Bagian I. Fazaha, SP Alternatif: Alfian (Pacar Pertamaku~!)

Begitu memasuki 1A, kelas pertamanya di SMP, Alfian langsung kesengsem pada seorang cewek. Ketika wali kelas membuka pemilihan ketua kelas, serta-merta Alfian mengacungkan tangan untuk menjadi calon. Ia terpilih menjadi ketua kelas dan dengan percaya diri mendekati cewek itu, hanya untuk mengetahui bahwa incarannya sudah menjadi pacar kakak kelas.

Alfian bersedih.

Tetapi, semangatnya pulih ketika bertemu dengan cewek menarik lainnya di kelas. Cewek itu tidak secantik cewek sebelumnya. Malah kulitnya gelap. Ia juga jarang tersenyum dan cukup pendiam.

Meski begitu, kadang selagi duduk di bangkunya cewek itu dirubungi anak-anak. Alfian yang penasaran bergabung bersama mereka. Ia takjub melihat cewek itu mampu menggambar persis seperti yang ada di manga-manga! Jauh lebih bagus daripada gambar Kak Iki! Apalagi gambarnya sendiri!

Banyak anak yang minta digambari potret diri dengan gaya manga oleh cewek itu. Selembar demi selembar kertas dari buku sketsa cewek itu pun dirobek untuk memuaskan mereka. Alfian termasuk salah seorang di antara mereka. Tentu saja di dunia manga, dalam coretan Fazaha, dirinya menjadi jauh lebih tampan!

Setelah keluar hasil foto bareng mereka sekelas di Jonas, cewek itu membuat versi gambarnya di kertas A3. Anak-anak semakin kagum. Sebagai ketua kelas, tentu saja Alfian mendukung agar gambar itu dipajang di dinding kelas—berdampingan dengan foto yang asli. Keduanya diberi bingkai berkaca.

Beberapa guru yang mengajar di kelas mereka kadang mengamat-amati gambar itu dan membandingkannya dengan yang asli. “Ini gambar siapa?” tanya mereka, dan anak-anak menunjuk Fazaha yang diam saja atau tersenyum canggung. Mendengar pujian para guru, malah Alfian yang merasa bangga.

Timbul niat di benak Alfian untuk menjadikan cewek yang pintar menggambar itu pacarnya. Kali ini jangan sampai ia kecolongan!

Maka pada suatu siang sepulang sekolah, Alfian menghampiri cewek itu dan mengajaknya “mengobrol”. Cewek-cewek yang duduk di sekitar Fazaha seolah-olah pada tahu maksud Alfian dan menggoda keduanya. Fazaha mengikuti saja kemauan Alfian untuk berbicara empat mata.

Alfian menyatakan niatnya.

“Kamu mau jadi pacar saya?”

Fazaha mengejapkan mata. Setelah menunduk diam beberapa lama, ia mengangguk dua kali.

Yes!” Alfian melontarkan tinju sampai badannya berputar dan kakinya menendang. “Kalau gitu, sekarang kita boleh pegangan tangan!”

“Heh?” Fazaha mengernyit.

Namun tangannya keburu digaet oleh Alfian. Anak-anak yang melihat keduanya sontak menyoraki.

 

Punya pacar menjadikan hari-hari Alfian di sekolah semakin riang. Setiap baru tiba di sekolah, begitu melihat Fazaha, Alfian melambai dan menyapanya keras-keras. Ia tidak peduli gadis itu menunduk malu. Bukan karena pada dasarnya gadis itu pemalu, tetapi menurutnya tingkah Alfian memalukan.

Ketika jam istirahat, Alfian mengajak Fazaha jajan bareng—dengan uang sendiri-sendiri. Kemudian mereka duduk berdua berdiam-diaman sambil menyantap jajanan masing-masing. Meski tidak ada kata yang terucap, tetapi Alfian menikmati kebersamaan mereka. Seperti kata lagu yang sedang populer dinyanyikan anak-anak di kelas, “More than words.”

Baru Alfian yang punya pacar di antara teman-teman dekatnya. Sudah mah ketua kelas, punya pacar beken pula!—setidaknya di kalangan anak-anak kelas 1A. Kurang keren apa, coba?

Setelah menghabiskan jajanannya, Alfian menjilati jemarinya yang berlumuran bumbu. Ia melihat Fazaha juga sudah selesai. Ia mengulurkan tangan ke arah Fazaha. “Yuk, balik ke kelas!”

