PERADUAN 5

Ceritanya belum tamat.

*

Di perjalanan yang membosankan itu mereka berdua berusaha untuk tidak bosan. Sebelum sampai di ujung jalan menuju bibir samudera untuk pergi ke negeri bersalju mereka bertemu dengan harimau terluka. Bukan harimau yang sebenarnya.

*

"Berhenti. Ada harimau terluka. Kita harus menolongnya." Kata perempuan itu.

"Tidak baik, itu pura-pura saja. Disini itu banyak geng harimau yang pura-pura terluka dan setelah ditolong malah mencengkram dan memakan si penolongnya." Kataku.

"Lihatlah, kudanya juga terkapar. Kasihan." Kata perempuan itu.

"Baiklah, kita tolong." Kataku.

*

"Hey, harimau. kau sudah baikan?" Kata perempuan itu pada orang dengan gambar jaket harimau yang tadinya pingsan itu.

"Kudamu kenapa?" Kataku.

"Kakinya terluka terkena duri jalanan. (Maksudnya ban bocor terkena paku)." Kata si harimau.

"Kau sendirian atau teman-temanmu bersembunyi di semak-semak?" Kata perempuan itu.

"Aku sendirian. Teman-temanku meninggalkanku." Kata si harimau.

*

"Apa kubilang, orang ini benar-benar butuh pertolongan. Kau terlalu curiga padanya." Kata perempuan itu.

*

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan bersama-sama dan kuda perempuan itu kehausan. Untungnya, si harimau membawa sejerigen minuman kuda dan membantu si perempuan itu.

*

"Kudamu minumnya apa? Aku takut kudamu tak mau?" Kata si harimau.

"Asal jangan air sungai. Kudaku tak sama dengan kudamu tapi minumnya mungkin sama." Kata perempuan itu.

"Jeng-jeng-jeng! Pertamax!!" Kata si harimau.

"Aku bagi sedikit buat nambah." Kataku.

"Maaf, ini khusus untuknya saja. Kau tidak. Kau tidak mau menolongku, kan?" Kata si harimau.

*

Mereka berdua, si perempuan dan si harimau semakin lengket. Mereka mengobrol berdua. Berdua saja. Dan seorang dibiarkan sendirian tertinggal di belakang dengan kekesalan yang tak tertahan. Lalu, melaju kencang. Kemudian langsung diikuti kedua kuda lainnya selang beberapa detik dan mereka terlihat seperti sedang balapan.

*

Sampailah mereka di bibir pantai dan kuda mereka sudah tak lagi berguna. Mereka membutuhkan yang lain sebab kuda mereka akan tenggelam dan mati di air. Lalu mereka membuat keputusan untuk menjual kuda mereka pada si tukang perahu. Menggantinya dengan selembar kertas untuk menumpang dan beberapa uang untuk bekal di hari kemudian.

*

"Hey, penulis. Ini seperti cerita murahan yang tak satu pun akan senang membacanya!" Kata si harimau sambil tertawa.

"Dasar, harimau. kalau bukan karena aku menuliskan tentangmu itu. Cerita ini tidak akan ada. Kau itu kutulis begitu agar pembaca memahami bahwa menolong itu tak perlu takut salah orang. Entah di dunia nyata sana. Bisa jadi ada perampok pura-pura butuh pertolongan tapi setelah ditolong justru malah membuat si penolongnya butuh pertolongan." Kata si penulis (si aku).

"Nanti kelanjutan ceritanya bagaimana? Hey, hallo? Apakah kau mendengarku penulis?!" Kata si perempuan.

"Aku tak punya niatan melanjutkan ceritanya. Kau tokoh perempuan di cerita ini juga punya pilihan untuk mencintai. Kau bukan Siti Nurbaya. Terserah kau mau dengan si harimau atau dengan si dia itu. Cerita lanjutannya kalian lanjutkan sendiri. Aku mau buat cerita lain saja. Kalian benar-benar tokoh dalam cerita yang menyebalkan. Aku bingung mau menulis lanjutan cerita kalian. Nanti, ssalah satu dari lelaki itu akan marah padaku bila kutulis kau bersama salah satunya. Kau pilih sendiri saja, ya?" Kata si penulis (si aku).

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at PERADUAN 5 (14 weeks 6 days ago)

pedangnya itu maksudnya pedang betulan, yang ada di peraduan 4 itu, kan ceritanya di jalanan rimba raya.
biker-biker an, geng motor-geng motor an, ya gitu lah,
mimpinya beneran kuda, yang di peraduan 1 dan 2, ditambahin aja kan udah bilang cerita terinspirasi dari mimpi, jadi bukan lagi cerita mimpi.
gitu.