tentu banyak juga yang patut dicontoh perilakunya. Semua Nabi dan Rasul sampai Muhammad tentu menjadi contoh suritauladan bagi umat manusia.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post