Fazaha menyanggupi ajakan Alfian tanpa menyambut tangan cowok itu. Namun Alfian berkukuh menggandengnya. Fazaha melirik tangan mana yang Alfian pakai, kemudian cepat-cepat melepaskan diri dan mengelapkan tangannya ke rok.

“Fazaha mah malu-malu,” kata Alfian. “Kawaii neee …!”

 

Fazaha mulai menolak diajak Alfian jajan bareng saat jam istirahat. Alfian tidak memaksakan. Malah, ketika sedang ingin mesra, ia menemani Fazaha diam menggambar di kelas. Ia mengamati bahwa kadang Fazaha menggambar objek yang itu-itu saja: kepala seorang lelaki tampan bertatapan tajam, yang Alfian yakin itu dirinya.

Alfian menduga bahwa Fazaha tipe gadis yang tidak mudah mengungkapkan perasaan, karena itu menuangkannya lewat gambar.

Bukannya itu romantis?

Cewek-cewek yang duduk di sekitar Fazaha kembali dari jajan. Mereka juga memerhatikan yang sedang digambar Fazaha, yang dikira Alfian potret dirinya yang kesekian.

“Fazaha mah ngefans banget sama Li Saoran, ya?” komentar salah seorang di antara mereka.

Fazaha menanggapinya dengan senyum lebar. Jari-jarinya semakin lincah memberikan sentuhan terakhir pada rambut karakter dalam serial Cardcaptor Sakura itu.

“Itu aku kali,” Alfian mengoreksi.

Cewek-cewek menanggapi Alfian dengan seringai.

“Iya, kan, Zaha?” Alfian minta pembenaran.

Fazaha menatap Alfian dengan terkejut, seakan-akan tidak mendengarkan perkataan barusan saking puas mendapati hasil coretannya. “Kamu mau digambar?”

Alfian mengangguk-angguk diiringi senyum.

Fazaha membuat garis yang membentuk mangkok, kemudian menambahkan dua bulatan hitam kecil di atasnya, mangkok lain berukuran lebih besar menutup mangkok yang sebelumnya, kemudian garis-garis lengkung … dan memperlihatkan hasilnya kepada Alfian sembari cekikikan. Alfian terperangah. Cewek-cewek lain juga pada mengikik.

“Itu mah bukan aku. Itu orang-orangan sawah,” protes Alfian.

“Mirip kok,” yang lain membenarkan.

“Tapi kamu pernah gambar aku. Gambarnya enggak kayak gitu!”

“Itu versi digantengin. Kalau yang ini versi normal,” terang Fazaha.

Alfian menggeram dilatari tawa yang tidak bisa ditahan-tahan lagi dari cewek-cewek di sekitarnya.

 

Sepanjang sisa pelajaran Alfian menimbang-nimbang perlakuan Fazaha padanya. Betapa jahatnya gadis itu, tidak mengindahkan perasaannya yang bisa lembut sebagai seorang lelaki.

Tetapi, bukankah gadis itu tidak pandai menyampaikan perasaannya? Mungkin, dengan membuat gambarnya versi jelek, sebenarnya Fazaha tengah menekan perasaannya. Mungkin, sebenarnya Fazaha mengakui bahwa Alfian cowok tertampan di dunia—setidaknya, di hati—tetapi tidak mau mengakuinya. Mungkin, Fazaha itu … tipe cewek … tsundere?

Alfian mendapat pencerahan. Di tengah pelajaran, ia memalingkan kepalanya kepada Fazaha yang duduk di sayap seberang belakang kelas. Ia terpesona.

Ketika memandang lagi ke depan diiringi degup yang tidak menentu, Alfian berpikir bahwa sebaiknya ia juga memberi Fazaha perlakuan istimewa. Bukankah olok-olok itu justru tanda keakraban? Seperti dulu teman-teman Kak Iki senang meledek kakaknya itu dengan sebutan “koko-koko Cibadak”. Kini Alfian mengerti maksud Fazaha. Gadis itu tengah berusaha berakrab-akrab dengan dirinya. Alfian harus membalasnya. Betapapun pedas sikap Fazaha yang kerap menolak diajak jajan bareng lagi, gadis itu masih menghangatkan hatinya. Pedas dan hangat, seperti wedang jahe buatan Mama.

Alfian termenung. Fazaha. Zaha. Jahe.

Ah!

