PERADUAN 2

"Apakah kau seorang muslimah?" Tanyaku. Perempuan itu tersenyum saja.

"Apakah kau seorang kristen?" Tanyaku. Perempuan itu tersenyum saja.

"Aku seorang muslim dan bukan muslim yang baik. Aku muslim yang berusaha menjadi lebih baik dari hari kemarin." Kataku. Perempuan itu tersenyum saja.

*

Malam semakin larut.

*

"Hey, hey, hey. Tunggu dulu. Apa yang kau lakukan?" Kataku padanya sedikit heran.

"Kita berdua saja disini dan kuingin menjadi milikmu malam ini." Kata perempuan itu.

"Tutup kembali auratmu. Tak baik memperlihatkan paha dihadapan laki-laki." Kataku.

*

"Apa karena kita bukan seperti mereka lantas menjadi tidak boleh." Katanya.

"Itu kesalahan yang tak patut dilakukan. Kukira kusalah menilaimu." Kataku.

"Salib ini dari seseorang yang kutemui di perjalanan. Dia sudah mati. Kubunuh karena ia melanggar ucapannya sendiri. Aku memotong kepalanya dengan pedang miliknya sendiri." Katanya sambil tersenyum.

"Kau perempuan jahat atau tidak jahat aku tak peduli. Pergilah. Biarkan aku sendiri. Bila tidak, aku yang akan pergi." Kataku.

*

"Aku lahir telanjang dan mati telanjang." Kata perempuan itu.

*

"Terserah kau saja. Aku takkan melihat ke arahmu." Kataku.

*

Perempuan itu terdengar tersedu.

*

"Bunuhlah aku. Aku juga sudah pernah membunuh orang-orang sepertimu. Ini kehendak Tuhan kita bertemu. Bila kau tidak membunuhku aku yang akan membunuhmu." Katanya.

"Jangan membahas apa kehendak Tuhan. Kau pikir setiap darah yang tertumpah dalam setiap peperangan adalah kehendak Tuhan?" Kataku.

"Aku pernah bertemu pendeta dan kukatakan padanya semua yang dianggap dosa olehnya. Katanya aku diampuni oleh Tuhan. Sebab aku membunuh untuk Tuhan." Kata perempuan itu.

"Mungkin saja orang itu bukan pendeta. Bisa saja orang itu berpura-pura menjadi pendeta. Kau ini ingin membunuhku, ini pedangku untukmu." Kataku. Aku tak melihat ke arahnya sambil melemparkan pedang.

"Hey, orang tidak punya otak. Lihatlah ke arahku. Kau kira aku tak berpakaian apa!" Kata perempuan itu.

*

"Kehendak Tuhan adalah kematianmu dan aku tak perlu melepaskan pakaian untuk membunuhmu." Katanya dan perempuan itu menempelkan ujung pedang di leherku. Tapi dia tersenyum.

"Kau pandai sekali. Kau tahu apa itu 'kehendak Tuhan' dan apa itu 'kehendak kebencian', 'kehendak amarah', 'kehendak dendam'; semua itu kehendak hawa nafsu." Kataku.

*

Kami tertawa bersama.

*

"Aku menceritakan banyak hal palsu padamu. Aku tidak bertemu pendeta, tidak mencuri salib, tidak memotong kepala, dan lain-lain. Aku juga bukan penjual diri. Itu kehendak nafsu birahi. Kehendak Tuhan tentu melalui aturan yang benar." Kata perempuan itu.

"Kau kira aku orang baik? Benar-benar orang baik? Bisa saja kau besok sudah terbangun di alam kematian karena aku membunuhmu." Kataku. Dan kami tertawa terbahak.

"Seandainya kita satu arah aku akan sangat senang bila bisa bersama dalam perjalanan panjangku. Aku ingin pergi ke tempat bersalju. Disana." Katanya sambil menunjuk arah yang dituju.

"Ya, aku juga senang bertemu perempuan sepertimu." Kataku.

*

"Tak pernah ada satupun kebahagiaan terlahir sebelum didahului oleh senyuman. Senyummu akan menemaniku dalam perjalananku. Itu sudah cukup." Kataku.

"Tanpa sesuatu yang berkesan dalam bentuk hadiah, ini akan menjadi suatu perjalanan yang tak cukup baik untuk dikenang. Berilah aku sesuatu untuk kukenang nanti." Katanya.

"Ini, ambilah pedangku. Untukmu. Kau seorang perempuan, bepergian tanpa pedang. Kenapa aku tidak?!" Kataku.

*

Kemudian keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan masing-masing.

*

Perempuan itu kemudian kembali dan banyak barang yang didapatnya. Diceritakan bahwa perempuan itu mendapatkan segala apa yang dibawanya dengan cara yang tak jahat. Entah mana yang benar. Sebab bisa saja cerita berubah tergantung bagaimana cerita itu disampaikan.

Aku menelusuri banyak jalur yang sebetulnya pernah dilalui perempuan itu. Aku melihat mayat tanpa kepala. Mungkin, perempuan itu memang membunuhi banyak orang. Mungkin saja ia juga hendak membunuhku dan merampokku. Entahlah.

*

Aku mendapat kesempatan bertemu lagi sebab nyatanya perempuan itu memang berbohong dan seperti hendak mengikutiku.

*

"Kau pembohong yang baik. Aku tertipu. Tapi aku yakin kau perempuan yang baik siapa pun dirimu." Kataku.

"Aku ingin mengembalikan pedangmu. Terima kasih sudah menyebutku orang baik." Kata perempuan itu.

"Bukan hanya baik. Kau juga cantik." Kataku.

*

Tamat.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post