MEMAHAMIKU

Dulu, belum zamannya internet. Ketika sudah mulai memasyarakat, usaha warnet  bertebaran. Pada waktu itu masih zamannya friendster, aku masih tidak tahu-menahu tentang dunia medsos, tidak tahu apa itu friendster, YM-an, dll. Waktu itu pernah mengantar Siti Nurjannah, dia tahu friendster dan YM-an, aku tidak. Aku hanya mengantar saja. Itu zaman sebelum facebook.

Kemudian beberapa tahun, eh, beberapa tahun kemudian, Indra Setiawan mengenalkan menulis di kemudian.com, dari situ belum tahu facebook, dan itu bukan yang ingin kuceritakan disini.

Dulu, aku suka bertanya-tanya sendiri tentang ap yang menjadi pertanyaan di benakku. Tentang apapun. Termasuk menyoal lambang kedokteran yang pernah kulihat. Itu tentu sebuah simbol. Tapi aku tidak bisa bertanya sebab tidak tahu harus bertanya pada siapa. Dulu, belum ada internet.

Kemudian ketika itu ku berdoa dalam diamku. "Ya, Allah. Ya, Tuhanku. Aku tidak mengerti gambar ini. Jelaskanlah padaku." Dan tentu saja tidak ada jawaban dari Tuhan. Sebab aku tahu, Tuhan bukan menjawab doa dengan suara-Nya.

Suatu hari aku bermimpi, tapi aku tak memahaminya. Mimpinya itu begini:

Aku berada di pinggiran hutan, di atas bukit. Mungkin seperti hutan Taman Nasional atau semacamnya. Disitu ada wahana kereta gantung. Ada penjaga disitu yang berpesan sebelum kunaik dan melintasi pemandangan hutan itu. Dia berpesan: "Jangan kau petik buah dari pohonnya. Jangan turun dari kereta gantung. Jangan turun ke bawah pohon."

"Aku naik kereta gantung. Ditengah hutan kumelihat buah yang belum pernah kulihat. Aku berhenti, ada tuas di dalam kereta gantung. Aku turun dan memetik buah pohon itu. Aku kembali ke kereta gantung. Aku lalu ingin makan buah itu lagi. Aku kembali ke pohon dan memetik beberapa buah. Aku penasaran melihat kebawah. Pohon ini begitu tinggi dan besar dan banyak akar-akar sulur di dahannya yang kokoh, begitu pikirku. Kuturun dan berayun bak tarsan dalam film kartun tarsan. Ku turun kedasar. Tiba-tiba da suar disemak-semak dan ada ular hitam sebesar pohon kelapa yang cukup besar untuk melahapku dengan mudah. Aku berlari dan melompat, berayun dan hampir jatuh. Kupanjat setahap berputar dan melingkar. Ular besar itu mengejar memutari pohon mengikutiku, melilit pohon saking panjangnya. Aku di pucuk pohon saat ular itu membuka mulutnya dan mau menerkam dan akupasrah memejamkan mata. Tapi kepala ular itu tak sampai kepadaku sebab tubuhnya terlilit sendiri dan memnjadikannya kesulitan melahapku. Aku kembali ke kereta gantung. dan penjaga kereta gantung itu tak kudapati lagi."

 

 

Aku tak memahaminya itu sebagai penjelasan Sebab itu juga mimpi yang harus dijelaskan. Aku bertanya pada beberapa orang untuk mencari tahu apa pendapat orang lain tentang mimpi itu. Ada beberapa orang yang kuanggap sakit jiwa sebab menganggap aku berbohong atau berpura-pura mimpi dan tidak ada manusia bisa bermimpi seperti itu atau tidak ada manusia bisa mengingat mimpi dan mimpi seperti itu bukan berisi sesuatu yang bermanfaat.

Kemudian setelah zamannya internet dan warnet ada dimana-mana aku mulai suka mencari informasi sendiri dari setiap pertanyaan apa pun, termasuk lambang kedokteran yang tak kumengerti itu. Kubuka wikipedia, lambang ular kedokteran. Staff of aesculapius, sebatang tongkat dan seekor ular melingkarinya. Caduceus, sebatang tongkat dengan dua ular melingkarinya dan sepasang sayap.

Diceritakan, konon Hipocrates itu bapak kedokteran jaman kuno, diceritakan jaman dulu itu orang sakit dibawa ke kuil penyembuhan dan disitu ada ular tak berbisa yang digunakan untuk ritual penyembuhan. Jadi, begitulah lambang ular berawal. Katanya data dari wikipedia.

Katanya dimulai tahun 1600-an menurut data dari Guustav Kusno, kompasiana.

Dan, masih belum paham dengan simbol ular itu saya walaupun sudah bermimpi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post