PERADUAN 7

Mereka bertiga sibuk asik bercanda sembari tak henti-hentinya bercengkerama. Di atas kapal laut itu mereka tiba-tiba dikagetkan oleh suatu kejadian yang tak asing. Ada yang tercebur rupanya.

*

"Wah, ada yang tercebur disana. Ayo kita lihat." Kata Alone.

"Buat apa?" Kata Noela.

"Buat kita tolong." Kata Alone.

"Emang bisa berenang?" Kata Elano.

"Nggak. Ayo kesana daripada diam saja." Kata Alone. Mereka bertiga beranjak dari duduk mereka kemudian.

*

"Wah, itu si Iwan. Tercebur dia." Kata Noela.

"Kamu kenal?" Kata Elano.

"Itu, dia itu tokoh dalam cerita 'Iwan Bukan Awan' yang penulis buat 11 tahun yang lalu. Lagi-lagi itu cerita yang absurd. Hehe." Kata Noela.

"Oh, iya. Banyak yang salah paham ya. Dulu itu si penulis sedang menunggu gerobak ibunya yang penjual nasi kuning di warung depan pabrik gita print. Memerhatikan awan . Lalu menulis prosa dan akhirnya dibikin cerpen. Disatukan gitu prosa dan cerpen. Dan bukan sedang bercerita tentang dirinya. Sebab ia bukan alkoholik. Pengangguran dia itu yang sesekali waktu menyempatkan diri membantu mendorong gerobak ibunya." Kata Alone.

"Ya, aku tahu cerita itu. Sebetulnya sudut pandangnya ketika melihat awan itu untuk pengibaratan saja sebagai kiasan bagi anak manusia yang terkadang jatuh dalam kemabukan yang fana. Mabuk cinta, patah hati, mabuk alkohol, mabuk laut, mabuk apa pun itu banyak macamnya itu namanya kemabukan yang jauh dari sifat awan itu sendiri tapi melihat gerak awan yang kesan-kemari terserah angin mengarak membawa ke segala penjuru angin itu bagi manusia adalah semacam kiasan dari ketidak-seimbangan pikiran dalam menghadapi permasalahannya." Kata Elano.

"Maksudnya?" Kata Noela.

"Bicaralah dengan jelas, Elano. Sudah bicara panjang lebar dan membuat bingung justru malah semakin membuat orang tidak mengerti maksud pembicaraan." Kata Alone.

"Ya, itu. Maksudnya itu. Kurang pendirian." Kata Elano.

"Awan tak bisa bicara. Itu tentu. Hanya saja dalam penuturan cerita digambarkan demikian. Silahkan tanya setiap orang yang merasa ada yang salah dalam kehidupannya dan merasa dijauhi padahal menutup diri. Intinya sebetulnya ada pada suatu pembukaan pikiran yang benar terhadap bagaimana seharusnya bersikap menghadapi seseorang yang sedang bermasalah agar permasalahan yang dihadapi cepat selesai. Tak berlarut-larut dan akhirnya menjadi masalah bersama sebab akhirnya menjadi semakin kacau pikiran dan terkadang menjadi semakin jauh dan sangat jauh dari apa yang seharusnya terjadi. Tak jarang orang-orang tak bersalah menjadi korban dari orang yang bermasalah. Ikut merasakan dampak buruk dari permasalahan orang lain yang tak kunjung selesai." Kata Noela.

"Ya, seperti tiba-tiba kena damprat. Banyak orang bermasalah meerusak orang tak bersalah." Kata Noela.

"Bilang saja salah sasaran." Kata Alone.

"Ya, tapi tak sebegitu juga. Ada maksud lain dari apa yang kukatakan." Kata Noela.

"Misalnya begini, ada anak siswi sekolah berhubungan asmara dengan siswa sekolah. Putus cinta atau patah hati. Bila permasalahan yang dihadapi terlalu ekstrim dan semakin larut dan dibiarkan larut. Efeknya bisa panjang dan sangat tak bisa ditebak. Bisa saja menghambat pelajaran sekolah, semakin menyendiri, orangtuanya ikut merasakan efek dari permasalahan anaknya itu. Ada juga yang menjadi terjerumus kasus penganiayaan, pembunuhan pun tak sedikit. Jadi masalah yang membadai. Istilahnya begitu. Membadai. Semua terkena dampaknya dan kerusakan massive pasti jadi ujungnya." Kata Elano.

"Gelegar petir itu juga bisa sebagai gambaran orang yang marah meledak-ledak. Menakutkan." Kata Noela.

"Pelukan. Itu sebagai tanda bagi kesanggupan merangkul setiap apa yang namanya disebut itu." Kata Alone.

"Maksudnya? Bicara saja tak jelas maksudnya. Perjelas, dong." Kata Elano.