Lagi pula, sebagai pacar, bukankah mereka seharusnya punya panggilan kesayangan? Seperti Kak Iki memanggil pacarnya “Ocha”, padahal nama aslinya Rosalina. Sementara Teh Ocha memanggil Kak Iki “Kiki”, padahal semua orang menyebutnya Risky atau Iki.

“JAHE!” teriak Alfian ketika kelas bubar. “JAHE! FAZAHA! JAHE!”

Fazaha ditowel-towel temannya yang melihat bahwa sedari tadi Alfian berteriak-teriak ke arah gadis itu.

Mendapati Fazaha akhirnya menoleh ke arahnya, Alfian semakin bersemangat. Diteriakkannya dengan semringah, “JAHE-CHAAAN ….”

Fazaha dan temannya sama-sama mengerutkan kening dengan mulut setengah menganga.

Sejak itu, teriakan “JAHE-CHAN” mengisi hari-hari Fazaha sampai kupingnya pengang. Ketika Alfian meneriakkannya dari jauh, dan Fazaha mau tidak mau menoleh karena dicolek-colek temannya, cowok itu cepat-cepat bersembunyi. Ketika Fazaha tidak kunjung menengok, Alfian mendekatinya dengan diam-diam, kemudian meneriakkan panggilan itu tepat di kuping lalu kabur.

 

Ketika Papa membangunkannya sebelum subuh hari itu, Alfian menyadari bahwa Sabtu telah tiba. Itu artinya ia akan mendapati Kak Iki di kamar atas, sebab pada lima hari kerja kakaknya itu berada di Karawang. Sepulang dari subuh berjemaah bareng Papa di masjid, Alfian pulang dengan riang langsung menuju kamar Kak Iki di lantai dua. Ia menyalakan lampu kamar, mencopot sarung, kemudian memutar-mutarkannya ke atas seperti laso dan mencambukkannya pada Kak Iki.

“Kak Iki! Banguuun …! Udah subuh, tahu!”

Kak Iki menjawab dengan lenguhan sapi.

Alfian membuang sarung kemudian mengambil ancang-ancang. “This is smack ...” tepat ketika “down” ia membantingkan tubuhnya ke badan Kak Iki yang empuk, namun sasaran telah keburu bergulir merapat ke dinding. Alfian berguling kesakitan karena sikunya mengenai tepi ranjang kayu. Kak Iki duduk.

“Bangun!” teriak Alfian.

“Udah,” sahut Kak Iki.

Kak Iki diam sejenak sebelum turun dari tempat tidur. Begitu Kak Iki keluar dari kamar, Alfian memikirkan apa yang akan ia perbuat selanjutnya. Kemudian ia menyalakan mesin PlayStation di seberang tempat tidur Kak Iki.

Kak Iki sempat bergabung bersama Alfian sembari sesekali menyeruput kopi atau menjawil kuping adiknya itu secara sembunyi-sembunyi.

Setelah langit terang, Kak Iki meninggalkan permainan. Beberapa lama kemudian, ketika Kak Iki kembali ke kamar, aroma segar berharum sabun menyeruak. Alfian baru memerhatikan ketika Kak Iki tengah merapikan kumisnya di depan cermin. Pakaian Kak Iki telah berganti.

“Kak Iki mau ke mana?!”

“Mau ketemu Ou-cha.”

Kak Iki menggerak-gerakkan bibir seakan-akan tengah mengecek kerapian kumisnya.

“Aaah …. Kiki ganteng!” Alfian menempelkan kepalan tangannya pada pipi, mengira-ngira reaksi Teh Ocha ketika bertemu Kak Iki nanti.

Kak Iki terdiam menatap pantulan adiknya pada cermin. “Jangan gitu ah, Dek. Geli, tahu.” Lalu ia menyisir rambutnya ke belakang sekali lagi.

Setelah Kak Iki pergi, Alfian merenungi bahwa selama berpacaran dengan Fazaha—yang baru beberapa minggu—belum sekali pun mereka jalan bareng. Tentu saja jalan bareng dari kelas ke tempat jajan atau dari sekolah ke tempat menyetop angkot tidak termasuk.

Sekarang Alfian menyadari kegunaan memiliki nomor telepon Fazaha selain untuk menanyakan PR dan ulangan. Malah, sebetulnya Alfian baru memanfaatkan nomor itu ketika Mama menanyakan PR dan ulangan. Percakapan mereka di telepon pun tidak pernah lebih daripada tentang PR dan ulangan. Tentu saja pacaran itu semestinya lebih daripada sekadar membicarakan PR dan ulangan. Alfian mengangguk-angguk tanda memahami sementara memikirkan ini sembari bersedekap.

