PERADUAN 4

Aku tidur sebentar, dan tendangan telak di punggung membuatku tak jadi tidur. Perempuan itu sudah kembali sambil sedikit kesal dan marah.

*

"Dasar, lelaki payah. Kau diam saja melihat aku diculik. Bagaimana bila terjadi hal yang tidak-tidak?" Katanya pelan.

"Kau ini, kita ini sekarang adalah tokoh dalam cerita. Kau terlalu serius. Tanyakan saja pada penulis?" Kataku.

"Hey, penulis sinting! Kenapa kau tuliskan cerita perampok menculikku? Itu tidak seru!" Katanya perempuan itu berteriak.

"Aku asal ketik saja. Soalnya, kemarin itu ketika menulis itu buru-buru. Ada anak sekolah mau ngerjain tugas. Eh, hendak mengerjakan tugas sekolah. Dan aku mengalah. Jadi begitu penjelasannya." Kata penulis (si aku).

"Ya, terserah kau saja. Aku hanya tokoh di cerita. Jangan kau tulis cerita roman percintaanku dengan tokoh lelaki itu, ya?" Katanya lagi.

"Ya. Maklumlah ceritanya tiba-tiba ada perampok. Aku menulis di warnet. Kalau di laptop sendiri ya tentu tidak. Laptop darimana?" Kata penulis.

"Ya, jangan banyak bicara. lanjutkan saja ceritanya." Katanya lagi.

*

"Itulah sebabnya aku diam saja. Perampok itu semua mati sudah olehmu, bukan?" Kataku.

"Tidak, ceritanya tidak seperti itu." Kata perempuan itu.

"Cukup bicaramu! Aku tahu siapa kau sebenarnya?" Kataku.

"Bukan salahku. Aku tak terlibat peperangan dengan siapa pun. Jadi bukan salahku." Kata perempuan itu.

"Bagaimana bisa kau lakukan itu semua?" Kataku.

"Kampungku tak terlibat peperangan kalian. Lalu, ada serombongan prajurit terluka. Kepala suku membantu menolong mereka sampai pulih. Dan, datang musuh mereka. Kami dianggap sebagai musuh mereka pula. Siapa yang membantu musuh maka musuh dari musuhnya. Begitu, mereka bilang. Banyak dari kami menjadi korban. Aku salah satu dari yang selamat." Kata perempuan itu.

"Lalu dendammu kau bawa sampai dewasa. Kemudian kau berpura-pura diperkosa oleh prajurit tertentu, membangkitkan amarah, kebencian dan dendam. Kau membuat mereka saling membenci dan mendendam. Sepertimu yang pendendam." Kataku.

"Mereka semua pendatang. Aku lahir di tanahku sendiri dan sekarang aku tak memiliki sejengkal pun dari tanah yang seharusnya menjadi milikku. Nenek dari nenekku lahir di tanah ini. Dan, aku terlunta tak tahu apa yang pasti kumiliki." Katanya perempuan itu sambil berlinang air mata.

"Tak perlu menangis. Cukup, Cukup." Kataku.

*

"Aku memang datang ke tempat ini dengan satu tujuan. Menemukanmu dan membunuhmu." Kataku.

"Aku tak mudah untuk ditaklukan. Sepuluh pria kekar putus kepalanya tak perlu waktu lama. Apalagi, kau? Sendirian, kekar tidak, tidak bertenaga. Mungkin, sekelebat saja kau langsung tewas." Katanya.

"Aduh, kau ini. Bukan begitu. Aku akan membunuhmu itu maksudnya membunuh kebencian yang ada di dadamu, membunuh dendam kesumat di dadamu, membunuh sifat bengismu, nona! Aku tak pandai berkelahi! Bila kita berkelahi itu pertarungan yang sangat tidak adil!" Kataku.

"Oh, begitu. Pantas saja cara memegang pedangmu itu payah. Kau hanya membawanya saja dan tak pernah kau gunakan?" Katanya.

"Hanya untuk menguliti hewan buruan dan memotongnya untuk di bakar." Kataku.

"Lelaki sepertimu berjalan sendirian di tempat yang ganas dan kau tak pandai bermain pedang. Tapi kau masih bertahan. Salut." Katanya.

"Aku hanya beruntung." Kataku.

"Aku tumbuh dalam konflik berkepanjangan. Kupandang dunia bagai neraka saja. Hutan belantara penuh binatang buas. Kau takkan tahu singa itu binatang buas sampai ia hendak memangsamu. Kau takkan tahu ular berbisa mematikan itu sampai ia mematukmu. Dan, ketahuilah. Kau bukan binatang buas yang membahayakanku. Itulah, makanya kau masih bisa berdiri menuntun kudamu saat kudamu kelelahan. Aku mengawasimu bukan kau yang mengawasiku." Katanya perempuan itu.

"Terima kasih. Tapi bukan berarti nyawaku ada di tanganmu, nona. Allah membisikkan belas-kasih padamu untukku agar kau tak membunuhku. Aku punya kepala dan dikepalaku ada otak. Dan aku juga punya hati di dadaku. Kau. Kau juga. Kau juga masih punya hati. Nuranimu masih menyala, nona." Kataku.

"Perampok menjadi perampok sebab tak ada hewan ternak dan tak ada yang dapat ditanam. Tak ada uang. Tak ada pilihan. Penjahat dalam peperangan lebih buruk dari perampok yang jadi perampok karena perutnya lapar. Penjahat dalam peperangan merampok segala hal dan aku menjadi algojo bagi mereka. Sudah sejak lama." Katanya.

"Sudahilah semuanya dan gantilah cara pandangmu. Dunia itu luas. Bila kau memang hendak ke negeri bersalju maka pergilah kesana. Tinggalkan segala permasalahan masa lalu itu dan memulai hidup baru." Kataku.

"Denganmu?!" Katanya.

"Tidak juga. Kau cari saja lelaki lain." Kataku.

"Kalau aku ingin denganmu, bagaimana?" Katanya.

"Apakah aku ada pilihan lain? Hey, penulis!" Kataku.

"Terserah. Ini hanya cerita. Dan cerita ini terinspirasi dari pengalaman bermimpi." Kata penulis (si aku)

*

TAMAT

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post