"Pilihlah sikap positif. Setiap orang butuh pelukan. Dari orang tuanya. Dari temannya. Dari musuhnya sekalipun seandainya punya musuh. Memaafkan dalam pelukan persahabatan dan persaudaraan." Kata Noela.

"Kirain pelukan apa?" Kata Elano.

"Aneh juga bila ada banyak anak manusia terjebak sikap alienisasai eh alienisasi. Banyak orang merasa teralienisasi atau sengaja dialienisasi. Merasa sendiri dalam permasalahannya yang tak kunjung henti. Tak jarang berbuah depresi dan itu bukan sesuatu yang baik. Tak sama kekuatan batin seseorang dengan yang lain. Bila terjadi pada perempuan maka dampak buruk terkena depresi itu menjadi dua kali lipat." Kata Alone.

"Simpelnya begini, yang tadinya masalah pribadi berkembang menjadi masalah keluarga dan berkembang lagi menjadi masalah negara. Itu fakta. Banyak terjadi di belahan bumi manapun di negara manapun. Bisa menjadi masalah negara. Tawuran pelajar itu juga masalah negara. Masalah pendidikan berimbas pada masalah pekerjaan dan berimbas pada masalah kemiskinan. Kemiskinan moral dan kemiskinan pendapatan rumah tangga berdampak pada hal-hal yang lain juga. Banyak. Banyak hal." Kata Alone.

*

Tak terasa mereka malah asik mengobrol tentang orang yang tercebur itu. Bukannya menolong.

*

"Hey, penulis. Kami tak bisa berenang. Bila kami menolong orang tercebur tapi tak bisa berenang itu namanya bunuh diri. Kami ikut mendoakan walaupun sambil mengobrol." Kata Elano, Noela dan Alone.

*

Kapal bersandar di bibir pantai pulau biru dan mereka bertiga melihat si nelayan di pesisir pulau biru.

*

"Hey, nelayan pesisir pulau biru! Ajak kami menyelam malam hari!" Teriak Noela sambil melambaikan tangan pada nelayan pesisir pulau biru.

"Hah, kami?! Lu aja kaleeeeee!!" Kata Alone.

*

Tiba-tiba mereka bertiga didatangi seseorang.

*

"Hai, aku penyelam yang lupa bawa lampu saat menyelam dimalam hari. Yang bersama nelayan di pesisir pulau biru itu." Kata seseorang itu.

"Ya, pergi sana. Kami tak mau kenal. Buat apa kesini kamu?" Kata Noela.

"Eh, perempuan itu harus sopan. Jangan begitu." Kata Elano.

"Maaf, mas. Noela orangnya baik tapi suka tiba-tiba tidak baik. Kami tidak berniat menyelam disini. Kapal kami hanya transit sebentar. Jangan marah, mas. Noela itu tidak bermaksud buruk." Kata Alone.

"Ya, ya, ya. saya paham. Penulis ini agak-agak aneh. Hey, penulis!" Kata si penyelam.

"Ada apa penyelam?" Kata penulis (si aku).

"Sebaiknya berhenti sejenak menulis. Orang sudah banyak tahu bahwa kau tak bersalah. Kau tak bermaksud menghina siapa pun sebab memang tak ada kata hinaan. Suasana politik dalam negeri yang membuatnya begitu. Kau tak sama dengan mereka yang aktif didunia politik dan membuat puisi-puisi sindiran atau cerita-cerita sindiran pada lawan politik mereka. Kau, tak memiliki lawan politik manapun. Santai saja." Kata penyelam.

"Kita lihat nanti. Aku bukan orang sibuk. Banyak mendapat cibiran dan tetap saja menulis. Tapi bagaimana kedepannya, ya? Sepertinya memang lebih baik berhenti sejenak. Entahlah. Isu agama dan politik itu berbahaya. Membunuh akal dan kejam. Dan isi tulisanku tak ada satu pun mengenai itu. Ada kutipan ayat juga untuk keseharian. Jadi tema utama ya masalah keseharian yang dijalani manusia dengan pemikirannya dan suasana hatinya. Bukan tema agama apalagi politik." Kata penulis (si aku).

*

"Berhentilah sejenak, lupakan kami semua. Urus kehidupanmu dengan baik. Ekonomimu, keluargamu. Ini serius. Kau harus menikah dan mendapatkan kehidupan yang baik. Berhenti menulis sejenak. Lupakan kami sejenak." Kata seisi kapal laut bersamaan.

"Baiklah kalau begitu. Aku berhenti menulis sejenak." Kata penulis (si aku).

*

"Jangan ada pembaca yang menganggap ini tulisan orang aneh. Sebab lebih mendekati nyentrik." Kata penyelam.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post