Alfian pun mengangkat gagang telepon dan memencet nomor rumah Fazaha.

“Halo?” sahut suara di seberang.

“Jahe, hari ini kamu di rumah?”

“Jahe?”

“Eh! Fazaha ada?”

Terdengar gagang telepon ditaruh, kemudian teriakan memanggil.

Tidak lama kemudian, muncul “halo” yang lain.

Alfian menyadari bahwa suara yang sebelumnya lebih nyaring dan cempreng. Ia mengulangi pertanyaannya tadi.

“Kenapa gitu?” tanya Fazaha.

“Main yuk.”

“Ke mana?”

Alfian berpikir. Yang jelas di tempat itu harus ada permainan Dance Dance Revolution. “Yogya Sunda?”

“Boleh.”

“Jam sepuluh, ya?”

“Oke.”

Telepon ditutup. Alfian berlari ke kamar Kak Iki dengan girang. Ia bersila di depan ransel kerja Kak Iki kemudian berburu lipatan uang kertas dan kepingan uang logam dari setiap kantongnya. Ia juga menjamah setiap pakaian Kak Iki yang tergantung di balik lemari, dan laci-laci …. Alfian menghitung perolehannya, yang sepertinya cukup untuk ongkos pergi-pulang naik angkot dan membeli koin.

 

Pada waktu yang ditentukan kedua anak itu bertemu di pelataran Yogya Sunda.

“Yang tadi terima telepon siapa?” tanya Alfian pada Fazaha ketika mereka menaiki eskalator.

“Kakak aku.”

“Oh. Kamu berapa bersaudara sih?”

“Dua.”

“Oh.”

Tahu-tahu Alfian tersipu.

Fazaha memerhatikan. “Kenapa?”

Jawab Alfian dengan malu-malu, “Aku senang kita punya kesamaan.”

“Kamu punya kakak juga?”

“Iya. Aku juga dua bersaudara lo. Tapi Kak Iki mah udah tua.”

“Oh.”

“Kak Iki 75, aku 90.”

Fazaha berpikir dan menyadari bahwa yang dimaksud Alfian bukan usia, melainkan tahun kelahiran. Sahutnya, “Kalau aku sama kakak aku sih cuma beda satu setengah tahun.”

“Oh, sama lagi atuh.”

“Sama apanya?” Lagi-lagi Fazaha mengerutkan kening.

“Kan kamu sama kakak kamu bedanya 1,5 tahun, kalau aku sama kakak aku 15 tahun. Jadi sama-sama ada angka 1 dan 5,” kata Alfian senang.

Fazaha menggaruk-garuk kepala.

 

Keduanya tiba di lantai atas gedung, tempat area permainan dan pujasera. Alfian meluncur ke tempat pembelian koin kemudian menuju mesin DDR. Fazaha mengikuti dengan lambat.

Dance Dance Revolution!” mesin itu bersuara kemudian mengalunkan musik pelan.

“Aku belum pernah main ini lo,” terang Fazaha.

“Masak sih? Ah, gampang da! Aku juga langsung bisa!”

Alfian mengeset mesin untuk dua pemain kemudian memilih avatar yang disukainya setelah Fazaha menjawab dengan “terserah”. Ia memilihkan level paling mudah untuk Fazaha.

Gadis itu mengikuti Alfian mencopot sepatu kemudian naik ke lantai mesin.

Alfian memencet-mencet tombol panah. “Kamu mau lagu apa?”

“Terserah.”

“Yang ini aja, ya!” Alfian menekan “Do It All Night”.

Fazaha termangu melihat tanda-tanda panah pada layar mulai bergerak ke atas lalu menghilang. Di sebelahnya Alfian meloncat-loncat lincah. Ia memainkan beberapa level di atas Fazaha.

“Diinjak, Jahe!” instruksi Alfian.

Dengan kagok Fazaha mencoba menginjak satu panah, dua panah …. Ia kesulitan menginjak pada waktu yang pas. Banyak langkah yang lewat tak terhitung.

Ia mendapat F sementara Alfian A.

“Enggak apa-apa, Jahe! Lama-lama bisa!” hibur Alfian setelah bersorak untuk dirinya sendiri. Kemudian ia memilih lagu berikutnya. Fazaha memulai lagu baru dengan enggan.

Tahu-tahu permainan berakhir sebelum lagu habis.

