Slice Of Life

Potongan kehidupan atau penggalan kehidupan (slice of life) menggambarkan penampilan pengalaman sehari-hari dalam seni dan hiburan. Dalam teater istilah ini merujuk pada naturalisme. Sementara dalam bahasa sastra mengarah pada teknik naratif yang urutan peristiwanya tampaknya berpengaruh dalam kehidupan karakter yang disajikan, sering kali kurangnya ada pada alur, konflik dan eksposisi dan memiliki akhir yang terbuka.

Slice of life dalam anime dan manga (animasi dan komik jepang) lebih dekat pada melodrama dibandingkan drama.

Begitulah sepotong kehidupan yang terbingkai dalam kesatuan imajinasi dituliskan. Seperti sebuah foto yang berisi gambar sepotong waktu saat seseorang atau banyak orang ingin mengabadikannya dalam gambar. Mengambil sudut jepretan dari sudut atas dengan kemajuan teknologi saat ini menghasilkan gambar yang tak ada di zaman lampau saat teknologi benda terbang mini semacam drone belum ada. Imajinasi memungkinkan manusia menyentuh batasan lain yang tadinya dianggap tak mungkin, entah karena sesuatu yang tabu atau karena belum sampai ilmu.

Membuat puisi dari melihat sebuah foto masa lalu atau lukisan masa lalu bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dan mengasah kreasi penulis dalam menggambarkan apa yang dilihatnya ke sebentuk tulisan.

Slice of life di masa purba pun ada dalam gambar di dinding gua peninggalan manusia purba yang hendak menyampaikan cerita. Mungkin itu terjadi saat manusia belum mengenal aksara.

Lalu, kini, setiap kepingan waktu yang tertangkap oleh kamera menjadi sesuatu yang sama nilainya dengan kenangan dalam bentuk lain. Sama nilainya dengan lukisan bahkan bisa melebihinya.

Dalam area konflik tak sedikit potongan hidup itu tersimpan dalam gambar si pengambil gambar. Foto-foto korban kelaparan di Afrika juga bercerita tentang hal itu, bercerita bukan dengan kata-kata tetapi dengan gambar. Dan, walaupun sebetulnya gambar dan kata-kata di media informasi sekarang gabungan keduanya, tak banyak yang menyajikan informasi dengan tuturan cerita yang tak lazim atau di luar kebiasaannya di sajikan.

Menulis itu juga dalam cerpen atau novel atau puisi bisa untuk mengetengahkan kejadian dalam bentuk tulisan sesuka-sukanya yang menulis dan tak pasti akan bagaimana, seperti yang kutulis juga terlalu banyak kekurangannya sebab tak punya basic penulis.

Aku menulis bukan untuk menyindir seseorang atau banyak orang yang mungkin tak sengaja tersindir dan saling memengaruhi dan menjadi meyakini bahwa aku menulis untuk menyindir atau menghina atau mengkritik. Padahal tidak begitu.

Setiap potongan kehidupan selalu harus ada penceritaan tentang suatu kesedihan dan suatu kebahagiaan di dalam penceritaannya dan juga ada tawa. Bukan tawa sebab menghina atau merendahkan namun tawa dalam pengertian perasaan senang yang positif. Cerita yang membuat tawa tapi bukan menertawakan. Bukankah itu sulit. Apalagi untukku yang tak memiliki bakat dalam menulis.

Ini juga jadi sesuatu yang mengganjal buatku kala ada sebagian orang yang menyalah-artikan apa yang kutulis sebagai sesuatu yang lain yang bernilai negatif seumpama propaganda. Itu sangat menggelikan buatku.

Aku cukup sedih dan aku tertawa dalam sedihku.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post