MEMAHAMIKUTAK

Perbudakan sudah ada sejak zaman kuno meliputi beberapa kebudayaan, kebangsaan dan agama. Perbudakan di Amerika Serikat itu legal sampai diambilnya Amandemen Konstitusi Amerika Serikat ke-13 tahun 1865. Peperangan Byzantium-Utsmaniyah dan peperangan Utsmaniyah di Eropa mengakibatkan pengambilan budak kristen dalam jumlah besar.

Di Eropa perbudakan menjadi hal umum. David P Forsythe mengatakan bahwa permulaan abad 19 itu tiga per empat dari seluruh orang itu hidup terjebak melawan keterikatan mereka dalam perbudakan.

Pada awalnya bangsa Afrika adalah bangsa yang berdaya ddengan potensi kekayaan alam yang melimpah. Kedatangan orang-orang dari Eropa menjaadi awal dari perbudakan itu. Dengan cara kolonialisme dan imperialisme, menjadi sesuatu yang mengarah pada perbudakan yang tersistematisasi. Pada awalnya adalah sebagai suatu hukuman bagi para pelaku kriminal dan menjadi harus melakukan apa pun yang dimau oleh tuannya. Lambat laun semua menjadi semacam sesuatu yang diskenariokan, bukan kriminal pun disebut kriminal dan dijadikan budak. Perbudakan semakin meningkat dan permintaan atas budak-budak dari afrika itu naik tajam.

Mereka membarter budak dengan barang dagangan lain. Mereka jadi memperjual belikan manusia. Entah sadar atau tidak, itu sudah benar-benar menyimpang dari perikemanusiaan.

Namun, perbudakan juga pernah menimpa bangsa kulit putih karena petikaian antara Inggris dan Irlandia pada abad 17; bangsa Irlandia mengalami perbudakan oleh Inggris. Raja James 2 menjual 30 ribu tahanan warga Irlandia ke Dunia Baru. Proklamasi 1625 mewajibkan para tahanan politik Irlandia dikirim ke seberang laut di Hindia Barat kepada para pemukim Inggris.

Pada pertengahan 1600-an budak Irlandia menjadi sumber terbesar perdagangan manusia oleh Inggris.

Ada yang disebut budak ''mulatto", campuran perempuan Irlandia dengan pria Afrika, harga lebih menguntungkan daripada mendatangkan budak dari Afrika. Status budak Irlandia dan budak Afrika ya tetap budak bagi keturunannya dan lahir dalam status budak dan menjadi budak dan bisa di-per-jual-belikan. Praktek tersebut berhenti pada tahun 1681. Persilangan budak dilarang.

Belanda pada masa penjajahan pun sama dengan kawan se-Eropanya yang lain. VOC tak hanya berdagang tapi juga bergenosida. Memiliki budak dan buruh upah murah dibawah rendah membuat VOC untung besar dan menjadi lahir fenomena Bangsawan Anyar alias OKB (orang kaya baru) di Batavia kala itu. Akhir abad 18 VOC bangkrut.

Inggris dan Perancis menghapus perbudakan pada tahun 1833 dan 1848.

Pada masa lampau Belanda pernah juga memperjualbelikan budak-budak dari wilayah Nusantara.

Jadi, yang diceritakan dalam kisah Musa dan Fir'aun di Alquran itu menjadi sesuatu yang bukan menceritakan tentang kisah perbudakan pada masa Nabi Musa saja. Zaman Nabi Musa itu entah tahun kapan di masa sebelum Masehi dan di abad modern sejarah mencatat fenomena perbudakan itu ada dan berlangsung lama. Semoga di masa depan tidak ada.

Bagaimana peran agama memengaruhi kondisi zaman kala perbudakan itu terjadi?

KUTAKMEMAHAMI.

Ini bukan cerpen, kutipan dari berbagai sumber yang kurangkum dan kutulis disini.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post