Berkali-kali.

Sampai Alfian mendesah karena koinnya terbuang percuma. “Kamu mah mainnya payah!”

Dengan itu, Fazaha bersukarela turun dari mesin sementara Alfian memulai permainan baru dengan satu pemain. Bukannya Alfian tidak menyadari kepergian Fazaha, tetapi ia membiarkan saja. Ia sudah telanjur melakukan pemanasan. Sempat ia menengok ke belakang dan mendapati Fazaha sedang berdiri di depan konter D’Crepes, namun permainan sudah keburu dimulai. Alfian kembali melonjak-lonjak dengan semangat.

Ia tidak mengalihkan pandangan dari layar bahkan ketika napasnya sudah ngos-ngosan dan badannya terasa panas.

Sekali lagi …!

Sampai ia menyadari bahwa uang di koceknya sudah pas-pasan untuk pulang naik angkot. Baru kepalanya berputar mencari-cari keberadaan Fazaha.

Jangan-jangan … gadis itu marah dan pulang duluan!?

Ganti keringat dingin yang mengaliri tengkuk sampai sekujur punggung Alfian.

Alfian melangkah ke area pujasera sembari celingukan.

Ah! Itu dia!

Fazaha duduk di meja paling pojok. Gumpalan bungkus crepe menggeletak di sebelah buku sketsanya yang terbentang lebar.

Alfian bungkuk memegangi lutut. Syukurlah ….

Ia menghampiri Fazaha dengan mengharu biru.

“Kamu enggak pulang,” kata Alfian yang sama sekali tidak mengubah sambutan kecut gadis itu.

Alfian memerhatikan coretan yang tengah dibuat Fazaha. Setelah berebut buku sketsa itu beberapa waktu, Alfian kembali mengalahkan Fazaha. Diperhatikannya gambar Fazaha dengan girang. Debaran jantungnya akibat beberapa lama bermain DDR ditambah ketakutan bahwa Fazaha menghilang tidak jadi mereda.

Memang yang digambar Fazaha bukan dirinya versi tampan (atau sebenarnya Li Saoran), melainkan aneka rupa orang-orangan sawah malah ada yang menyerupai setan dengan tanduk dan taring. Semuanya jelek, tetapi, “Kamu ngambek, tapi masih mikirin aku.” Alfian menutup buku sketsa itu dengan berseri-seri. Serta-merta Fazaha merebut benda itu dan memasukkannya ke tas.

Sejenak gadis itu tidak mau menatap Alfian. Tetapi, lalu, ia menjulurkan tangannya kepada cowok itu. “Ganti uang aku buat beli crepe tadi.”

Alfian menyengir. “Duit aku udah habis. Pulang aja yuk.”

Fazaha menggeram. Ia mendahului Alfian ke eskalator. Alfian menyusul dengan sepenuh harapan bergejolak dalam dada.

Di pelataran Yogya Sunda barulah Alfian menegur Fazaha lagi. “Kamu pulangnya naik apa?”

Kata Fazaha dengan menahan dongkol yang masih meletup-letup, “Aceh.” Suaranya seperti keluar dari tenggorokan yang tersumbat oleh amandel sebesar kedondong.

“Oh. Aku mah naik hijau muda,” sahut Alfian.

Beberapa langkah Fazaha menjauhi cowok itu, lalu bergeming dengan bersedekap dan memanyunkan bibir. Sejenak kemudian, secepat kilat, dirasakannya ada yang empuk dan hangat menubruk pipinya. Fazaha menoleh dengan kaget, namun Alfian sudah keburu lari ke arah Jalan Veteran.

Read previous post:  
Read next post:  
80

This is fun!
Jalan ceritanya ringan dan ngalir gitu aja, enak banget buat diikutin.
Alfian dengan segala kepositifan dan isi kepalanya yang always 'no clue' dan Fazaha dengan segala aksi diamnya ketika tidak menyukai sesuatu jadi kombinasi yang menarik.
Penasaran banget sama kelanjutannya.
Keep going. Ditunggu lanjutannya!

Love, xoxo

terima kasih! komenmu menceriakan hari saya :'D

80

sebenernya ga tahu harus komen apa ya?
jujur aja emang bukan ahlinya nilai cerita,
bagus, tapi ada kesan tentang pesan tersembunyi gitu tuh,
ahaha,

bagus aja ga bagus banget.

pesan tersembunyi apa?
eh, tapi makasih ya udah kasih jejak :D